[SERIAL] MATA RANTAI (8)


Belum baca Mata Rantai Episode sebelumnya? Baca di sini Sob.

BAB 11
Mobil Juna melaju cepat meninggalkan restoran. Ariana tampak bingung dengan apa yang dilakukan bosnya itu. Dia tadi memang melihat ada Ronero dan Janero di restoran, tetapi dia tidak tahu alasan Juna tiba-tiba menariknya keluar dan memilih meninggalkan restoran. Apa salahnya gabung makan bersama kedua Chief Mata itu.
“Mengapa kita tidak gabung dengan mereka?” Ariana akhirnya bertanya juga.
Juna hanya menoleh sekilas, lalu kembali memandang jalan lagi. Pikirannya cuma satu, ia teringat dengan apa yang telah didengarnya waktu di toilet. Ia yakin suara itu adalah suara Janero. Suara serak khas Janero. Dan Juna juga tidak  salah dengar apa yang sedang dibicarakan oleh Janero dan orang lain di toilet. Apakah orang itu Ronero? Hati kecil Juna mengatakan bahwa orang itu memang Ronero. Dua orang itu seperti menyimpan dendam padanya. Entah apa itu, saat ini Juna belum tahu dan belum bisa menebak-nebak.
Mungkin ini ada kaitannya dengan wasiat dari Tuan Mata, ayahnya, yang memberikannya mandat untuk memimpin Mata Rantai. Di usianya yang masih sangat muda ia harus memimpin para tetua-tetua di Mata Rantai, termasuk Janero dan Ronero. Mungkin, mereka berdua merasa bahwa keputusan ini tidak adil. Lagian, siapa sih Juna Mata? Anak muda yang tiba-tiba datang ke Mata Rantai dan langsung menduduki singasana teratas di perusahaan ini.
“Aku tiba-tiba kepikiran bahwa ada tempat jualan gado-gado enak di Blok S. Ibu penjualnya sampai hafal denganku. Jadi, aku putuskan untuk makan di sana siang ini. Any problem?” Juna menjawab pertanyaan Ariana dengan cepat. Tetapi justru membuat dahi Ariana mengerut.
“Pasti bukan hanya gara-gara masalah penjual gado-gado.” Ariana tertawa kecil. “Tuan, dua bulan ini sudah cukup untuk mengenal kamu. Pasti ada hal yang kamu sembunyikan.”
“Jadi kamu hanya perlu waktu dua bulan untuk mengenal seorang lelaki, hah?” Juna balas tertawa. “Tidak ada alasan khusus. Ya, memang alasannya karena Janero dan Ronero. Tetapi, sungguh, aku sedang malas berbasa-basi dengan mereka berdua. Jadi, plis jangan tanya-tanya lagi. Oke?” Juna mencoba mengalihkan topik Janero dan Ronero. Ia tak ingin Ariana bertanya macam-macam dulu tentang kecurigaan Juna terhadap mereka. “Lagian, gado-gado di Blok S beneran enak. Favorit saya dan Fernando. Dulu aku dan Fernando sering makan di sana kalau istirahat makan siang.”
“Fernando?” Dahi Ariana mengerut lagi. “Apakah kamu….gay?”
Juna menginjak rem mendadak, membuat mobilnya berhenti. Untung mereka sudah berada di jalanan yang tidak terlalu banyak mobil. Meskipun begitu, mobil di belakang mereka ikutan berhenti mendadak dan membunyikan klakson panjang. Belum lagi sumpah serapah dari orang-orang di pinggiran jalan.
“Kamu mau membuatku mati mendadak?” tanya Janero sambil kembali menjalankan mobilnya.
“Justru Tuan yang bikin jantungku mendadak berhenti. Aku hanya bertanya, apakah Tuan seperti itu.”
“Tidak. Apa tampangku menunjukkan seperti itu, Ariana? Lihat.” Juna menoleh ke arah Ariana dan bertepatan dengan itu Ariana pun menoleh. Mereka saling pandang. Keduanya jadi canggung dan mendadak membisu.
Juna berkata lagi untuk mencairkan suasana. “Fernando itu asistenku di Digiforyou.” Juna kemudian menceritakan tentang pekerjaan sebelumnya. Dia menjelaskan bahwa sejak kuliah dia sudah merintis perusahaan digitalnya itu sampai sebesar sekarang. Dia juga menceritakan tentang beberapa orang-orang di Digiforyou yang sangat dekat dengannya. “Kerja di digiforyou itu tidak tertekan. Aku enjoy kerja di sana, karena bagiku dunia digital adalah passionku. Sementara di Mata Rantai, aku benar-benar belum mengerti. Ini dunia baru. Bahkan sangat baru dan belum pernah kujamah. Untuk masalah perhotelan, aku masih bisa belajar. Tapi dunia gaib?”
“Tapi aku yakin Tuan bisa,”
“Apa yang membuatmu sangat yakin?”
“Karena Tuan memiliki darah Mata dan kecerdasan bisnis yang sulit dijelaskan. Membangun Digiforyou dari nol sampai sekarang bukan perkara mudah. Tuan harus mempercayai orang, mengontrol orang, dan memiliki otak kreativitas yang tinggi. Itu mungkin turunan juga dari Tuan Mata. Dan masalah dunia gaib, darah Mata akan membimbing sendiri agar Tuan bisa. Indera ketujuh bukan sembarangan.”
“Kamu memang pantas ada di sini sekarang,”
Ariana tak mengerti dengan ucapan Janero. Matanya melirik sekilas lelaki di sampingnya itu. Lelaki itu jelas adalah tipe orang yang bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang dia mau, pikir Ariana. Dia punya pesona, dia punya kharisma yang tak bisa dijelaskan hanya dengan rentatan kata. Bagi Ariana, Juna adalah sesesok pria mapan yang sudah siap menikah. Dengan wajahnya yang tak bisa dibilang jelek dan kariernya yang sekarang, Juna pasti bisa mendapatkan siapa saja. Tapi sepengetahuan Ariana dan juga cerita-cerita orang-orang yang suka menggosipkan Juna di kantor, pria di sampingnya adalah seorang playboy.
Ariana pun meyakininya.
Jadi, ketika Juna menggodanya seperti sekarang, atau memandangnya cukup lama, Ariana sudah membentengi diri agar tidak terpesona. Tapi melawan pesona Juna, sama saja dengan menahan lapar saat di depanmu ada Hamburger dengan beef besar.
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Juna yang membuat Ariana tersedak kaget. “Oh maaf, mungkin pertanyaanku terlalu terbuka. Tapi aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Itu saja.” Juna tersenyum lebar. Jenis senyum yang bisa membuat semua wanita meleleh. Senyum yang menyungging ke atas, lalu menimbulkan efek lekukan sedikit di pipi. Matanya bercahaya dan alisnya yang tebal ketarik ke atas sedikit.
Ariana menelan ludah. Lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
“Sepertinya kita sudah sampai,” ucap Ariana saat melihat deretan tempat makan di Blok S.
“Baiklah, Nona. Kamu punya hutang satu cerita kepadaku.
# # #

