[SERIAL] MATA RANTAI 9

30.5.15


Belum baca Mata Rantai Episode sebelumnya? Yuk baca di sini.

BAB 12
“Kasusku sudah berakhir. Kamu tidak perlu datang ke rumah untuk memecahkannya. Terima kasih. Maaf mengganggu, Tuan.”
Telepon Lenwa siang itu terus mengusik Juna. Hati kecilnya berkata bahwa Lenwa seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Bayangan Lenwa terus menerus membayangi Juna. Bahkan sampai masuk ke dalam mimpinya.
Berbicara tentang mimpi, Juna tiga hari ini selalu mengalami mimpi yang sama. Dia bermimpi melihat Gedung Mata Rantai yang gelap perlahan diterangi oleh sinar dari berbagai sisi. Gedung itu menjadi sangat terang dan menampakkan semua detailnya. Kemegahannya tampak terasa.
Tak lama kemudian, sinar itu menghilang. Gedung Mata Rantai kembali menjadi gelap. Juna berdiri tak jauh dari gedung, dia kemudian menyaksikan sendiri saat bagian atas gedung mulai runtuh ke bawah dengan cepat. Timbul suara bergemuruh. Dia melihat sendiri reruntuhan dinding dan kaca yang menyatu dengan tanah. Juna kemudian berlari kencang menuju Gedung Mata Rantai. Tetapi, dia dihalangi oleh orang-orang berjubah hitam yang berjumlah banyak. Mereka berdiri mengelilingi Mata Rantai, membuat benteng manusia yang sulit di tembus oleh Juna. Tak sengaja, Juna menabrak salah satu dari mereka yang bertudung hitam. Tudungnya lepas. Dan orang itu menoleh ke arah Juna.
Orang itu adalah Ben Lenwa. Mukanya tampak lain. Wajahnya menghitam, matanya bulat berwarna merah. Dia menatap Juna dengan tatapan menyeramkan. Wajahnya yang halus mendadak timbul bercak-bercak warna merah bercampur nanah. Dia maju ke arah Juna, lalu tangannya meraih leher Juna. Mencengkeram leher itu kuat-kuat. Sangat kuat. Juna tidak bisa bernafas. Dengan pandangan samar-samar, dia melihat satu persatu asistennya menjauhinya. Dodo, Dede, Ariana, Janero, Arya. Satu persatu Chief Mata menghilang. Dan dia melihat ada Dilan di sana. Dilan ingin menolongnya ketika ia dicekik oleh Lenwa. Tapi Dilan dihadang seseorang, kemudian orang itu menebas kepala Dilan dengan pedang.
Juna terbangun dari mimpinya. Begitulah mimpi itu terus berulang hingga tiga malam ini. Dengan mimpi yang sama, dengan plot yang sama, dan ending yang sama. Mimpi itu mengusiknya. Mengapa Lenwa bisa muncul di Mata Rantai? Dan yang lebih membuat Juna shock adalah keruntuhan Mata Rantai.
Keputusan Juna untuk menjadi bagian dari Mata Rantai adalah karena ia ingin mengembalikan kejayaan Mata Rantai. Karena ini adalah warisan dari ayahnya, walaupun sampai detik ini dia belum bisa menerima kenyataan ini. Tuan Haryan adalah ayahnya, ini bukan kenyataan yang menyenangkan. Juna belum mengenal Tuan Haryan dengan baik. Yang beliau tinggalkan hanyalah sebuah surat wasiat singkat yang menyebutkan kalau Juna adalah penerus Mata Rantai. Dan maminya pun mengamininya.
Juna belum memberitahu Arya tentang permintaan Lenwa. Karena dia memang ingin sekali bertemu dengan Lenwa untuk sekali saja. Meminta penjelasan lebih detail mengapa kasusnya ditutup. Bukankah kata Arya, kasus Lenwa adalah kasus pertamanya. Agar dia belajar. Jadi dia putuskan untuk pergi ke rumah Lenwa.
Sore itu, hari Minggu yang cerah, mobil Juna merapat ke salah satu perumahan di daerah Kuningan. Tidak susah menemukan alamat rumah Lenwa. Juna tinggal menelepon Alexa Crain dan dengan gampang Alexa memberitahunya.
Juna ditemani oleh Gordon akhirnya menemukan rumah Lenwa. Mereka disambut oleh dua orang anak kecil yang sedang bermain di teras rumah, satu anak berambut ikal agak panjang, mata belo. Yang satunya lagi tampak lebih kurus, rambutnya lurus. Anak yang bermata belo lalu berlari ke dalam rumah, memanggil mamanya, lalu keluar lagi bersama seorang perempuan. Ternyata orang itu adalah istri Lenwa. Tak berapa lama kemudian, Lenwa menyusul ke depan dan tampak kaget melihat Juna ada di rumahnya. Tapi Juna dan Gordon tetap dipersilakan masuk.
Penampakan Lenwa jauh dari apa yang terakhir Juna lihat. Sepanjang obrolan dengannya, Juna tidak pernah melihat Lenwa melihat matanya. Dia selalu mencoba untuk mengalihkan pandangan. Sampai di satu titik, Lenwa langsung mengerti dengan kedatangan Juna. Diapun mencoba menjelaskan sekali lagi tentang kasusnya yang tak perlu dibantu oleh Mata Rantai.
“Semuanya baik-baik saja,” kata Lenwa.
Juna hanya mengangguk, tidak mencoba untuk menekan. Diapun permisi untuk pulang. Namun hati kecilnya berkata, dia pasti akan kembali ke rumah ini nanti. Cepat atau lambat.
# # #

