[SERIAL] MATA RANTAI (1)

21.3.15


P R O L O G
Tuan Mata meninggal.
Aryanda Putera sudah menyiapkan diri untuk mengabarkan berita itu di depan para Chief Rantai dan para kolega. Meskipun beberapa diantara mereka hanyalah berupa hologram, namun rasa gugup itu tetap ada. Meeting kali ini mungkin akan terlihat berbeda dari biasanya. Tak ada laporan keuangan ataupun membahas strategi bisnis. Kenyataannya memang seperti itu. Arya harus menyampaikan berita itu. Meskipun dia mencoba untuk bersikap tenang, tetapi jauh di dasar hatinya masih ada rasa was-was untuk menyampaikan berita ini.
Semuanya sudah terjadi. Tak ada perdebatan apapun dari mereka. Berita kebangkrutan perusahaan ini tentu bukan berita kemarin sore dan sudah menjadi perbincangan di setiap meeting. Tiga bulan terakhir laporan keuangan terus menunjukkan kemunduran. Disinyalir ada hubungannya dengan Tuan Mata yang sakit-sakitan sejak setahun lalu. Perusahaan mulai goyah dan beberapa proyek terbengkalai dengan sendirinya. 
Tuan Mata yang umurnya sudah menginjak angka 70 tahun telah memimpin perusahaan ini selama 40 tahun. Dia adalah pewaris generasi mata sebelumnya. Haryan N. Juliandro adalah nama kecil Tuan Mata. Dia mendapatkan warisan untuk meneruskan Mata Rantai Inc. di usianya yang ke-30 setelah ayahnya meninggal. Sesuai tradisi generasi Mata, dia yang berkewajiban untuk melanjutkan Mata Rantai Inc.
Tak banyak yang menyangka bahwa perusahaan yang sudah memasuki tiga generasi itu menunjukkan kehancurannya tiga tahun belakangan ini. Kondisinya semakin parah setahun lalu, setelah Tuan Mata beberapa kali masuk rumah sakit dan terpaksa harus melimpahkan beberapa pekerjaannya kepada orang-orang kepercayaannya, termasuk Arya. Hanya saja, perusahaan ini memang tak bisa diselamatkan lagi. Bahkan di detik terakhir kehidupan Tuan Mata. Tuan Mata mengembuskan napas terakhir seminggu lalu. Dan hari ini, Arya sebagai tangan kanan Tuan Mata, diberi tugas untuk menyampaikan berita itu kepada semua karyawan Mata Rantai.
Sesuai tradisi, kematian pemimpin Mata Rantai tak boleh disebarluaskan. Pemakaman hanya dihadiri oleh sanak saudara terdekat. Anak-anak Tuan Mata datang di tengah kesibukan mereka. Adalah Andra, anak pertamanya, yang kini memilih untuk tinggal di luar negeri bersama istri dan anaknya, dan bekerja di salah satu perusahaan multi international. Anaknya yang kedua bernama Andrea dan kini ikut suaminya yang bekerja di Papua.  Sedangkan istri Tuan Mata sudah meninggal tiga tahun lalu.
Kehilangan istri tiga tahun lalu adalah titik kelemahan Tuan Mata. Dia seperti kehilangan arah karena tak ada yang mendukungnya untuk melanjutkan perusahaan keluarga ini. Kedua anaknya bahkan dengan jelas menolak untuk menggantikan ayahnya. Hal itulah yang membuat Tuan Mata sedih hingga akhir hidupnya.
Tak boleh ada berita yang bocor tentang kepergian Tuan Mata. Pun dengan para kolega-kolega yang memang sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Dan sesuai tradisi juga, kematian itu baru dapat diumumkan seminggu setelah pemakaman. Tepatnya hari ini.
Hari ini, para karyawan Mata Rantai, lima Chief Rantai, Kepala Departemen, kolega-kolega Tuan Mata bertatap muka. Ada yang berwujud nyata, ada pula yang hanya berupa hologram karena mereka berada di luar Jakarta. Mereka berkumpul di area utama perusahaan ini, tepat di lantai paling atas. Ruangan berbentuk bulat dan tampak luas karena di kelilingi oleh cermin. Atapnya terbuat dari kaca tebal yang tidak memancarkan panas matahari dan bisa digelapkan jika diinginkan. Jika langit cerah, orang yang ada di dalamnya bisa melihat awan putih berarakan. Dari satu sisi dinding, muncul siluet cahaya yang membentur dinding lain. Di sanalah, para hologram bermunculan.
Arya berdiri di panggung didampingi oleh para asisten Mata Rantai yang lain dan tentunya kedua anak Tuan Mata. Dia akan sudah membacakan surat terakhir dari Tuan Mata untuk para karyawan dan kolega. Karyawan yang lain berdiri di depan panggung.
Pengumuman yang tak pernah diketahui oleh siapapun itu, mengejutkan semua orang.
“Tak ada yang bisa menggantikan kepiawaian Tuan Mata membangun Mata Rantai. Dia pekerja keras.” Arya hampir menyeka matanya karena haru. Suasana di ruang meeting utama Mata Rantai tampak sendu. Semua orang yang datang tampak diam mendengarkan.