Suasana di Blok benar-benar ramai. Gado-gado favorit Juna ada di deretan paling ujung, di depan sebuah sekolah. Juna disambut hangat oleh wanita berumur empat puluhan yang sangat akrab. Bu Dhe Ros, wanita itu, seperti cerita Juna tadi, tampak mengenal baik pelanggannya tersebut.
“Sudah lama kamu tidak kemari. Apakah kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahanmu?” tanya wanita itu yang ternyata berdarah Jawa. Logat medoknya masih sangat kental.
“Tidak, Bu Dhe. Aku lagi pindah kantor, jadi agak sibuk sekali.” Juna menarik satu kursi dan meminta Ariana untuk duduk di sampingnya.
“Baru kemarin aku menanyakan kabarmu pada Nando. Kata dia, dia juga belum dapat kabar apa-apa darimu.”
“Dia sering ke sini?” tanya Juna.
“Baru kemarin dia ke sini. Oh, iya mau pesan seperti biasa?”
“Iya, yang agak pedas.” Juna menoleh ke arah Ariana. “Kamu mau pesan apa?”
Bu Dhe Ros memandang Ariana. “Ya Ampun, Juna. Wanita mana lagi ini. Yang si Mariana itu sudah putus?”
Ariana yang mendadak menjadi pusat perhatian menjadi kikuk. Dia menyunggingkan senyum kaku, lalu dia melirik ke arah Juna meminta pertanggungjawaban.
“Juna ini, suka sekali membawa wanita kemari. Terakhir yang dibawa namanya Mariana. Sudah berapa lama kamu mengenal Juna?”
“Belum lama, tapi saya bukan….” ucapan Ariana terpotong oleh Juna yang menyenggol tangannya.
“Jangan dengarkan kata-kata Bu Dhe. Dia suka bicara yang tidak-tidak.”
“Oh, tidak-tidak. Aku bicara apa adanya. Tapi Juna……” Bu Dhe Ros membelai wajah Ariana. Arian tampak terkejut mendapat perlakuan mendadak itu. Tapi dia hanya diam dan tersenyum. “Ini wanita paling cantik yang pernah kamu bawa. Namamu siapa, Nak.”
“Ariana,” jawab Ariana pendek.
“Ariana. Cantik sekali namamu, secantik parasmu. Juna, apakah ini calon istrimu?” tanya Bu Dhe Ros kepada Juna yang kini sedang berdiri agak menjauh.
Juna menunjuk ke ponsel yang menempel di telinganya. Ia kemudian berdiri menjauh sedikit. Tadi ponselnya berdering dan ada nama Ben Lenwa di layarnya. Setelah berdiri agak jauh dan memastikan tidak ada orang yang mendengarnya, Juna kembali berbicara dengan Ben Lenwa.
“Maaf aku harus berdiri menjauh. Ada apa?” tanya Juna.
“Kasusku sudah berakhir. Kamu tidak perlu datang ke rumah untuk memecahkannya. Terima kasih. Maaf mengganggu, Tuan.”
Klik. Belum sempat Juna berkata apa-apa, sambungan telepon itu terputus. Juna memandangi layar ponselnya. Ia tak paham dengan apa yang dikatakan Ben Lenwa. Bukankah kemarin Lenwa sendiri yang memaksa Juna agar segera datang kekediamannya untuk memecahkan kasus gaib yang sedang menimpanya. Atau jangan-jangan Lenwa kecewa pada dirinya karena ia tak segera memecahkan kasus itu. Juna menghela nafas kecil. Ia berpikir sejenak.
Tapi tadi suara Lenwa terdengar seperti sedang gugup dan agak serak. Dan Juna yakin, kasus itu belum kelar. Hati kecilnya bilang bahwa ada sesuatu yang Lenwa sembunyikan.
Dan Juna justru bertekad akan tetap menemui Lenwa.
# # #