Beberapa hari setelah kedatangan Juna
Kediaman rumah Lenwa tampak sepi saat Naya baru saja datang. Gru mungkin belum balik dari latihan bermain bola. Mobil Lenwa sudah berada di parkiran.
Tumben dia sudah balik, pikir Naya. Beberapa hari ini, Lenwa memang selalu pulang larut malam. Naya berpikir bahwa itu adalah hal wajar. Dia sudah terlalu sering ditinggal ketika Lenwa kemarin mengerjakan Galeri Mahakarya. Dan kini suaminya itu sedang ada proyek mall besar di Bekasi. Pasti waktunya juga akan tersita. Dan Nayapun memakluminya.
Tetapi Naya pikir, suaminya kini telah berubah. Semenjak menyelesaikan Galeri Mahakarya, dia menjadi pribadi yang kadang labil. Lenwa bisa menjadi sosok yang pendiam, tetapi sedetik kemudian menjadi seorang yang emosional. Naya masih ingat kejadian kemarin pagi saat akan berangkat ke kantor.
Hari masih terlalu pagi. Pukul 05.30. Seperti biasa Naya sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Tiba-tiba dia mendengar Lenwa berteriak-teriak di garasi. Kebiasaan Lenwa setiap pagi adalah mengontrol mobilnya. Nayapun datang ke garasi dan melihat suaminya sedang membuka kap mobil, memeriksa mesin. Dia memaki mesin mobil yang ternyata tidak mau menyala. Belum pernah Naya melihat suaminya seemosional itu. Kemarahan Lenwa kemudian berlanjut dengan hal-hal kecil yang tidak penting, seperti ‘mengapa sepeda Gru diletakkan sembarangan’, ‘mengapa ada sepatu di depan pintu’, atau ‘mengapa air panasnya habis’.
Naya hanya bisa terdiam. Mungkin suaminya sedang setres memikirkan proyeknya. Nayapun mencoba berbicara baik-baik, memeluk suaminya dari belakang, dan suaminya pun berangsur membaik.
Rumah masih sepi. Naya duduk di kursi dapur sambil meneguk air mineral. Dia belum melihat suaminya.
Di dekat dapur ada kamar mandi tamu yang sangat jarang digunakan, kecuali ada tamu yang menginap. Jarang sekali ada yang membuka. Tetapi kini pintunya sedikit terbuka dan lampu dalamnya menyala. Naya mendekat. Dia melihat ada seseorang yang berdiri membelakanginya, sedang melihat ke kaca. Orang itu adalah suaminya.
Naya hampir saja mendorong gagang pintu, namun ia urungkan karena dia mendengar Lenwa sedang berbicara seorang diri. Suaranya terdengar berat dan serak. Naya menajamkan pendengaran, sambil mengintip dari celah pintu yang sempit. Lenwa sedang berbicara tidak jelas dengan cermin. Bayangan Naya tidak terlihat di cermin karena tertutup oleh tubuh Lenwa.
“Aku tidak ingin melibatkan keluargaku, kamu cukup melibatkan aku,” Lenwa terdengar berdialog dengan dirinya sendiri. Dia berbicara lirih, seolah tak ingin ada seorang pun tahu. Dia terus menerus berbicara dan membuat Naya ketakutan.
Naya mundur beberapa langkah. Tubuhnya menyenggol ujung meja dan membuat gelas air minumnya bergoyang, menggelinding, dan jatuh ke lantai. Pintu kamar mandi terbuka dan Lenwa sudah berdiri di sana.
“Kamu sudah pulang rupanya,” ujar Lenwa.
“Iy…iya…tadi aku kehausan. Oh, aku tidak berhati-hati.” Naya memungut gelas yang jatuah di lantai dan pecah. Beberapa pecahannya kecil. “Ouwch…” Naya menarik tangannya yang terkena pecahan gelas. Ada darah mengucur di ujung jempolnya. Buru-buru Naya mengibas-ibas tangannya.
Tetapi Lenwa justru tak acuh, bahkan dia malah pergi meninggalkan Naya sendirian. Naya memandangi punggung Lenwa yang naik ke lantai dua. Rasa sakit di jempolnya bahkan tak ia rasakan lagi.
# # #