“Pertanyaannya, siapakah yang akan menggantikan beliau? Tuan Mata memiliki 2 orang anak, lelaki dan perempuan. Namun, kabarnya mereka berdua tak mau meneruskan bisnis keluarga ini.” Ronero, Chief Rantai Perusahaan Kontraktor, Building The Sun, memotong ucapan Arya. 
“Belum ditentukan,” ucap Arya. Sebelumnya dia melirik kedua anak Tuan Mata di sisi kirinya. 
Terdengar gemuruh perbincangan di ruangan itu. Arya memandang satu persatu yang hadir di sini. Mereka tampak berbincang lirih satu sama lain.
“Secepatnya akan kami putuskan,” sambung Arya kemudian. “Tuan Mata sudah menyebutkan beberapa kandidat yang akan menggantikan beliau.”
Ronero menyela kembali. “Kami tak bisa menunggu terlalu lama. Perusahaan ini harus segera mengambil sikap atas beberapa kekacauan setahun belakangan. Mungkin dengan mengurangi anak perusahaan, atau proyek-proyek bayangan yang tak menghasilkan.”
“Apakah proyek dan revenue di perusahaan Bapak sudah cukup positif?” tanya Alexa Crain, Chief  Rantai Perhotelan & Mall. Dia dikenal bertangan dingin dalam urusan bisnis. Selain menjadi Chief salah satu anak perusahaan Mata Rantai, dia memiliki beberapa bisnis lain. Tak heran jika dia masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Beberapa orang sering bilang bahwa bekerja di Mata Rantai hanyalah sebagai sampingan saja. Di usianya yang ke-40 sekarang, dia masih bisa memperbesar kekayaannya. Hal ini ditunjang juga dengan kepiawaian dia berkomunikasi dengan orang lain dan juga wajahnya yang rupawan. “Kecuali jika bisnis batu bara Bapak di luar Mata Rantai mulai bangkrut,” sambung Alexa.
Para Chief yang lain terkekeh. Alexa melirik Arya seolah memberi isyarat agar dia tidak menghiraukan si arogan. 
“Baiklah, meeting kali ini saya cukupkan sampai di sini. Dan sesuai tradisi, Bapak-bapak semua diperbolehkan untuk mengunjungi makam Tuan Mata setelah makan siang. Tentu saja bagi yang di luar kota bisa mengunjungi lain waktu. Terima kasih atas kerja samanya. Selamat siang.”
Orang-orang mulai berdiri dan saling berbicang.
“Tak perlu kamu hiraukan omongan Ronero, Pak Aryanda.”
Arya menoleh dan mendapati si Alexa sudah berdiri di sampingnya. Dia tersenyum kecil. Beberapa orang yang lain mulai mengikuti arahan petugas untuk ke makam Tuan Mata yang ada di belakang gedung. Aryanda dan dua asisten lainnya--Ariana dan Janero--masih ada di ruangan ditemani oleh beberapa kolega.
“Saya turut berduka atas kematian Tuan Mata. Berita ini sangat mengejutkan kami. Beliau adalah pemimpin yang baik. Saya belajar banyak dari beliau.”
“Ya, beliau orang baik.” Arya kembali tersenyum, mencoba bersikap ramah kepada Alexa.
“Oh iya, sebenarnya hal ini tidak pantas saya utarakan sekarang ini. Waktunya sepertinya tidak tepat. Tetapi mumpung saya ada di sini, saya ingin menyerahkan ini.” Alexa mengulurkan sebuah undangan tebal dengan kertas berteksur kepada Arya, Ariana, dan Janero.
“Galeri Mahakarya?” tanya Ariana.
“Proyek pribadi di Jogja. Sebuah galeri seni koleksi milik pribadi yang saya bangun di lereng Merapi. Saya sangat menyukai wilayah Merapi, maka saya pun berinisiatif untuk membuat sebuah galeri seni yang bisa memajang koleksi pribadi dan sekaligus bisa menjadi tontonan bagi masyarakat. Pendapatan dari galeri itu nantinya 100% akan saya sumbangkan untuk panti asuhan di daerah sana.”
“Fantastis,” ujar Janero. “Kami usahakan akan datang di pembukaannya.”
“Kalian harus datang sebagai perwakilan Mata Rantai. Sebenarnya saya juga mengundang Tuan Mata, namun karena….ah sudahlah. Saya tiba-tiba ikut sedih jika harus mengingat ini.”
“Akan saya agendakan, Tuan Alexa," kata Arya.
“Tentu. Mungkin kalian juga akan mengajak pemimpin Mata Rantai yang baru nantinya. Jika sudah terpilih. Saya juga penasaran, siapa sebenarnya para kandidat itu.”
“Tak lama lagi, saya akan mengundang Anda dan para kolega untuk datang menyaksikan pengukuhan pemimpin yang baru. Seleksi sedang dilakukan sekarang.”
“Bukankah seharusnya dari keluarga sendiri. Siapapun dia, saya harap para kandidat adalah orang yang tepat pilihan Mata Rantai dan akan melanjutkan nahkoda kepemimpinan di sini."
Arya memandang Alexa sekilas, lalu mengangguk kecil. “Tentu saja,” ujarnya.
###

