[DONGENG] KEPADA JARAK KITA YANG SEMILYAR TAHUN CAHAYA



BARUNA. Pekanbaru, Januari 2011
Lelaki itu hanya mematung memandangi riak-riak kecil di lautan luas dari atas rig. Sepertinya hanya itu yang bisa mengobati rasa kesepiannya di tempat ini, di mana batas antara langit dan laut hanya segaris pandang. Di mana 95% orang di tempat ini adalah laki-laki, kecuali kepala dapur dan bagian administrasi yang sudah bersuami. Ia tak mungkin bercinta dengan lelaki-lelaki itu, kecuali ia sudah gila. Dan pilihan untuk menyendiri di pinggiran rig ataupun di kamar bersama berpuluh-puluh tisu adalah suatu kewajaran. 
Tak ada yang lebih baik, kecuali menyendiri seperti ini di tengah lautan dan sesekali memejamkan mata dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Rasa sesak karena kangen pada gadis yang telah menjadi tunangannya membuncah sampai ke ubun-ubun. Kapan harus bertemu? Nanti, enam bulan lagi mungkin atau lebih. Setelah semua pendidikan di tengah rig ini selesai dan dia terlebih dahulu dilempar ke AbuDhabi untuk tiga bulan lamanya.
Baruna hanya punya satu cara untuk berkomunikasi dengan Nagita, lewat internet. Itupun harus ia lakukan seminggu sekali. Astaga, pendidikan ini sejujurnya membuatnya muak. Ia ingin segera kembali ke Jakarta, bertemu dengan Nagita.
Lalu, ujian sebagai sepasang kekasih yang dipisahkan oleh waktu, jarak, tempat hanyalah satu: kesetiaan.
Perputaran waktu yang bisa menjawab semua ini. Terkadang pilu yang ia rasakan, karena jauh dari sang pujaan hati. Dan hanya satu yang ia bisa katakan padanya, kesetiaan saja. Tak perlu berkutbah tentang cinta dan tetek bengek lainnya. Ia hanya bisa berjanji untuk setia. Itu saja. Walaupun ia sendiri tak tahu, apakah dia juga melakukan hal yang sama.
# # #
NAGITA. Jakarta, Juni 2012
Awalnya ia mengira menjadi seorang bankir yang menganalisis keuangan dan tetek bengek lainnya bakalan keren. Setidaknya itulah yang ia pikirkan saat ia memutuskan selesai kuliah harus bekerja sebagai seorang bankir. Tapi nyatanya, dia tak lebih seorang kacung yang harus bekerja mati-matian mengejar target yang agak gila. Mungkin atasannya sedikit tidak peduli, atau memang dia dituntut untuk berperforma seperti ini. Gila saja, target 1.5 milyar satu bulan untuk kredit gabungan di perusahaan bukan hal mudah. Tapi, apalah arti keluhan jika kita tetap memilih untuk mengerjakannya.
Dan akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk bersantai ria di coffee shop favoritnya. Menikmati double espresso tanpa gula, laptop, film, headset, dan koneksi internet yang lumayan cepat. Belum lagi dia bisa bertatap muka dengan Baruna tunangannya via Skype.
Ah, Baruna. Beruntung sekali Nagita bisa memiliki tunangan seperti dia.
Baruna adalah lulusan terbaik di jurusannya, bahkan di universitasnya dengan index prestasi kumulatif yang nyaris sempurna, 3.97. Gila, terbuat dari apa otaknya itu. Dia tidak pernah sedikitpun menyentuh rokok dan alkohol. Tipe cowok yang tidak neko-neko. Belum lagi hobi bermain sepakbolanya yang membuat tubuhnya tak usah diragukan lagi ketangguhannya. Dia nyaris sempurna untuk ukuran lelaki yang keluar dari universitas dan masuk dunia kerja. Semua itu ditambah dengan status pekerjaannya kini: Engineering Analyst di salah satu perusahaan minyak terbaik dunia.
Siapa yang tidak jatuh cinta dengannya? Semua wanita pasti akan klepek-klepek jika berdekatan dengannya.
Lantas, apalagi yang dicari dari lelaki seperti itu? Selain hanya bisa tetap setia sampai detik ini.
Nagita beruntung memilikinya. Mereka berpacaran sejak semester empat. Dan kini hampir lima tahun lamanya. Lima tahun yang penuh dengan rasa: manis, asam, asin, kecut. Lima tahun yang berujung pada suatu malam, Baruna mengajaknya bertunangan sebelum bertugas ke Pekanbaru.
Namun, jauh darinya, apalagi setelah hari-hari yang mereka alami di kuliah bersama-sama, terasa berat. Meskipun setiap akhir pekan selalu berchatting ria, tetap saja rasanya beda. Nagita merasa, lama-lama dia bukannya semakin kangen, namun justru seperti rasa bosan.
