[DONGENG] DONGENG 5 SAHABAT

1.4.14


Dongeng ini dikisahkan oleh seorang sahabat, tentang sahabatnya. Dialah yang kini sudah memiliki segalanya. Harta yang berlimbah dengan semua investasi yang ia miliki. Keluarga yang bahagia dengan istri cantik dan putera puterinya yang lucu-lucu. Sebut saja namanya, Dewangga.
Aku bertanya kepadanya, apa arti sahabat buatmu.
Dia bilang, sahabat adalah orang yang berhasil membuat kita lebih baik. Saat sedih, dia bisa membuat kita lebih gembira. Saat kita gembira, dia bisa membuat kita lebih mengontrol kegembiraan kita. Saat kita down, dia bisa membuat kita lebih bersemangat untuk bangkit. Saat kita sukses, dia akan membuat kita lebih bisa menghargai arti perjuangan. Saat kita sendiri, dia akan menggenapi. Dan saat kita sudah berdua bersama pasangan kita, dia tak akan mengganjilinya.
Lalu, apa kisahmu tentang lima sahabatmu itu? Apakah kamu  benar-benar memiliki 5 sahabat? Tanyaku kepadanya.
Ya, lima sahabat yang membuatku merasa lebih baik. Kelimanya memiliki pribadi masing-masing. Dan aku tak pernah mempersoalkannya. Mereka sangat hebat-hebat, aku sebenarnya iri kepada mereka.
Di mana mereka sekarang? Tanyaku, lagi.
Masih ada. Bukankah mereka akan selalu menggenapi kita, tapi tak pernah membuat kita ganjil? Mereka selalu ada kok. Hanya saja, mereka sekarang sedang berjuang mencapai apa yang mereka inginkan. Sering kali kita masih kontak-kontakkan.
Baiklah, dongengkanlah tentang mereka untukku. Tunggu-tunggu, apakah aku termasuk sahabatmu?
Dengarkan saja
Lalu dia pun mendongengkannya untukku.
“Aku memiliki 5 sahabat,” dia mulai dongengnya dengan bersemangat. Tangan kanannya merentang di depanku, kelima jarinya dapat kulihat dengan sangat jelas. Dewangga tersenyum kecil kepadaku. Lalu dia melipat keempat jarinya dan meninggalkan telunjuknya saja.
“Pertama, namanya Arjuna. Pria manapun akan iri padanya. Dia tinggi, dia pintar basket, dia atletis, dan nila-nilainya di kuliah sangat istimewa. Dia lulus dari Teknik Industri dengan IPK hampir sempurna, 4.96. Fantastis, bukan? Dan kini, dia menjadi seorang Business Analyst di salah satu perusahaan ritel di Indonesia. Dia orangnya rajin, sangat rajin. Belum pernah dalam sejarahnya dia telat. Dia selalu datang 30 menit sebelum waktunya, lalu duduk di mejanya menyiapkan laptop, membaca email, lalu melihat to do list yang telah ia buat malamnya. Lalu, dia membaca sekilas berita di portal berita 15 menit. Prestasinya juga luar biasa. Dia 5 kali berturut-turut mendapat predikat karyawan terbaik, dan saat ini sedang dipromosikan untuk menjadi seorang manager di usinya yang masih 27 tahun. Fantastis.”
Dia menghela nafas. Tangannya diangkat lagi, kini jari telunjuk dan jari tengahnya berada di depan mataku.
“Yang kedua, namanya Nayala. Seorang Akuntan di salah satu perusahaan otomotif termuka di Indonesia. Sejak SMA dia memang sudah jago urusan akutansi. Dia sangat sangat teliti. Dia akan memeriksa laporan keuangan perusahaannya dengan sangat teliti. Bayangkan saja, setiap bulan dia harus membuat report keuangan untuk Directornya. Analisisnya sangat kuat. Urusan angka adalah dia jagoannya. Terbaik di jurusannya dulu. Dia juga wanita yang rajin, penuh semangat, dan tidak pernah telat juga. Banyak pria yang sudah mengejarnya.”
Aku mulai terbuai dengan dongengnya. Bagaimana bisa dia memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa seperti itu.
“Sahabat saya yang ketiga namanya Bumi. Seorang engineering yang luar biasa. Jika kamu membenci fisika, matematika, dan ilmu pasti lainnya, dia justru menyukainya. Kini dia bekerja di salah satu perusahaan tambang multinasional. Bahasa inggrisnya jago banget. Dan seperti dua sahabatku yang lain, dia sangat rajin bekerja, pantang menyerah. Serahkan saja projek kepadanya, dia akan mengerjakan dengan sangat efektif dan efisien. Tahun ini, dia akan naik jabatan.”
“Sahabat saya yang keempat adalah Raya. Seorang HR di salah satu perusahaan perbankan di Indonesia. Dia teman saya waktu kuliah. Orangnya baik, rajin, dan energik. Saat ini dia menjadi salah satu staf HR terbaik di perusahaannya. Jangan ditanya kenapa? Teman-teman kuliahku pasti akan kompak menjawab, bibitnya saja sudah baik. Dia tidak pernah membiarkan cacat di setiap proses pekerjaannya. Orangnya perfeksionis, tidak menolerir kesalahan. Dan seperti keempat teman saya yang lain, dia juga tidak pernah telat dan selalu mengerjakan proyek dengan baik. Analisisnya juga sangat tajam.”   
“Keempat sahabatku sangat luar biasa. Sekarang ceritakan sahabatku yang kelima,”
“Sahabatku yang kelima adalah kamu tentunya.”
Aku tertegun. “Aku?”
“Ya, kamu. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat yang baik. Bukankah seperti itu seharusnya. Dan kamu juga luar biasa seperti yang lain, bukankah begitu. Kamu adalah lulusan komunikasi terbaik dengan embel-embel IPK 3.89, angka yang fantastis. Berbicara denganmu sangat menyenangkan, kamu bisa mengkomunikasikan semua hal dengan mudah dan fun. Berbicara denganmu tak akan pernah kehabisan topik, kamu adalah seorang public relation yang baik. Aku bangga punya sahabat sepertimu.”
Dia menghela nafas kecil.
“Tapi....,” ucapnya lagi.
“Apa?”
“Aku benar-benar tak ingin seperti kalian.”
“Apa maksudmu?”
“Buatku kalian luar biasa. Kalian hebat dengan keahlian masing-masing.”
“Lantas, mengapa kamu tak ingin seperti kami, sahabat-sahabatmu?”
Dia terkekeh kecil. “Aku tak ingin seperti kalian. Aku hanya ingin memiliki karyawan seperti kalian. Sungguh, alangkah menyenangkannya jadi atasan kalian yang memilki bawahan-bawahan seperti kalian.”
“Oh, sh*t, memangnya kamu sanggup membayar kami?” aku tersenyum kecut, dan dia tertawa penuh bahagia.
[END]
dikisahkan oleh seorang teman, dengan berbagai perubahan untuk penyesuaian.

You Might Also Like

2 comments

  1. Senangnya memiliki sahabat. Genggamlah terus sahabat yang ada karena mereka akan menjadikan kita lebih baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sahabat membuat kita bisa lebih. Kalau jadi kurang, berarti bukan kali ya hehehe.

      Hapus