Para kandidat?
Arya menertawakan sendiri kebohongan dirinya. Ini adalah salah satu lelucon yang sudah ia siapkan hari ini untuk menutupi fakta bahwa tak ada para kandidat, yang ada hanyalah kandidat utama. Tetapi sesuai pesan dari Tuan Mata, dia tak boleh membocorkan rahasia ini kepada siapapun. Termasuk kepada para karyawan Mata Rantai, orang-orang kepercayaan Mata Rantai yang lain. Yang tahu hanya Tuan Mata, dirinya, dan Dilan--pengacara pribadi Tuan Mata.
Tepatnya dua minggu yang lalu, saat Jakarta mulai diterjang dengan hujan lebat dan banjir menggenang di mana-mana, Tuan Mata memanggilnya untuk datang ke kamarnya. Saat itu tepat pukul sepuluh malam dan di luar rumah masih terdengar hujan turun.
Arya baru saja menyelesaikan pekerjaan di Mata Rantai, sebuah kasus poltergeist di daerah Jakarta Selatan. Dia sebenarnya ingin bersantai di kamarnya sambil membaca Sherlock Holmes. Kamarnya adalah bagian dari bangunan Mata Rantai yang sengaja disiapkan untuk dirinya. Sudah hampir 25 tahun dia mengabdi untuk Tuan Mata sebagai asisten kepercayaan.
Kondisi tubuh lima puluh tahunnya sekarang memang tak bisa dipungkiri. Meskipun dia terlihat masih sangat tegap, tetapi beberapa kali dia sudah harus istirahat jika bekerja terlalu keras. Uban di rambutnya seharusnya menjelaskan kondisi tubuhnya, tetapi ia selalu menutupinya dengan cat warna dan juga senyum  semangat yang tak pernah luntur. Hal yang diajarkan oleh Tuan Mata kepadanya.
Perbincangan Arya dan Tuan Mata malam itu dibuka dengan lelucon-lelucon kecil seperti biasa. Tuan Mata adalah orang yang humoris. Dia juga sangat suka bercerita. Dan kedua orang ini seperti sebuah USB yang menemukan portnya. Arya adalah pendengar yang baik, sementara Tuan Mata adalah pencerita yang baik. Selama hampir dua jam mereka berbincang.
Arya beranggapan bahwa Tuan Mata memang membutuhkan seorang teman untuk bercerita malam ini. Dia tampak lebih bisa tertawa daripada hari-hari sebelumnya yang hanya terbaring dan sesekali bangun untuk minum obat dari asistennya yang lain. Ternyata anggapan itu salah.
Setelah puas bercerita, Tuan Mata mulai terlihat serius. Arya sangat ingat perubahan air muka Tuan Mata yang mendadak tegang.
Dia mulai membicarakan kelangsungan Mata Rantai. yang perlahan-lahan mulai hancur. Dia tampak sedih karena tidak bisa meneruskan warisan generasi Mata di akhir hidupnya. Dan di akhir perbicangan itu, dia juga membahas kematiannya dan juga kandidat untuk pemimpin Mata Rantai selanjutnya.
“Kamu tahu Arya, hidupku tak lama lagi. Dan harus ada orang yang menggantikan saya secepatnya. Kamu juga tahu bahwa kematian saya ini tak boleh diberitahukan ke semua orang karena kematian bukanlah awal dari kesedihan, namun justru awal dari kehidupan seseorang. Yang juga ingin saya pesankan kepada kamu adalah kamu harus mencari seorang kandidat, Arya.”
Tercipta keheningan sesaat. Detak jam dinding terdengar. Suara hujan mulai melirih.
“Aku sudah menyiapkan nama.”
Tuan Mata mengambil secarik kertas yang sedari tadi disembunyikan di bawah bantal lalu menyerahkannya kepada Arya. Sebuah biodata diri singkat. Arya membacanya perlahan.
“28 tahun? Apakah tidak terlalu muda.”
Tuan Mata mengeluarkan napas panjang dari hidungnya sehingga menimbulkan suara. “Kamu pasti akan langsung tercengang ketika melihatnya.”
“Tuan sudah pernah melihatnya?”
“Saya selalu memantau dirinya. Seperti janji saya kepada ibunya, bahwa saya memang harus menjaganya.”
“Bukankah seharusnya Tuan Andra yang menjadi kandidat utama. Dia adalah anak kandung tuan yang saat ini sudah siap menjalankan perusahaan ini di umurnya yang tiga puluh. Dan Mata Rantai adalah perusahaan keluarga yang harus diteruskan, bukan?”
“Arya, kamu tahu kan, bahwa Mata Rantai bukanlah perusahaan yang sembarangan. Tidak sembarang orang juga yang memimpin perusahaan ini. Hanya mereka yang memiliki darah Mata dan ilmu kebatinan khusus yang bisa melanjutkan perusahaan ini. Andra tidak punya. Dia memang adalah keturunan resmi Mata, tetapi dia tidak memiliki ilmu kebatinan seperti yang aku utarakan. Lagian sejak dulu, dia tidak pernah menyetujui bisnis ini, kan?”
Kamar seluas enam kali enam meter itu semakin terasa kosong dengan keheningan. Kedua orang itu sama-sama diam.
“Arya, saya tahu, kamu pasti ragu dengan pilihan saya.”
“Iya, Tuan, saya ragu dia bisa mengembalikan Mata Rantai kembali. Tuan tahu bahwa perusahaan ini sedang dalam masa-masa sulit dan diperlukan tangan dingin orang untuk memulihkannya.”
I know, I know. Tetapi saya rasa saya sudah memilih orang yang tepat, Arya. Aku sangat yakin. Kamu cari saja dia.”
Arya memandangi secarik kertas dan foto di depannya. Sampai detik ini, dia bahkan tidak yakin pemuda ini akan bisa memimpin Mata Rantai. Tetapi apa gunanya membantah keinginan Tuan Mata.
“Aku sudah menuliskan sebuah wasiat untuk dirinya. Kamu yang memberitahunya.”
Arya mengangguk kecil. “Baiklah, Tuan. Segera saya akan mencari Juna Januardo.”