Ben Lenwa memandangi ponsel di tangannya. Matanya beralih ke cermin di toilet di kantor kliennya. Untuk beberapa waktu dia memang diberi wewenang untuk menempati kantor ini sampai proyek mall-nya selesai.
Toilet sudah sepi, tak seramai saat makan siang tadi. Hal ini membuat Juna bisa sedikit berlama-lama memandang dirinya. Petugas toilet tak mengacuhkannya. Lenwa menyalakan kran, membasahi tangannya, lalu membasuh mukanya.
Wajah itu beberapa hari ini tak lagi sesegar dulu. Dia seperti menjadi seseorang yang lain. Mukanya terlihat capek dan berkerut-kerut. Ibarat buah apel yang sudah terlalu disimpan di almari es, mengerut dan tidak segar. Matanya berkabut.
Dia kembali membasuh wajahnya. Ketika matanya kembali menatap wajahnya di cermin yang kini tak sendirian. Di belakang wajahnya ada wajah orang lain. Lenwa menoleh ke kanan, tak ada siapapun di sana. Dia masih sendiri di toilet. Tetapi ketika ia menoleh ke cermin kembali, dia tak sendirian. Ada seseorang di sana.
Awalnya Lenwa sangat terkejut bahwa ada seseorang yang kini menemaninya ke manapun ia pergi. Seseorang yang selalu memandangnya dengan tatapan kosong dan mata merah. Seorang lelaki yang berambut cepak klimis. Pipinya dipenuhi jambang tipis, namun rapi. Di atas bibirnya ada kumis tipis yang juga rapi. Tipe gaya model luar negeri. Tubuhnya tampak kurus. Dialah yang kini selalu ada di dekat Lenwa.
Kejadiannya bermula dari malam itu di Galeri Mahakarya. Dia hampir pingsan dan menabrak pintu cermin di lantai dua. Dia melihat dirinya di kaca pintu berubah menjadi orang lain; muka pucat, mata merah, rambut berantakan. Lalu dia mundur beberapa langkah, memastikan bahwa itu memang dirinya. Dia menepuk-nepuk pipinya. Dan memang dirinya, bukan orang lain. Dia pun berlari ke toilet, memeriksa di cermin toilet yang lebih jelas. Betapa kaget dirinya ketika ia mendapati dirinya tak sendiri lagi.
Ada seseorang yang berada di belakangnya. Yang tak kasat mata.
Dan orang itu kini terus menerus mengikutinya. Berada di belakangnya dan kadang berbisik lirih di telinganya. Suaranya itu sangat lirih. Menyapu telinganya. Akhir-akhir ini dia jadi sering berhalusinasi. Dia seperti berbicara dengan orang itu. Dan lama kelamaan suara orang itu menjadi keras.
“Mengapa kamu masih menghubunginya?” tanya orang itu. Matanya menatap Lenwa. Suaranya membuat gendang telinga Lenwa sakit.
“Aku memastikan agar dia tidak datang menemuiku. Bukankah itu yang kamu mau?” Lenwa menatap orang itu tajam.
Orang itu tersenyum sinis dan mengangguk mantap.
Ben Lenwa menutup telinganya saat orang itu kemudian tertawa terbahak. Jenis tawa yang menurutnya sangat buruk. Dia menoleh ke kanan, orang itu sudah tidak ada lagi. Lenwa menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan. Dia harus segera pergi. Dia tak ingin kembali menatap lama-lama cermin. Dia tak ingin bertemu dengan orang itu untuk saat ini.
Lenwa melihat jam tangannya. Sudah hampir jam 3. Sebaiknya dia segera pulang. Karena ia tahu, orang itu pasti akan segera sampai rumah sebelum ia datang. Lenwa takut, orang itu akan mengganggu Gru dan Naya lagi.
# # #