Puluhan Kilometer dari Kuningan
Dodo dan Dede mendapatkan satu ruangan khusus untuk eksperimen. Mereka berdua biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencoba-coba, menciptakan aplikasi-aplikasi aneh, atau hanya duduk menonton drama Korea. Kini ruangan mereka yang besar dan dipenuhi oleh benda-benda elektronik, mendapat tambahan penghuni baru yaitu Janero. Dan har ini, ruangan mereka bertambah sempit lagi ketika Alexa—yang kebetulan kantornya memang di Jakarta, Arya, dan Juna datang untuk melihat presentasi Dodo dan Dede mengenai alat baru mereka, Pelacak Hantu, yang sudah mereka sempurnakan.
Selama hampir satu jam, Dodo dan Dede menjelaskan tentang aplikasi barunya itu. Selain bisa menemukan titik-titik keberadaan hantu yang semakin akurat, aplikasi itu juga bisa menjelaskan daerah mana yang sangat panas dan dingin. Panas bisa diartikan bahwa daerah itu adalah daerah yang perlu dibersihkan dari gangguan gaib, ditandai di aplikasi dengan warna merah. Sedangkan daerah dingin adalah daerah yang bebas dari gangguan makhluk gaib dan ditandai warna biru.
“Aplikasi ini tentu akan membantu kita dalam pembebasan alam gaib. Selama ini, kita hanya mengandalkan feeling kita, mengandalkan ilmu dari masing-masing. Tapi dengan alat ini, kita semua akan terbantu,” kata Dodo.
“Tapi masih akan terus kita sempurnakan,” sambung Dede.
“Mengapa tidak kamu ciptakan sebelum aku mendirikan Mahakarya?” Alexa terkekeh. “Seharusnya aku menggunakan ini. Tapi untuk ada Arya yang kemarin sudah membantu membebaskan lahannya.”
Semua orang satu persatu mencoba aplikasi itu. Tak terkecuali Juna yang langsung tercetus ide untuk meminjamnya kepada Dodo, lalu menggunakannya di rumah Lenwa. Sampai detik ini, dia masih yakin ada sesuatu yang Lenwa sembunyikan darinya.
Ariana datang ke ruangan Dodo & Dede. Sejak tadi dia memang tidak terlihat.
“Ada orang yang ingin bertemu denganmu, Tuan,” ucap Ariana kepada Juna.
“Siapa?”
“Dilan,” jawab Ariana pendek.
# # #