# # #

BAB 1
Juna Januardo merasakan kepalanya sedikit pusing. Ini pasti bukan karena dia terlalu banyak menegak Krug Clos du Mesnil. Karena secara ukuran gelas, wine ini  jelas ditempatkan di tubuh gelas yang sempit dan memanjang. Ukuran yang paling kecil dibandingkan dengan menegak white wine atau paling parah red. Gelas itu dapat mempertahankan gelembung-gelembungnya dalam waktu yang lama. Dia sudah terlalu biasa melihat visual cantik itu, dan itu tentu tidak membuatnya pusing. Tadi malam dia hanya dua kali menegaknya, oh tidak, itu yang dia ingat. Dia menegaknya lima kali. Apakah itu yang membuatnya merasa seperti orang tak bernyawa pagi ini?
Bantal bulu angsa terbaik di hotel ini tidak bisa membenamkan rasa pusingnya. Dan dia merasakan ini sejak shubuh tadi. Dia terbangun dengan tubuh seperti melayang dan mata berkunang-kunang. Sensasi yang sebenarnya mungkin saja ia rasakan ketika mabuk berat. Tetapi dia yakin tidak terlalu mabuk tadi malam, karena dia masih bisa mendengar desahan kecil dari Clara beberapa kali.
Gadis itu sekarang pasti sedang menikmati cek yang ia kasih tadi malam.
Clara, ia temukan gadis itu tadi malam hanya dengan pandangan mata sekali. Dan sejam setelah pesta bersama kolega-koleganya di Lantai 18 Trans Luxury Hotel, dia bisa membawanya ke 6027. Di temani rokok dan satu gelas sisa Krug Clos du Mesnil yang ia nikmati bersama.
Dan tentu saja, hal-hal di atas tidak membuatnya pusing.
Pukul 4 pagi dia terbangun dengan rasa pusing yang menjadi-jadi. Pandangannya berkunang-kunang dan dia seperti mendengar bisikan-bisikan di telinganya. Hampir setengah jam, dia berguling-guling di kasur, padahal dia hanya mengenakan underpants saja. Satu jam setelahnya, dia terlentang di atas permadani tebal dan lembut di atas lantai. Perut six pack-nya tampak mengkilap karena keringat, persis keadaan seperti ketika dia habis overtraining di gym.
Untung dia tidak muntah. Untung saja pandangan dan pendengaran-pendengaran itu segera berakhir.
Mengapa datang lagi?
Dia memejamkan mata dan menarik selimut sampai ke lehernya. Masih jam sembilan pagi. Seharusnya dia bisa tidur dengan tenang jika si pusing sialan itu tidak menerjangnya pagi ini. Waktunya liburan di Bandung sudah berakhir hari ini. Sebenarnya ini bukan liburan. Selama seminggu kemarin, dia menyelesaikan meeting dengan beberapa klien di hotel ini. Efektifnya memang hanya tiga hari, sisanya dia lebih banyak menikmati pesta-pesta di Bandung bersama teman-temannya. Hari ini dia harus kembali ke Jakarta karena besok dia harus meeting dengan klien lagi. Sebagai konsultan digital marketing yang memiliki beberapa perusahaan di bidang digital, Juna sebenarnya bisa menyelesaikan kerjaannya di Bandung. Bermodalkan laptop dan internet. Tetapi klien yang harus ia temui besok adalah salah satu raja telekomunikasi di Indonesia. Dan dia tak ingin menyia-nyiakan itu.
Lagian, dia sudah merindukan Sasha. Atau Virsha. Oh tidak, pasti dia merindukan Bella.
Dering bel kamarnya mengagetkannya. Pintu itu terlalu jauh untuk ia jangkau. Dia melirik celana pendeknya yang berserak begitu saja di atas karpet, tepat di samping bungkus perak bertuliskan warna orange ‘Sagami’ yang sudah tersobek. Juna menghembuskan napas perlahan. Mengutuk siapapun yang datang pagi ini ke kamarnya. Tidak banyak yang tahu bahwa dia menginap di kamar ini. Kecuali petugas hotel tentu dan asistennya.
