[DONGENG] JEJAK LANGKAH YANG KAU TINGGAL*

1.3.14



INTRO
Musik : Tentang Cinta, Ipang
Sekilas tentang dirimu yang lama kunanti, memikat hatiku, jumpamu pertama kali. Janji yang telah terucap, tuk satukan hati kita, namun tak pernah terjadi.
# # #
Ini cerita tentang Dewandaru. Kami bukan siapa-siapa. Maksudku, sampai detik ini kami hanya...mungkin...teman. Tapi dulu kami saling memiliki. Dulu, dulu sekali. Saat kami berdua masih sibuk dengan apa yang namanya Integral dan Logaritma. Masih sibuk dengan apa yang namanya praktikum dan tugas-tugas lainnya.
Dia. Dia yang pernah berhasil membuat pagiku seperti disengat semangat tegangan tingkat tinggi, saat aku sendiri benar-benar tak ingin pergi kuliah dan bertemu dengan Profesor Nakamura, dosen Jepang yang aksen Indonesianya saja sudah membuatku pusing.
Dia. Dia yang selalu hadir tepat waktu di pagar kosanku dengan motor birunya dan menanti dengan setia saat aku harus sibuk dengan rambut, hidung berminyak, tangan yang kasar, warna lipstik, dan kebingungan saat harus memilih antara ‘tas cokelat bermotif bunga-bunga kecil atau besar, atau justru memakai tas tak bermotif berwarna hitam atau kuning. Atau mending tak memakai tas.’.
Dia tak pernah mengeluh.
Dia selalu menjadi yang terbaik.
Mungkin 6 tahun ini aku sedikit lupa tentang dia. Tentang semua kisah yang telah ada. Namun sore itu, saat aku duduk seorang diri di Cafe Cokelat, dia tiba-tiba datang. Dia yang menguak semua tentang kenangan.
Tapi dia tidak sendirian.
# # #
“Mana pensilnya?”
Aku menyorongkan pensil HB ke arahnya. “Masih lama?” tanyaku.
“Sebentar lagi,” jawabnya pelan. “Tugasmu sudah selesai?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk kecil. Dewandaru mengusap rambutku pelan sambil tersenyum kecil. Langit sudah mulai gelap, namun suasana di Perpustakaan Pusat Kampus masih ramai. Menjelang akhir semester ini, dosen sering kali membuat pekerjaan yang gila-gilaan. Belum lagi tugas bertumpuk-tumpuk yang menjadikan mahasiswa harus lembur tak kira-kira.
“Berjanjilah padaku, Ru.”
“Apa?”
“Untuk selalu seperti ini.”
Dewandaru menghentikan pekerjaan menggambar garis di bidang putih di depannya. Garis-garis yang membentuk perspektif gedung lama di daerah Nol Kilomenter. Sebagai calon arsitektur, Dewandaru memiliki tangan yang terampil. Dari tangan-tangannya menghasilkan gambar-gambar yang nyaris sempurna dan membuatnya tak pernah memiliki nilai di bawah A-.  
“Selalu di dekatku,” sambungku. Dia hanya mengangguk memberi janji. “Meskipun kita berbeda.” Aku menunduk.
Dewandaru menatapku. Dia pasti sudah tahu maksudku. Tapi dia hanya diam.
“Aku akan selalu mencintamu. Percayalah.” Dia mengusap rambutku lagi.
“Ya, aku percaya.”
Waktu itu aku memang sangat percaya dengan semua ucapannya. Aku mencintainya, dia mencintaiku. Cukup, itu cukup membuatku percaya kepadanya.
Hanya saja, aku memiliki Al Quran.
Dan dia memiliki Injil.
Tapi aku percaya, cinta selalu ada di keduanya.
# # #
Tak pernah ada yang lebih baik dari Dewandaru. Dia tipe lelaki yang selalu mencintai wanita seutuhnya. Mungkin itu karena sejak kecil dia selalu hidup bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal ketika dia beumur 8 tahun. Sejak saat itu ibunya tak pernah lagi menikah. Mereka hidup berdua saja di ibukota. Hal inilah yang membuat Dewandaru selalu memperlakukan aku sangat sopan. Dia tak pernah melukaiku, dia tak pernah sedikitpun membuatku kesal. Jika sesekali dia melakukannya, dia akan meminta maaf dengan cara-cara yang membuatku patut untuk memaafkannya.
Dewandaru, dia kukenal dari Semester Satu. Kami beda jurusan. Dia temannya teman sejurusanku. Sejak saat itu, kami benar-benar seperti dua kutub magnet yang berbeda. Saling tarik menarik. Dia yang melingkarkan cintanya kepadaku di suatu malam. Meskipun kita sama-sama tahu, kita berbeda.
Aku tahu, dia bukan seseorang yang taat. Jika tidak kupaksa-paksa untuk ke Gereja, dia tak pernah mau. Akhirnya aku yang mengantarkannya. Aku memilih menunggunya di depan Gereja, menunggunya untuk berdoa.
“Jika tidak pernah meminta, mana mungkin di kasih. Apa doamu pagi ini?”
“Aku berdoa agar kita selalu bersama.”
“Tuhanmu akan mengabulkanmu.”
“Kamu meminta apa pada Tuhanmu shubuh tadi.”
“Aku meminta yang sama.”
“Apakah Tuhan kita berbeda?”
“Entahlah. Tapi aku tak peduli.”
Dan dia akan gantian menemaniku ke Masjid Kampus untuk mengikuti Kajian Putri saat akhir pekan. Dia akan duduk sendirian di selasar masjid, ditemani kertas gambarnya yang sudah penuh dengan coretan.
Dan suatu sore, dia menggambarkan aku sebuah masjid. Ada dia di sana, sedang menunggu.
# # #