Dilan sudah menunggu di ruangan Juna ketika Juna datang bersama Ariana. Jarang sekali Juna melihat Dilan ada di Mata Rantai, kecuali memang ada hal yang ingin ia sampaikan kepadanya.
Dilan meminta Ariana untuk meninggalkan dirinya bersama Juna.
“Ada sesuatu yang penting?” tanya Juna. Dia mengambil tempat duduk di samping Dilan.
“Tentu saja. Tidak ada yang lebih penting daripada memberitahumu tentang hal ini. Seharusnya aku memberitahumu kemarin-kemarin, tetapi maafkanlah aku karena baru sempat sekarang. Karena ini menyangkut ayahmu, Tuan Mata….”
Mendengar nama Tuan Mata disebut, Juna memicingkan mata. Selama ini, dia mendengar informasi tentang Tuan Mata dengan suasanya yang tidak seprivat ini. Minimal ada tiga orang.
Dilan kemudian meminta Juna untuk membuka pintu kamar Juna. Sesampainya di sana, dia mengetuk dinding di dekat bingkai.
“Tempelkan tanganmu di sini,” ucap Dilan sambil menunjuk satu titik di dinding itu. Dilan menarik tangan kanan Juna Mata, lalu menempelkannya di dinding. Dinding itu membuka sedikit, ada sebuah kota kaca di sana. “Cocokkan sandi matamu.”
Juna menurut, dia mendekatkan matanya ke kotak kaca itu. Laser merah dan biru menandai matanya. Bunyi ‘tit’ menandakan sandi matanya diterima. Juna menarik matanya. Dinding di depannya bergerak perlahan. Di sana ada sebuah almari kecil dan sebuah buku usang.
Dilan mengambil buku itu. “Sudah lama sekali aku tak melihat buku ini. Terakhir kali, dua bulan sebelum aku menulis surat wasiat bersama dengan Tuan Mata. Ambillah,” Dilan memberikan buku itu kepada Juna. “Kotak ini tak akan terbuka jika bukan darah mata yang membukanya.” Dilan menutup kotak itu, dindingnya kemudian menyatu kembali. Sangat rapi sehingga terlihat seperti dinding yang tidak terbelah.
Juna melihat buku usang yang kini ada di tangannya. Sebuah buku bersampul cokelat dengan gambar mata yang dengan ukiran tak jelas di depannya. Juna membuka halaman pertama buku itu. Sebuah tulisan tangan, di bagian bawah ada tanda tangan dengan nama terang : Haryan Januardo – Mata Rantai 1. Anggapan Juna saat ini, buku usang ini ditulis oleh kakek buyutnya itu. Halaman kedua menjelaskan tentang arti Mata Rantai sebenarnya.
Selama ini, buku-buku profil Mata Rantai hanya menjelaskan tentang perusahaan ini secara umum. Bagaimana didirikan, mengapa didirikan, dan bisnis apa yang dijalankan. Bukan arti dari Mata Rantai. Arti Mata Rantai hanya dijelaskan sebagai sebuah ‘kejadian yang saling sambung menyambung’. Bahwa semua peristiwa di dunia ini adalah kejadian yang saling terhubung, begitu juga dengan dunia gaib.
Tetapi arti Mata Rantai di perusahaan ini tentu tak segamblang itu. Dan buku usang itu menjelaskannya. Di halaman ketiga, ada sebuah proses yang sangat Juna kenal. Rumput, Tikus, Ular, Elang.
“Rantai Makanan,” ucap Juna lirih.
“Proses makan dimakan. Secara implisit bisa diartikan sebagai perpindahan satu energi ke energi lain. Demi kelangsungan dan keseimbangan hidup. Alam gaib adalah salah satu bentuk keseimbangan hidup. Bagaimana mereka ada dan kemudian tidak ada, hidup kemudian tidak hidup. Jika ada suatu hal di alam diantara mereka yang hidup dan tidak hidup, berarti itu akan mengganggu keseimbangan.”
“Iblis,” kata Juna lagi.