Dia tak berniat untuk membuka pintu. Dia justru semakin membenamkan kepalanya. Namun, suara bel itu semakin melengking panjang.
Dengan ogah-ogahan, Juna bangkit dari tempat tidur, menggeliat sebentar, menyambar celana pendeknya di lantai, lalu memakai jubah hotel seadanya. Ketika dia melintasi cermin besar di lorong sebelum pintu kamar, dia sempat melirik tubuhnya yang tak karuan. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi, kini tampak tak beraturan.
Juna membuka pintu kamar perlahan dan tetap membiarkan rantai pengaman ada di tempatnya. Dia mengintip. Tak ada siapapun. Shit, bahkan di siang hari bolong seperti sekarang, otaknya masih saja konslet. Apakah tadi dia berhalusinasi mendengar bel pintu kamar? Karena penasaran, Juna membuka pintu lebar-lebar. Tetap tidak melihat siapa pun di sana.
Dia mendengus sebal.
Sekali lagi dia memastikan bahwa memang tidak ada siapapun. Dia melongok ke lorong panjang kamar-kamar hotel, kanan dan kiri. Yang ia lihat hanyalah karpet tebal berukir benang merah maroon yang melapisi lantai dan juga dinding kamar berteksur seperti pohon berwarna cokelat tua. No one.
Matanya tertumbuk pada amplop tebal yang ada di depan kamarnya. Sewaktu membuka pintu tadi, dia tidak menyadari ada amplop itu. Kertasnya berwarna kuning kecokelatan yang tampak kosong dan diletakkan begitu saja. Juna mengambil amplop itu.
Secarik kertas dengan tulisan yang kurang jelas, tapi masih bisa terbaca. Dan sebuah foto dirinya yang sedang berciuman dengan Clara tadi malam.
Jika tidak ingin foto ini tersebar ke pacar-pacar Anda di Jakarta, temui saya di Restoran lantai 3 hotel ini. Jam 10.00.
Oh iya, saya juga tahu penyebab pusing Anda beberapa bulan belakangan ini.
-Arya-
# # #
Juna tak sempat untuk mandi. Dia hanya berganti pakaian: celana pendek dan kaos polo. Dia mengambil sandal hotel secepat kilat dan menyambar Iphone 6-nya yang tergelatak di meja kamar.
Bukan foto itu yang menariknya untuk datang menemui orang yang sudah berani-beraninya mengerjainya pagi ini. Itu adalah alasan keduanya. Toh, jika benar foto-foto itu tersebar ke pacar-pacarnya di Jakarta, dia hanya cukup untuk mengeluarkan jurus maut, diajak belanja, dibelai dikit. Beres. Stok wanita yang mau menemaninya kencan saat ini tak terbatas. Siapa wanita yang akan menolak Juna Januardo, CEO sebuah perusahaan konsultan digital marketing dan memiliki beberapa perusahaan di bidang printing. Di umurnya yang masih 25 tahun, dia bisa mendapatkan wanita-wanita itu dengan mudah. Belum lagi didukung oleh postur 180 cm dengan perut kotak-kotak yang membuat ngiler semua wanita ketika dia sedang berenang di tempat gym.
Jadi foto itu tidak menjadi masalah utama.
Yang menjadi masalah adalah orang itu—siapapun dia—tahu bahwa dia sering dilanda pusing. Itu masalahnya.
Juna memencet tombol angka 3, lift menuju restoran hotel yang satu lantai dengan kolam renang hotel. Juna tidak memerhatikan resepsionis yang menyapanya dan dia hanya menjawab nomer kamarnya dengan tergesa.
Orang itu memberi kode bahwa dia memakai blesser warna biru tua. Tak sulit menemukan orang itu karena orang yang sarapan sudah tidak terlalu banyak. Waktu sarapan tinggal satu jam lagi. Dan Juna bahkan tidak berselera untuk makan di sini. Dia hanya ingin menyelesaikan urusannya. Lalu pergi.
