[ARTIKEL] CERITA TENTANG JONO (edisi BEJO DAN KEBEJOANNYA JILID 2)

9.10.13

Aku punya cerita lagi. Kali ini tentang Jono. Seperti Bejo [baca cerita Bejo di sini], Jono pun hanya seorang pemuda biasa. Yuk, baca ceritanya.

CERITA TENTANG JONO
Jono hanyalah manusia biasa yang ingin hidup serba nyaman. Punya rumah yang bagus, duit yang banyak, bisa jalan-jalan setiap saat, dan kenikmatan-kenikmatan dunia lainnya.

Tapi, ternyata kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Jono hanyalah pemuda desa yang tinggal di kampung. Dia anak tunggal.  Orang tuanya hanya petani yang penghasilannya hanya mengandalkan hasil sawah orang lain. Ayahnya sehari-hari bekerja di sawah orang lain, membantu membajak, menanam, mencangkul, dan segala kegiatan persawahan lainnya. Sedangkan ibunya, sesekali pun menjadi seorang pekerja sawah seperti suaminya. Menanam padi, mengangkut beras, dan hal-hal lain yang masih bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Dia kadang juga berjualan di pasar untuk bantu-bantu suaminya agar dapurnya tetap mengepul.

Apa yang bisa diharapkan dari kedua orang tua Jono, selain kasih sayang? Tak ada. Jono tumbuh menjadi pemuda yang biasa-biasa saja. Dia kadang iri melihat teman-temannya punya sepeda motor baru, punya tas baru, sepatu baru, baju-baju yang selalu baru, dan uang jajan yang sering kali tak pernah habis. Hari-hari Jono dipenuhi oleh rutinitas membantu orang tuanya. Kadang di sawah, kadang berjualan di pasar.

Jono hanyalah pemuda biasa yang tidak terlalu pintar. Dia lulus SMP dengan nilai biasa-biasa saja. Lalu masuk ke STM, mengambil jurusan teknik mesin. Dan dia masih biasa-biasa saja. Selulusnya dari STM, dia tidak melanjutkan kuliah karena tak ada biaya.

Dia lalu merantau ke ibu kota. Mencari-cari kerja ke sana ke mari. Ternyata susah. Berbekal ijasah SMA dia hanya bisa jadi kuli pabrik. Bekerja siang malam tanpa henti, di dekat mesin. Orang-orang di kampungnya menganggap Jono sudah sukses. Bisa kerja di ibu kota. Setiap bulan mengirimi ibunya uang. Tak tahu saja mereka bagaimana kehidupan Jono di kota. Banting tulang tiap malam karena lembur.

Lebaran tahun pertama, Jono masih sempat pulang ke rumah.
Lebaran tahun kedua, Jono masih pulang ke rumah.

Di tahun ketiga, dia harus di PHK oleh perusahaannya yang mendadak mengurangi jumlah karyawan. Dia pun pindah kerja. Cari lagi. Cari lagi. Dapat. Cari lagi.

Lebaran tahun ketiga, Jono tak pulang.
Tahun keempat, Jono tak pulang.
Tahun kelima, Jono tak pulang.

Orang tuanya mulai menanyakan. Tapi dia bilang, dia baik-baik saja.
Tahun keenam, dia ditelpon oleh sahabatnya.
“Lebaran pulang?” Jono menjawab. “Tidak. Tak punya uang.”
Merasa iba dengan nasib Jono, temannya itu meminjaminya uang. Lalu Jono dipaksa pulang. Pulanglah ia ke rumah ibunya di kampung.

Jono disambung dengan gembira. Semua tetangga kumpul. Menyambut Jono ‘yang sukses di kota’.
Jono pun gembira. Merasakan kehangatan keluarganya yang sudah lama tak ia dapatkan.

Ternyata ibunya selama ini sering sakit-sakitan. Sering memimpikan Jono. Kepulangan Jono bahkan seperti obat. Obat untuk kerinduan seorang ibunya selama ini.

Jono tetap kembali ke kota.

Dua bulan setelahnya, dia kembali lagi ke kampung.

Ia ingin menemani ibunya saja. Menemani walaupun harus bekerja di sawah, atau di mana saja. Ia tak perlu malu mengakui, bahwa dia memang masih hidup susah di kota. Kepada ibunya ia bercerita. Ibunya maklum dan justru gembira karena Jono kembali ke pangkuannya.

Jono kini tetap hidup di desa.
[selesai]

Salam ndongeng
W I G N Y A
@wignyawirasana 

You Might Also Like

2 comments

  1. cukup meluluhkan hati juga ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkunjung

      Salam Romantis,
      @wignyaharsono

      Hapus