Dilan menoleh ke arah Juna yang sedang melihat gambar sebuah makhluk raksasa berwarna hitam dengan mata merah.
Dilan tersenyum. “Iblis adalah salah satu bentuk ketidakseimbangan itu Juna. Iblislah yang membuat dunia ini tidak seimbang, membuat manusia tidak seimbang. Dialah penggoda nomer satu di dunia. Iblis adalah simbol dari keserakahan, kesombongam, keangkuhan, ketidakperikemanusiaan. Kasus korupsi, kejahatan, pembunuhan adalah bentuk ketidakseimbangan ekosistem karena pengaruh iblis. Iblis bisa tertanam di dalam diri manusia, atau berbisik di sekitaran kita.
Tuan Haryan menyadari bahwa darah mata juga memilki ketidakseimbangan karena ada dua roh yang menjadi stir. Makanya dia menciptakan alat penyeimbang tubuh. Kamu memiliki darah Mata Rantai, yang dijabarkan menjadi rumput, tikus, ular, dan elang. Ketiganya sudah kamu miliki, tapi tidak dengan elang. Kamu belum memilikinya. Tuan Haryan menciptakan Mata Rantai karena dia adalah salah satu dari makhluk ciptaan Tuhan yang tidak memiliki keseimbangan, dia memiliki 2 roh dalam hidupnya. Ketika Tuhan menciptakan kita, Tuhan ‘mungkin’, maaf, kadang memasukkan dua roh ke dalam tubuh kita. Hanya beberapa orang yang memilikinya. Dua roh itu bisa dua-duanya baik, dua-duanya jahat, tapi yang lebih menakutkan kalau yang satu baik dan yang satu jahat. Untung saja, Tuan Haryan dua rohnya baik. Begitu juga dengan turunan-turunannya yang lain, termasuk kamu. Tapi….”
Juna memandang Dilan serius.
“Tapi, seharusnya manusia tidak boleh memiliki dua roh. Karena itu membuat ketidakseimbangan. Maka Tuan Haryan mencari cara agar bisa menyatukan rohnya, melakukan eksperimen, hingga membuat Mata Rantai. Untung saja dia menggunakan nama Mata Rantai, bukan Rantai Makanan.” Dilan terkekeh. “Dan dia menciptakan ilmu-ilmu khusus untuk menyatukan rohnya. Rumput sebagai sesuatu yang hijau adalah untuk menyeimbangkan pikiran, tikus yang cerdik untuk menyeimbangkan otak, ular yang lincah sebagai penyeimbang tubuh, dan elang sebagai sumber kekuatan. Dia kemudian menggunakan ilmunya untuk membantu orang-orang yang hidupnya tidak seimbang. Begitulah Mata Rantai terbentuk, hingga besar seperti sekarang.”
Dilan terdiam, kemudian dia membalik halaman buku yang dipegang Juna. “Tapi kamu harus menemukan kekuatan itu. Setiap keturunan Mata Rantai pasti terlahir tidak seimbang, maka dia harus memakai sebuah batu untuk menyeimbangkan tubuhnya. Jika dia kekurangan kekuatan, maka harus memakai batu elang. Batu itu ditempa puluhan tahun, dibuat dengan ketekunan dicampur dengan do’a. Kemudian dia harus melakukan ritual khusus untuk menyatukan rohnya. Ketidakseimbangan itulah yang membuatmu bisa memiliki indera ketujuh dan bisa menembus altar lain, tempat diantara dunia dan akherat. Tempat bagi iblis-iblis ketidakseimbangan yang akan mengacaukan dunia.”
“Bagaimana aku bisa menyeimbangkan rohku, dan apa akibatnya jika tidak kuseimbangkan.”
“Ritual. Penyempurnaan roh. Kamu harus memakai batu yang dibuat oleh Tuan Haryan. Batu elang yang kini masih kusimpan rapat-rapat di satu tempat. Jika kamu tidak melakukan keseimbangan, selama hidup kamu akan menjadi orang yang labil, bahkan bisa berakhir dengan kematian yang mengenaskan.”