“Duduklah!” orang itu menyuruh Juna untuk duduk. Juna mengikuti. “Nama saya Arya.”
“Saya tidak perlu tahu nama Anda. Saya hanya ingin tahu mengapa Anda mengiktui saya dan…..dan mengetahui bahwa saya sering mengalami pusing yang luar biasa beberapa bulan terakhir.”
“Santai sedikit. Dan jangan terlalu bersemangat. Kamu tidak ingin kan orang lain melihat kita?”
Arya memotong kue di depannya, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut.
“Saya tidak punya banyak waktu.” Juna mulai gerah dengan sikap Arya yang terlihat santai. Arya meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring, dia mengusap bibirnya dengan tisu makan, lalu meneguk air putih di depannya.
“Apakah saya terlihat punya banyak waktu untuk Anda sehingga Anda terlihat santai sekali menemui saya?” suara Juna sedikit naik.
“Apakah selain playboy ada predikat lain dalam diri kamu, Juna?” Arya memicingkan mata. “Arogan? Pemarah?”
“Tidak ada urusan untuk membahas tentang saya hari ini.”
“Tentu saja. Karena saya juga baru beberapa minggu lalu mengetahui tentang biodata kamu. Dan jika bukan karena atasan saya yang memerintahkan ini semua, saya tak akan menemui orang arogan seperti kamu. Dan sepertinya atasan saya salah memilih kamu untuk memimpin Mata Rantai.”
Juna memandang Arya tak mengerti. Mungkin Krug Clos du Mesnil tadi malam benar-benar telah meracuni dirinya.
“Mata Rantai?”
“Perusahaan Non-Government yang telah dilegalkan untuk menangani kasus-kasus kejahatan, terutama yang berhubungan dengan dunia gaib. Orang umum biasa menyebutnya dengan paranormal, atau yang lebih umum lagi dukun.”
What? Paranormal? Dukun?”
“Anda sering merasakan pusing? Dan sering melihat atau mendengar sesuatu yang ganjil?”
Tak ayal, Juna mengangguk kecil.
Yes, tentu saja. Tuan Mata benar. Kamulah yang dia cari.” Arya bangkit berdiri. “Segera kemasi barang kamu, kita langsung ke Jakarta. Saya akan jelaskan nanti.”
“Wo…wo…wo, apa-apaan ini? Saya bahkan tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud. Saat ini memang banyak sekali kasus penipuan, tapi bukan seperti ini caranya.”
Arya memandang Juna tajam. Orang ini sepertinya tidak bisa dipaksa dengan cara yang biasa, pikirnya. Dia harus mengeluarkan jurus pamungkas. “Apa kamu mengenal Nyonya Raya?”
Juna tampak kaget dan tak berkutik. “Saya mengenalnya tentu saja. Dia ibu saja.”
“Apakah kamu juga mengenal ayahmu sebaik kamu mengenal ibumu?”
“Tentu saja,” jawab Juna singkat. Meskipun dia sendiri ragu dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.
“Robert Harjoko. Dia ayahmu?”
Juna mengangguk.
“Dia bukan ayah kandungmu, Juna Januardo. Saya tekankan itu. Dia ayah tirimu.” Arya sekali lagi memandang mata Juna. “Dan ayah kandung kamu adalah Haryan N. Juliandro. Kamu tentu tidak mengenal dia. Tapi dia mengenal baik kamu. Jika kamu tidak percaya dengan hal ini atau curiga dengan saya, sebaiknya sekarang kamu telpon ibu kamu.” Arya menyodorkan ponselnya kepada Juna. “Saya sudah mempelajari kamu terlalu banyak.”
Juna mematung. Fakta-fakta yang diungkapkan oleh orang di depannya sebagian masuk logika.
“Tuan Haryan, atau Tuan Mata, sudah meninggal tiga minggu lalu. Dan dia mengutus saya untuk mencari kamu.” Arya mengambil napas kecil.  “Dan Kamu adalah calon tunggal yang akan memimpin Mata Rantai saat ini.”
# # #