Tapi, begitulah kata orang, jika sudah terlalu lama bersama, lalu sudah tahu segala hal tentangnya, yang dibutuhkan hanya dua: bagaimana mempertahankannya dan setia. That’s why ada istilah namanya cinta sejati. Dan itu juga mengapa, ada kisah Habibie dan Ainun.
Nagita menarik nafas. Coffee Shop sudah cukup sepi. Jam sudah menunjuk angka sepuluh. Artinya dia sudah hampir tiga jam di tempat ini. Lebih baik pulang, pikirnya. Dia membereskan barang-barangnya. Masih ada satu teguk kopinya, ia teguk perlahan.
Lantas, apa jadinya jika tiba-tiba ada seorang lelaki menghampirinya? Dan mengajaknya berkenalan.
# # #
LANDUNG. Jakarta, Juni 2012
Anjing. Keparat tuh orang. Landung mengumpat kecil. Dia menghapus ujung bibirnya yang masih ada sisa darah. Rasa perih di ujung bibir itu tak lebih sakit dari rasa perih ditipu orang, dan itu sahabat sendiri.
Keparat, Leo. Keparat. Saking percayanya pada sahabatnya itu, dia memberikan setengah dari tabungannya kepada Leo untuk alasan investasi. Awalnya dia tak curiga sedikitpun. Namun, setelah beberapa kali Leo tak bisa dihubungi, dia baru sadar kalo dia telah ditipu. Dan itu oleh sahabatnya sendiri.
Shit. Apa yang harus ia katakan pada ayahnya. Berarti dia harus menuruti tawaran ayahnya untuk mengurusi perkebunan teh di Bandung. Shit. Apa enaknya hidup di tengah perkebunan seperti itu. Lebih baik dia di Jakarta, bekerja sebagai pegawai...yah...apapun itu, staf atau kacung, atau apalah namanya, lalu dia bisa bermain trading sesuka hati, atau bisnis, atau apapun. Yang jelas tidak hidup di tengah hamparan hijau perkebunan teh warisan kakeknya. Apa enaknya.
Landung menendang kaleng cola yang ia buang, ia mengejarnya, lalu menginjaknya. Kaleng itu ringsek seketika. Landung benar-benar kesal.
Satu-satunya hal yang bisa membuatnya membaik adalah ADRENALINE, coffee shop favoritnya di kawasan Senopati. Sudah hampir jam sepuluh malam, berarti masih ada sisa waktu satu jam untuk menikmati kopi di sana.
Landung menyeret tubuhnya ke Adrenaline, setelah memesan double espresso, dia meminta kepada pelayan untuk mengantarkan kopinya ke Smooking Room di lantai 2. Landung mengambil rokoknya, memutar-mutarnya di jari sembari menaiki tangga.
Dan tahukah kalian, apa yang bisa membuat lelaki dewasa seperti Landung tiba-tiba menjadi tidak kesal setelah kehilangan setengah dari uang tabungannya: Wanita Cantik.
Landung mematung di ujung tangga, matanya terpaku pada seorang wanita yang tengah beres-beres. Wanita itu berambut lurus hitam sebahu, berkulit putih, dan bertubuh langsing. Tipe wanita-wanita kantoran, yang mungkin sedikit galak. Pikir Landung. Dari semua hal tentang wanita itu, yang paling menarik adalah matanya. Mata gadis itu sungguh membuatnya terpesona.
Dan hal gila yang Landung lakukan adalah mengajaknya berkenalan.
Oke, baiklah, ini mungkin sedikit gila. Tapi, Landung memang gila. Dia tipe lelaki yang tidak ambil pusing, atau mungkin dia memang tidak pernah berpikir tentang tindakannya.
Jelas saja wanita itu menolak. Didatangi lelaki berjeans butut, sandal jepit warna hijau, rambut awut-awutan, dan rokok di mulutnya, siapa yang tidak takut.
“Nama gue, Landung. Siapa nama lo?” Bukan cara berkenalan yang baik. Tapi bagi play boy seperti Landung, hal ini bukan masalah. Dia bisa memutar-mutar perkataan hingga membuat semua wanita yang ia ajak kenalan menjadi terpesona.
Tapi tidak setelah dia kehilangan setengah tabungannya.
Dan tidak juga untuk wanita ini.
Wanita itu hanya diam. Dan sungguh wahai pria-pria di dunia, wanita tak suka dipaksa. Jangan pernah memaksa wanita, apalagi saat malam pertama. Tapi Landung justru malah memaksa. Jadi...
Wanita itu pergi. Dan Landung mengejarnya sampai ke tempat parkiran.
“Dengar ya Tuan, saya akan beritahukan nama saya jika nanti kita bertemu lagi untuk kedua kalinya. Jika tidak, jangan harap saya memberitahu sekarang.”