Juna bergidik. Otak rasionalnya menyangkal penjelasan Dilan. Tetapi, beberapa bulan ini, dia memang sudah menjadi bagian dari hal yang tidak rasional. Dia sudah bergabung dengan Mata Rantai. Dan dia berambisi agar Mata Rantai bisa kembali berjaya.
“Baiklah, kita harus melakukannya sekarang.”
“Tidak bisa. Kekuatan batu itu hanya akan terjadi di malam bulan purnama.”
Juna terpaku di tempatnya. Tidak ada yang lebih menyeramkan dari apa yang di dengarnya kini.
“Buka bajumu sekarang.”
“Apa?” tanya Juna.
“Turuti permintaanku.”
Juna menurut. Dia membuka bajunya. Tampak sekarang tubuh padatnya yang kekar dan disekeliling pusarnya ada tato yang dulu ia buat.
“Tato yang  bagus,” komentar Dilan.
“Ya, aku membuatnya ketika kuliah. Aku menemukannya ketika sedang jalan-jalan. Seorang bapak tua, penato terkenal, yang kemudian menyarankan aku untuk membuat tato ini.”
“Kamu tidak mengenal gambar tato itu?”
Juna melihat tatonya. Tato itu kini tampak sedikit merah. Dia tak menyadarinya. Lalu Juna membalikkan tubuhnya, berhadapan dengan cermin lebar. Dia kini bisa melihat dengan jelas bahwa tato itu adalah….
“Simbol Mata Rantai, kan?” tanya Dilan seperti melihat keterkejutan Juna. “Seharusnya kamu menyadarinya. Logo Mata Rantai ada di setiap sudut perusahaan ini. Mengapa kamu tidak mengenalinya?”
Juna menelan ludah. Ini benar-benar tidak mungkin. Tato yang ia buat beberapa tahun lalu memang terlihat mirip dengan simbol Mata Rantai. Tatonya memang berupa sebuah mata, dengan pusar sebagai pusatnya, di samping-sampingnya menjulur desain artistik.
“Lihatlah!” Dilan menyentuh tato Juna. “Ini adalah gambar rumput,” Dilan menunjukkan desain tato yang menjulur. “Ini Tikus, ini ular.” Dilan menyentuh bagian kanan tato, sebuah sayap. “Dan ini sayap elang.”
Astaga, Juna menutup mulut. Pantas saja dia merasa pernah melihat logo besar di lobi Mata Rantai. Ternyata logo itu ada di perutnya.
Dilan membuka halam terakhir buku yang di pegang Juna. Di sana dijelaskan tentang arti simbol-simbol Mata Rantai. Juna membacanya sekilas.
“Lain kali, bacalah sendiri. Lalu resapi.” Dilan mengambil alih buku itu, lalu memasukkan kembali ke tempatnya di belakang dinding. “Jangan pernah membukanya untuk siapapun. Hanya keluarga Mata Rantai. Dan aku, tentu saja. Semua asisten juga tidak ada yang tahu.”
Dilan kemudian mengajak Juna untuk keluar dari kamar. Dia berjanji, malam purnama nanti akan mengajaknya untuk mengambil batu elang.
“Tapi Dilan, entah mengapa, aku merasa bahwa aku seperti akan kehilangan kamu dekat-dekat ini. Apakah kita tidak bisa mengambilnya sekarang saja?” Juna teringat akan mimpinya yang aneh. Namun dia belum berniat untuk menceritakan mimpi itu kepada siapapun, termasuk kepada Dilan hari ini.
“Percuma kita mengambilnya sekarang. Batu itu tidak akan berkhasiat. Bersabarlah. Lagian aku tidak akan pergi ke mana-mana.” Lelaki tua berambut putih itu terkekeh.
Juna akhirnya mengangguk. Walaupun dalam hati kecilnya, dia berkata bahwa, malam ini adalah malam terakhir dia bertemu dengan Dilan. Karena ia merasa, mimpi itu memanglah nyata.

# # #

baca kelanjutannya di sini

You Might Also Like

4 comments

  1. komplittttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
    seru bacanya! dilan :(

    BalasHapus
  2. Wooo filosofinya mata rantai keren.... Kok kepikiran sampai sana yah

    Juna, jangan2 yg nato bapaknya sendiri

    BalasHapus