Gru turun dari sepeda di garasi. Belum ada mobil papa padahal hari sudah hampir jam lima sore. Hari ini untung latihan futsalnya tidak selarut seperti minggu lalu. Gru tak ingin kena marah lagi.
Tadi dia ditelepon mamanya bahwa mamanya lagi pergi ke supermarket sebentar. Ada sesuatu yang harus dibeli. Gru ingin menunggu mamanya saja di taman komplek yang dekat dengan lapangan futsal. Tapi teman-temannya satu persatu sudah pulang. Jadi daripada bosan, Gru pulang terlebih dahulu. Dia sudah tahu letak kunci: di bawah pot bunga mawar. Begitu isi SMS dari mamanya.
Tapi Gru tidak segera masuk ke dalam rumah. Dia menunggu di teras depan. Kejadin beberapa hari lalu masih membekas di otaknya. Dia tak ingin mengalami hal menyeramkan itu lagi. Jadi dia duduk di depan rumah saja sambil menunggu mamanya.
Gru mengeluarkan ponselnya yang kini sudah dikembalikan oleh papanya. Dia membuka aplikasi games untuk mengusir kebosanan. Bocah itu sangat asyik bermain sampai tidak menyadari ada seseorang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang anak kecil seumurannya. Dia memandang Gru tanpa kedip. Tapi lama kelamaan Gru menyadarinya juga.
“Hai…” sapa Gru. “Ada yang bisa kubantu?”
Anak kecil itu menggeleng pelan.
“Kamu anak baru di kompleks sini, ya? Aku belum pernah melihatmu.”
Anak itu mengangguk.
“Di mana rumahmu?”
Anak itu menunjuk satu rumah di seberang rumah Gru.
“Di samping rumah Pak RT?”
“Iya, rumah yang tadinya kosong.” Akhirnya anak itu bersuara. “Apakah kamu mau bermain denganku?” anak itu memperlihatkan benda yang sejak tadi ada di tangan kirinya. Gru baru menyadari bahwa benda itu adalah mainan kereta api.
“Kamu suka kereta api?” tanya Gru. Anak itu mengangguk. “Aku punya banyak. Mau lihat?” tanya Gru lagi. Anak itu mengangguk. “Oh iya, siapa namamu?”
“Andika,” jawabnya pendek.
“Aku Gru.” Gru menjabat tangan Andika. Ia lalu mengajak Andika untuk masuk ke dalam rumah. Gru menyalakan semua lampu rumah agar terlihat terang.
Kedua anak itu lalu pergi ke kamar Gru di lantai dua. Di sana, Gru mengeluarkan semua mainan kereta apinya. Andika tampak senang melihatnya. Dia memilih beberapa mainan.
“Aku sendang menyelesaikan ini. Hadiah dari papa.” Gru mengambil mainan kereta api kayu di meja yang masih terdiri dari satu gerbong. “Ada 4 gerbong lagi yang belum kususun, tapi belum kuselesaikan. Kamu mau bantu.”
“Dengan senang hati,”
Hampir satu jam mereka bermain bersama. Baru dua gerbong yang mereka selesaikan.
“Aku ambilkan minum dulu ya di bawah. Kamu pasti haus.” Tanpa menunggu persetujuan dari Andika, Gru berdiri dari duduknya lalu keluar dari kamar untuk mengambil air minum di ruang makan.
# # #