Shit, jual mahal. Pikir Landung. Digoyang dikit juga pasti ketagihan, Landung tertawa keras sambil masuk kembali ke Adrenaline.
# # #
NAGITA. Jakarta, Juni 2012
Cowok gila.
# # #
NAGITA. Bandung, Februai 2013
Bank gila. Bukannya memberikan ijin cuti, malah diminta untuk training di Bandung dua minggu. DUA MINGGU. Meskipun trainingnya di hotel supermewah dengan fasilitas yang oke punya, tapi mengobarkan liburan-liburan setelah proyek yang ia kerjakan sukses adalah penyiksaan. Dia butuh istirahat, bukan training. Tapi tak ada alasan menolak keputusan Si Moreno, atasannya, kecuali dia sudah tidak betah untuk kerja di Bank itu. Huft. Hidup memang sebuah pilihan.
Dan di sinilah dia, penginapan super mewah di kawasan Lembang bersama 5 temannya. Mengikuti training tentang keuangan negara dan kredit gabungan yang diadakan oleh induk bank tempatnya bekerja yang ada di Singapura. Seminggu training, Nagita seperti wanita gila. Dia benar-benar tidak konsen. Untung di akhir pekan, dia dan rekan-rekannya mendapatkan liburan sehari. Terserah mau ngapain.
“Gue mau jalan-jalan ke perkebunan. Atau apa kek. Yang jelas gue muak ketemu dengan bos-bos kita.” Yang lain mengamini dan setuju dengan Nagita.
Nagita sebenarnya tidak pernah percaya dengan yang namanya kebetulan. Baginya tidak ada kebetulan di dunia ini, semua pasti sudah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa. Bahkan saat masih di dunia sebelum rahim berada.
Tapi, bertemu dengan lelaki yang...astaga...sepertinya dia pernah bertemu dengannya.
Di perkebunan itu, dia melihatnya.
Dia yang...lain...
# # #
LANDUNG. Bandung, Februai 2013
“Apakah ini jodoh?” Landung memicingkan matanya. Dia masih mengingat mata itu. Mata wanita paling indah yang pernah ia temui.
Landung mengulurkan tangannya. “Landung. Nama gue Landung. Dan lo pernah berjanji akan memberi tahu nama lo, kalo kita bertemu lagi. Masih ingat gue kan?”
# # #
NAGITA. Bandung, Februari 2013
Masih ingat gue, kan?
Bagaimana dia bisa lupa, lelaki gila  yang pernah ia temui di Adrenaline waktu itu. Tapi mengapa dia masih mengingat wajah itu? Mengapa? Kecuali ada yang menarik dari dirinya.
Oh, iya. Dia memiliki alis mata yang...ehm...berbeda. Tebal dan menukik ke atas. Iya, Nagita mengingat alis mata itu. Tapi dari semua orang yang pernah ia temui, mengapa lelaki di depannya ini yang harus ia ingat.
“Gue Nagita.,” ucap Nagita tanpa menghiraukan uluran tangan Landung.
Landung hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Bisa bertemu di tempat ini?”” ujar Landung.
“Lo sedikit lain. Lebih...rapi dan santun.” Nagita memicingkan matanya. Lelaki di depannya kini memang sedikit berbeda. Lebih rapi dengan stelan celana chino warna biru muda dan Polo Shirt warna putih. Wajah Landung juga terlihat lebih bersih. Mungkin karena habis bercukur. Dan berjarak hanya satu meter darinya, membuat Nagita jelas bisa melihat dadanya yang bidang. Pasti akan menyenangkan ada dipelukan cowok ini. Astaga, apa yang ia pikirkan.
Landung tertawa kecil.
“Mengapa kita bisa bertemu di tempat ini?” tanya Nagita.
“Gue yang ngelola perkebunan ini.”
Nagita memicingkan mata kembali. Lelaki di depannya ini yang mengelola perkebunan ini?
“Sedikit terpaksa awalnya. Itu semua karena ayah yang nyuruh.”
“Aku nggak percaya kamu yang mengelola.”
“Aku? Kamu?”
Nagita tersentak. Mengapa jadi sok akrab gini dengan lelaki di depannya ini.
“Lo nggak usah GR. Gue hanya...gue hanya...mencoba...ah lupakan,” Nagita gelagapan. “Gue harus pergi.” Nagita mencoba berjalan, tapi Landung mencegahnya dengan kedua tangannya yang merentang. Dan jarak mereka kini benar-benar dekat. Nagita bisa dengan jelas mencium parfum lelaki itu. Dan dia juga bisa dengan jelas melihat setiap lekuk di wajahnya. Jantung Nagita mendadak berhenti.
“Apa-apaan ini. Gue mau pergi,” Nagita mencoba berpura-pura memberontak. Mengapa jadi deg-degan seperti ini?
“Gue boleh minta nomer telpon lo?” tanya Landung.