Aku selalu percaya bahwa setiap kenangan itu tak akan pernah bisa dihapus. Akan selalu ada. Akan selalu ingat nantinya. Belum lagi kenangan tentang dia yang sangat spesial.
Tapi, tak pernah ada yang bisa mengerti apa yang telah digariskan oleh-Nya. Mungkin Tuhan kami benar-benar berbeda. Aku dan dia berpisah di akhir semester. Aku menangis seharian, tak pernah mau dengan keputusan ini.
Buatnya, ini yang terbaik.
Aku yang salah.
Ayahku tak pernah setuju dengan hubunganku dan Dewandaru.
Jadi, ini hanya sesaat?
Kami memutuskan dengan sangat dewasa saat itu. Kami berpisah baik-baik. Tak pernah ada permusuhan. Tak pernah ada pertikaian.
Aku hanya percaya Tuhanku. Dia percaya Tuhannya.
Aku mengikuti ayahku. Dia mengikuti ibunya. Karena kita berdua sama-sama tak ingin melukai orang tua, meskipun cinta kami benar-benar sangat besar. Sangat besar.
Kami juga tak ingin melukai Tuhan yang telah menghadirkan cinta yang luar biasa. Kami tak ingin mengkhianati Tuhan kami masing-masing.
Tapi...jejak yang dia tinggalkan di hatiku sangatlah dalam. Bahkan sampai detik ini.
# # #
Memang aku tak slalu, hadir dalam mimpi indahmu. Mungkin aku tlah berlalu, jadi kenangan yang tak kau banggakan.
Tapi bagiku cinta, adalah harta yang tersimpan.
Jejak langkah yang kau tinggal, mendewasakan hatiku. Jejak langkah yang kau tinggal, takkan pernah hilang slalu. Begitulah cintaku...(Lirik: Jejak Langkah, Glenn)

“Hai...” sapanya. Dia masih seperti dulu. Mempesona.
Apa jadinya jika kamu bertemu dengan mantan kekasihmu dan dia masih seperti dulu, sangat mempesona. Apa jadinya jika dia justru malah bertambah oke dan membuat hatimu sedikit berdesir lagi. Apa jadinya jika tiba-tiba semua kenangan tentang dia bermunculan di otakmu, lalu memaksamu mengingat semua kenangan manis tentang dia. Apa jadinya jika kamu bertemu lagi di depan mata. Apa jadinya jika, masih ada sedikit rasa di hatiku untuknya.
“Kenalkan, ini calon istriku.” Dia memandang wanita di sebelahnya. “Veira, kenalkan ini Karlita, teman kuliahku dulu.”
Teman kuliahku dulu?
Aku menjabat tangan Veira. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyesap ke dada. Jadi wanita ini yang telah mengisi hari-hari Dewandaru selama ini.
“Kamu sendirian?” tanya Dewandaru.
“Suamiku sedang dalam perjalanan ke sini. Menjemputku.”
“Oh, iya?”
“Nanti akan aku kenalkan.”
“Harus.”
Mereka permisi.
Semoga mereka putus, astaga, apa yang kupikirkan.
Semoga mereka bahagia, ralatku.
# # #
Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau di sana, aku di sini, meski hatiku memilihmu. Andai ku bisa ingin aku memelukmu lagi. Di hati ini hanya engkau mantan terindah, yang selalu kurindukan. (Lirik Mantan Terindah, Kahitna)
Apakah kamu punya mantan kekasih, yang sangat istimewa dan susah melupakannya?

*) judul cerita ini terinspirasi dari judul lagu glenn, Jejak Langkah

You Might Also Like

6 comments

  1. saat ketemu mantan, dia selalu terlihat lebih oke, lebih menawan. Susah untuk menolak kenangan yg memaksa muncul lagi, kalo udah ketemu ._. *curhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkadang memang apa yang sudah hilang selalu lebih menarik, meskipun kita sudah ada yang baru :)

      Hapus
  2. Aku suka gaya penyampaiannya. Buatku sederhana, tapi aku jadi paham betul peliknya keadaan di ceritanya. Ah..aku aja yang belum pernah pacaran, jadi sakit hati bacanya. Kasian yg mengalami hal begini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada beberapa orang di sekitar saya yang mengalami hal serupa. Dan ada yang bertahan, ada juga yang tidak.
      Keep Reading.

      W I R A

      Hapus
  3. keren tulisannya. cinta beda agama emang selalu sulit ya.

    BalasHapus