( BERSAMBUNG )

Baca kelanjutannya, episode 2, di sini 

You Might Also Like

13 comments

  1. Wah ceritanya seru, semacam misteri gitu ya... jadi kepo nih ama lanjutannya
    tapi jam 76.66 itu apa ya ? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Ratna, ditunggu yah kelanjutannya malam minggu nanti. jam 20.00.

      Jam 76,66 sebelah manakah??

      Hapus
  2. wow, suka ceritanya, saya ngebayangin juna itu cowok yang tampan, mungkin kaya herjunot ali, hahaha
    ceritanya gak sampai disini saja kan? saya follow blognya ya,, mau tau kelanjutannya, ditunggu loh sambungannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you.

      Nanti ada kuisnya lho Juna versi kamu. Ditunggu aja.

      Ditunggu juga cerita kelanjutannya yah, setiap malam minggu jam 20.00.

      Hapus
  3. Wah bagus nih ceritanya, jadi penasaran sama cerita selanjutnya apa janu ntar mau jadi penerus mata rantai atau tidak? wah penasaran nih pak hha

    BalasHapus
  4. Wooo bikin penasaran euy! Apalagi ada hubungannya sama mistis-mistis hahaha

    BalasHapus
  5. Hahah.. Bacanya kok malah deg-degan yak.. Ada magisnya kali. :D Tapi ada cukup banyak kata 'ini' dan 'itu' sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Terima kasih kritiknya. Ini masih belajar. Yuk baca episode 2.

      Hapus
    2. Wah maaf.. Tidak bermaksud mengkritik..

      Hapus
  6. Menarik yah, pantes wa e dibuat GA
    Masukan dikit:
    Apa pun dipisah
    napas
    Anda pakai kapital
    typo emmang
    mengembuskan
    memerhatikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you banget untuk koreksinya.

      Sepertinya saya memang booth editor hehehe.

      Hapus