Nagita menggeleng cepat. “Tidak. Kecuali kita bertemu lagi untuk ketiga kalinya.”
“Kalaupun kita bertemu untuk ketiga kalinya, berarti kita benar-benar berjodoh.” Landung terkekeh.
Nagita menatap lelaki di depannya tajam.
# # #
BARUNA. Jakarta, Juni 2013
Apapun akan ia lakukan untuk wanita pujaannya. Termasuk meminta ijin cuti kepada atasannya yang super galak, padahal proyek di rig sedang gila-gilanya. Semua orang memeras otak siang malam. Belum lagi masalah kebakaran di rig dua yang terjadi beberapa waktu lalu dan membuat atasannya mendadak menjadi singa lapar. Untung itu bukan tanggung jawab Baruna, dan dia hanya sebagai tim penyokong. Tapi, alih-alih ikut membereskan, dia malah meminta ijin cuti.
Itu semua ia lakukan untuk Nagita. Astaga, cinta memang kadang membuat orang berpikir gila.
Nagita memintanya untuk pulang ke Jakarta karena Silvi, sahabatnya, akan melangsungkan pernikahan. Nagita jelas memaksa Baruna untuk pulang.
“Kamu tega membiarkan aku pergi ke nikahan Silvi sendirian, lalu ditanya-tanya calon suami?”
“Lagian kamu nggak pernah pulang sekarang. Nggak tahu apa aku kangen.”
Kalimat pamungkas dari Nagita membuatnya tak tega juga.
Memang benar kata orang, pernikahan Silvi adalah ajang untuk pamer. Ataukah memang ke nikahan orang adalah ajang untuk menyudutkan orang yang belum menikah. Kasian sekali yang memang belum menikah, atau yang benar-benar belum punya pasangan. Paling enggak enak memang saat ditanya: kapan nyusul menikah? Shit.
Beberapa teman Nagita datang membawa gandengan masing-masing dan dengan pamer masing-masing. Si A sudah menikah dan punya anak 5, si B kerja di perusahaan multiinternasional dengan gaji segambreng dan sekarang sudah jadi manajer, si C punya mobil 10. Belum lagi gosip-gosip, ih si itu ganteng tapi belum nikah, si itu cantik tapi kok pacarnya jelek. Shit, dosa-dosa berterbangan di atas kesucian nikah orang. Tapi mungkin, kalo kita yang punya pasangan oke, gaji oke, mobil oke, kita juga akan seperti itu.  
Tak dinyana-nyana, Baruna juga bertemu dengan teman-temannya. Kalau kata orang, dunia itu sempit, itu memang benar. Dia bertemu orang-orang yang tak diduga. Baru mengenalkan mereka pada Nagita, calon istrinya.
“Oh iya Git, kenalkan ini temanku waktu SMA di Bandung. Namanya Landung.”
# # #
LANDUNG. Jakarta, Juni 2013
“Masih ingat kata-kataku waktu di Bandung kemarin? Jika kita bertemu untuk ketiga kalinya, kita berarti jodoh.”
Perkataan Landung menghantam dinding hati Nagita. Semua orang sedang sibuk berfoto dan mengobrol. Baruna sedang mengobrol dengan temannya. Dan Landung memanfaatkan itu untuk mengajak ngobrol Nagita di halaman belakang.
Nagita tak menjawab. Dia diam. Bahkan saat Landung menyentuh tangannya, lalu menariknya kepelukannya. Nagita hanya diam, bahkan ketika bibir Landung mencium bibirnya.
# # #
NAGITA. Jakarta, Agustus 2013
Baruna jauh, itu faktanya. Dan sebagai wanita dia memang butuh perhatian, namun Baruna tidak bisa memberikannya. Waktu enam tahun bukan waktu yang sebentar. Rasa bosan membuatnya menerima semua bentuk perhatian Landung. Ya, Landung selalu ada.
Dan bersama Landung, Nagita menemukan dunia yang lain. Dunia yang selalu ceria. Landung bertolak belakang dengan Baruna. Landung urakan dan cuek. Namun, di dekatnya Nagita bisa menjadi sangat bahagia.
Ataukah ini karena dia sudah bosan dengan Baruna? Atau karena, jarak yang memisahkan mereka. Jarak yang semilyar tahun cahaya. Sementara Landunglah yang selalu dekat dengannya.
Mengajaknya makan, bukan hanya mengingatkan. Menjemputnya, bukan hanya menasehati agar hati-hati di jalan.
Dan jika di akhir tahun 2013, Landung mengajaknya ke Bali, berdua saja, lalu mereka melepas cinta di hotel di Nusa Dua, apakah dia telah benar-benar mengkhianati cintanya pada Baruna?
# # #
BARUNA. Jakarta, Januari 2014
“Aku sengaja pulang untukmu.” Baruna menatap Nagita.
“Aku juga ingin bicara denganmu.” Nagita membuang muka.