Mobil Naya masuk ke pekarangan rumah, lalu berhenti di garasi. Naya mematikan mesin mobil dan mengambil barang-barang belanjaannya di baris kedua. Saat melihat sepeda Gru sudah ada di tempatnya, Naya merasa lega.
Anak itu sudah pulang.
Naya segera masuk ke dalam rumah. Ruang tamu tampak terang benderang. Naya melepas sepatu dan meletakkannya di tempatnya. Ruang makan tampak terang benderang dan ia mendengar bunyi berisik di sana.
“Hai, Mom,” sapa Gru saat Naya sudah sampai di ruang makan.
“Sedang buat apa kamu berantakan gini?” Naya melihat tempat es batu, beberapa potongan es yang berceceran, plastik orange juice sachet, dan sedikit tumpahan orange juice di meja makan.
“Ada teman sedang main. Gru buatkan dia minum. Untung ada dia, jadi Gru tidak ketakutan ada di rumah sendirian.” Gru mengacungkan gelas yang sudah terisi orange juice. “Ayo ikut Gru ke kamar, Gru kenalkan ke dia.” Gru menarik tangan Naya. Naya tak menolak. “Namanya Andika, dia tinggal di dekat rumah Pak RT di depan rumah. Itu lho Mah, rumah yang dulunya kosong. Anaknya lucu deh, dia juga suka mainan kereta api. Kami berdua sudah menyelesaikan 2 gerbong mainan kereta api kayu hadiah dari Papa yang belum Gru selesaikan.”
Naya hanya menjadi pendengar yang baik saat Gru menceritakan tentang temannya.
Pintu kamar Gru tampak terbuka. Gru dan mamanya masuk. Tetapi mereka berdua tidak menemukan Andika ada di sana. Mainan-mainan Gru masih berantakan di lantai.
“Mana temanmu?” tanya Naya.
“Tadi di sini kok,” jawab Gru. Dia kemudian memeriksa toilet. Siapa tahu Andika kebelet pipis dan pergi ke toilet. Tapi tidak ada siapa-siapa di toilet. Beberapa kali Gru memanggilnya, tapi tetap tidak ada sahutan.
“Mungkin dia sudah pulang,” kata Naya.
“Ya mungkin. Nih, buat mama aja.” Gru menyodorkan gelas di tangannya ke mamanya. Naya menyambut gelas itu dan mengucapkan terima kasih. “Aku coba cek ke rumahnya deh.” Gru meminta ijin ke mamanya.
Tanpa menunggu persetujuan mamanya, Gru berlari menuruni tangga dan pergi keluar rumah. Saat tiba di teras rumahnya, matanya melihat ke arah rumah Andika.
Gru melihat Andika sedang bersama seseorang di sana. Tampak anak itu sedang dimarahi oleh—mungkin ayahnya. Orang itu menjewer telinga Andika. Tampak raut mukanya yang kesakitan. Orang itu lalu menggandeng paksa tangan Andika memasuki rumah.
Di depan pintu, Andika menoleh ke rumah Gru. Dia melihat Gru sedang mengamatinya. Dan dia tersenyum kecil.

# # #

Baca kelanjutannya di sini.
[SERIAL] MATA RANTAI (8) [SERIAL] MATA RANTAI (8) Reviewed by Wignya Wirasana on 5/23/2015 Rating: 5

2 comments:

  1. Typo....
    Aku saya di satu kalimat.
    Sendang
    Kamu mau membuatku mati mendadak?” tanya Janero sambil kembali menjalankan mobilnya---- hrsnya Juna
    Hal ini membuat Juna bisa sedikit berlama-lama memandang dirinya---- hrsnya Lenwa


    wooo siapa yg bersama Lenwa??? Jgn2 anak yg sama Gru jadi2 an. Hem.... Ariana, jgn terpesonaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk koreksinya.

      Saya benar-benar masih kacau untuk masalah editing nih. Hehe...Mungkin karena kejar target kali yah hahaha....

      Siapa yang bersama Lenwa? Ia adalah orang yang akan menjadi kunci secara total untuk cerita ini. Meskipun dia bukan central, tapi dia yang akan membuka semua kasus di Mata Rantai. (spoiler banget)

      Ariana jangan terpesona? hahaha...kenapa gitu?

      Delete

Powered by Blogger.