Mereka sedang dinner di restoran roof top salah satu hotel di Bunderan HI. Dinner paling romantis yang telah disiapkan Baruna untuk calon istrinya. Lilin merah, mawar, cahaya lampu remang-remang. Sempurna.
Dan kesempurnaan malam ini akan dilengkapi oleh cincin perkawinan yang akan diberikan kepada Nagita, menggantikan cincin tunangannya. Baruna sudah menunggu-nunggu saat ini. Sekian tahun dia menjaga cintanya, tanpa goyah oleh godaan-godaan wanita lain yang—jujur—ada di sekelilingnya. Tapi dia menjaganya. Dia menjaga sucinya janji setianya.
Baruna mengambil cincin dari dalam saku jasnya, bersiap memberi kejutan kepada Nagita. Hampir dua tahun setelah mereka tunangan. Segala penundaan telah mereka lewati: pendidikan kantor, Baruna yang harus ke Abu Dhabi, San Fransisco, Italy, hidup di Pekanbaru. Tapi ia tak bisa menunggu lagi. Mereka harus segera menikah.
“Aku ingin putus, Bar,” ucap Nagita lirih.
Baruna melepaskan cincin ke saku jasnya lagi, lalu menatap Nagita.
“Kamu becanda, kan?”
Nagita menggeleng.
Why?” Baruna meninggikan suaranya.
“Aku bosan. Aku...” Nagita tak melanjutkan ucapannya. Dia ingin menangis setelah apa yang terjadi padanya. “Mungkin karena kita jauh.”
“Katakan alasan lain.”
“Ada pria lain di hatiku,” ucap Nagita pelan.
# # #
NAGITA. Jakarta, Januari 2014
Malam ini sangat berat. Nagita memutuskan pulang sendiri dan tidak mau diantar Baruna. Dia ingin sendiri. Dia tak ingin sepanjang perjalanan pulang menjadi perjalanan paling buruk selama berhubungan dengan Baruna. Dia sudah memutuskan. Dan Baruna menerimanya, meskipun awalnya sangat marah. Tapi akhirnya dia menerima alasan-alasan yang disampaikan Nagita.
Alasan karena....jarak yang semilyar tahun cahaya. Ah, lebay. Tapi, mungkin memang benar. Jarak yang semilyar tahun cahaya hingga Nagita merasa jauh darinya.
Nagita menekan nomer Landung meminta jemput di depan GI. Mati. Lalu menekan lagi. Tidak aktif.
“Ah, ke mana dia?”
Nagita terpaksa mencegat taksi.
# # #
BARUNA. Pekanbaru, Januari 2014
Kita memilih untuk mengikat rasa, jadi yang ada hanya rasa saling percaya. Kita memilih untuk berbagi cerita, jadi yang ada hanya setia.
Baruna terkekeh kecil. Cinta yang ia pertahankan percuma. Setia yang ia berikan percuma. Dia seperti seorang lelaki pecundang yang kalah oleh rasa cinta. Hidupnya menjadi tak berguna. Mengapa ia harus hidup?
Seminggu setelah kepulangannya dari Jakarta, dia menjadi lelaki paling berantakan hidupnya. Dia tak peduli dengan semua orang di sekitarnya. Dia tak peduli dengan tubuhnya.
Apakah benar cinta bisa membuat orang gila? Jika benar, mengapa kita masih saja jatuh cinta?
Rig tampak sunyi. Deburan ombak pelan. Angin laut pelan. Mereka menjadi saksi saat Baruna meneguk racun dan menjatuhkan tubuh ke laut.
# # #
NAGITA. Jakarta, Februari 2014
Pernikahan lagi. Undangan lagi. Kali ini teman sekantornya yang menikah.
Tak ada Baruna kini. Landung juga sedang ke Bandung. Jadi dia datang sendiri.
Masih seperti undangan-undangan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan klise dan menyakitkan masih ada: kapan nikah, mana pasanganmu. Pernyataan-pernyataan pamer masih ada. Dan semua orang menunjukkan kehebatan-kehebatannya. Itulah manusia, ego tetap ada. INILAH GUE.
Dan masih sama juga, dunia memang sempit. Banyak teman yang tak terduga bisa bertemu. Teman kuliah yang ternyata temannya teman kantor. Teman SMA yang ternyata pacarnya temannya teman kantor.
“Hai, Nagita. Apa kabar kamu? Ya, ampun tambah cantik ya.” Dialah Viara, gadis cantik dan pintar semasa kuliah di Bandung. Gadis yang selalu bisa membuat decak kagum semua lelaki. Dan detik ini, dia masih sempurna. “Oh, iya kenalkan ini calon suamiku. Kami akan menikah pertengahan tahun ini.” Viara menarik seorang lelaki dari kerumuman. Lelaki itu menoleh, lalu menatap Nagita. “Git, kenalkan, ini Landung.”
Dan masih sama, dunia memang terlalu sempit.
# # #
NAGITA. Jakarta, Februari 2014.
Karma does exist, tulisnya di blog pribadinya.
# # #
Jakarta, 8 Februai 2014

[DONGENG] KEPADA JARAK KITA YANG SEMILYAR TAHUN CAHAYA [DONGENG] KEPADA JARAK KITA YANG SEMILYAR TAHUN CAHAYA Reviewed by Wignya Wirasana on 2/08/2014 Rating: 5

10 comments:

  1. Replies
    1. Thank You :)

      Keep Reading Dongeng Cinta dan Hantu-Hantu yaaa

      Delete
  2. mantap... semakin matang gaya berceritanya.. tapi koq kayak tenggelamnya van der wijk yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir dan membaca :)

      Mirip dari segi mananya?

      Tp yg perlu kita tahu, tidak ada karya di dunia ini yang benar2 orisinal. Karya2 yg ada hanyalah memodifikasi karya sebelumnya. Hehehe


      Keep reading Mr.

      Delete
  3. waahhh kereeeenn...tapi baruna kok...

    ReplyDelete
  4. Kecewa baruna bunuh diri:v eh apa emang seneng diving kali yak haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia memang suka diving. Kerjanya di tengah laut soalnya :)

      Salam kenal

      Delete
  5. uh! keren! suka banget sama gaya berceritanya yang lugas dan asyik dibaca ini kak :D
    apalagi, perloncatan(?) dari sudut pandang satu ke sudut pandang yyang lain rapih banget :D
    ah pokoknya ini keren lah!!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya.
      Silakan dibaca dongeng yang lain :)

      Delete

Powered by Blogger.