[SERIAL] MATA RANTAI (13)

Belum baca Mata Rantai Episode sebelumnya? Baca di sini.

BAB 16
Juna terpental dari ruang hitam, tubuhnya seperti disedot, lalu ditiup paksa keluar. Rohnya hampir saja menyatu dengan tubuh, tetapi seperti ada tangan yang kembali menarik. Menyeret kembali ke ruangan hitam berdinding merah maroon. Terjatuh. Pantatnya menumbuk lantai keras, lalu kepalanya menyusul. Pening. Mata Juna mengeruh, tetapi dia masih bisa melihat dengan jelas ada seseorang yang berdiri menghalangi pintu bercahaya yang akan dilewatinya. Orang itu bukan Andika, bukan juga Lenwa.
Orang itu adalah dirinya.
Juna melihat badannya. Tubuhnya masih ada. Tetapi orang di depannya sekarang memang dirinya. Baju, celana, rambut, mata. Semua sama. Orang itu berdiri dengan dagu terangkat. Terdiam, memandang ke arah Juna.
Juna dengan susah payah menopang tubuh, lalu berdiri menapak lantai. Dia tak gentar mendekati orang itu. Sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan hal-hal aneh, termasuk saat ini.
“Siapa kamu?” tanya Juna dengan lantang.
Orang itu menyeringai. Dagunya masih terangkat. Saat membuka mulut, terlihat gigi-giginya yang menghitam. “Aku dirimu. Juna.”
Juna berasumsi bahwa orang itu adalah Andika yang menyamar menjadi dirinya. Bukankah tadi dia juga menjadi Lenwa. Jadi jelas sangat mungkin saat ini, Andika merubah diri menjadi Juna. Untuk mengelabuhinya. Iblis memang selalu punya cara untuk membelokkan akal sehat.
Juna mendengus, membuang paksa nafasnya yang mulai berat. “Iblis. Kamu pasti iblis. Apa yang kamu inginkan dariku? Saat ini, aku akan meladeninya. Aku tidak takut,” tantang Juna. Mukanya menyalak tajam.
“Aku bukan iblis.” Dia berpaling. “Aku ada dalam dirimu, Juna. Kita terlahir bersama. Apakah kamu tak pernah menyadarinya?” Matanya kembali menatap Juna.
Pandangan orang di depan Juna, membuat pemimpin Mata Rantai itu terkesiap. Keduanya saling tenggelam dalam mata orang di depannya. Mereka seperti terhubung.
Mendadak kepala Juna terasa pening. Suara-suara itu kembali muncul. Juna menutup telinganya yang mulai sakit.
Dia teringat dengan perkataan Dilan waktu itu. Dia terlahir memiliki dua roh. Dua roh yang bersemayam dalam satu tubuhnya. Dan itu adalah satu kesalahan.
Menurut Dilan, dua roh yang sama-sama baik, tak seburuk jika satu roh baik dan satu roh jahat. Dan menurut Dilan juga, dua roh yang berada di dalam tubuh Juna adalah sama-sama baik. Namun, tubuh manusia tak bisa dibenamkan oleh dua roh. Itu satu ketidakseimbangan hidup. Dan dua roh itu akan menjadi bumerang dalam tubuh manusia. Karena saling tarik menarik, ingin membunuh satu sama lain, ingin menguasai. Meskipun dua roh itu sama-sama baik. Itu tetap satu kesalahan. Suatu saat, roh itu akan saling mempengaruhi.
Apakah orang di depanku kini adalah….roh lain yang bersemayam di tubuhku? Batin Juna.
“Apa maumu?” tanya Juna semakin lantang.
“Apakah kamu ingin berniat memusnahkanku?”
“Memusnahkanmu?”
“Jangan pernah menyatukan roh kamu, Juna. Aku tak akan mengijinkannya. Aku akan menghalangi kamu untuk mengambil batu itu.” Dia terkekeh. Dia berputar. Lalu kembali berbalik. Kali ini dengan muka merah, mata yang tajam berwarna merah menyala, gigi hitam.
Dia kemudian berlari, menembus tubuh Juna. Juna terpental, seperti ada sesuatu menghantam ulu hatinya.
Juna menoleh dan ia tak menemukan rohnya.
# # #

Sudah hampir sejam roh Juna pergi, tapi Juna belum kembali ke tubuhnya. Ariana menggigit bibir bawahnya, khawatir. Jangan-jangan ada apa-apa? Pikir Ariana. Beberapa kali Juna terlihat memberontak dan keluar keringat dingin. Ariana bisa merasakan ketakutan Juna berada di rungan yang gelap berdinding merah maroon. Banyak roh, iblis bergentayangan di mana-mana. Juna baru pertama kali berada di ruangan itu. Pasti dia ketakutan dan kebingungan.
Karena Ariana pun pernah mengalami hal yang sama.
Dulu saat remaja berumur 17 tahun, masa dimana dia baru sibuk-sibuknya kuliah, dia pernah mengalami kecelakaan motor sewaktu pulang mengerjakan laporan praktikum di kampus. Malam itu di Jogja begitu dingin, dia pulang seorang diri. Dan kecelakaan itu terjadi. Dia tersungkur dari motornya, masuk ke kolong truk yang menabraknya. Untung saja dia masih selamat, meskipun dia harus koma selama sebulan.
Selamat sebulan itu, dia tak tahu bahwa tubuhnya terbaring lemah di RS Dr. Sardjito. Dia tak tahu bahwa kakeknya terus menerus menangis di sampingnya sambil berdoa untuk kesembuhan cucu kesayangannya. Yang ia tahu, dia tersesat di sebuah lorong gelap berdinding merah maroon. Lorong itulah yang menemani ketakutannya menuju sebuah ruang gelap. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang berwajah pucat dengan bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berkepala pecah, bermata satu, bertangan satu. Ada yang menjerit, ada yang menangis di pojokan. Dan tak ada yang peduli dengan kedatangan Ariana.
Ariana menangis seorang diri, sambil terus berteriak memanggil nama kakeknya. Namun, dia tak menemukan siapa pun. Orang-orang yang ia temui tak banyak membantu. Dia kemudian bertemu dengan seorang kakek-kakek bertubuh tegap di satu lorong. Hanya kakek itulah yang mukanya tidak pucat.
“Sedang apa kamu di sini? Kamu manusia, kan?” pertanyaan itulah yang kali pertama kakek itu lontarkan kepada Ariana.
Ariana yang tidak tahu apa-apa, langsung saja menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kakek itu terkejut dan langsung menarik lengan Ariana.
“Dengarkan aku, ini bukan duniamu. Tempat ini adalah tempat para roh penasaran dan iblis-iblis pengganggu. Kamu harus segera pergi.”
Kakek itu kemudian menceritakan secara singkat tentang ruangan gelap itu kepada Ariana. Ariana tampak terkesiap dan tak tahu harus berbuat apa. Untung saja, kakek itu membantunya. Dialah yang menunjukkan jalan menuju pintu bercahaya. Dan sejak melewati pintu itu, dia kembali ke dunianya. Ke dalam tubuhnya.
Sejak kembali, dia masih saja mengingat ruangan gelap berdinding merah maroon. Dia menceritakan kejadian itu kepada kakeknya. Bahwa ia tersesat di suatu ruang yang tak ia tahu. Kakeknya kemudian membawa Ariana ke rumah seseorang paranormal. Menurut kakek, Ariana harus ‘dibersihkan’.
Betapa terkejutnya Ariana, ketika paranormal itu adalah kakek yang membantunya keluar dari ruangan gelap. Paranormal yang ternyata adalah sahabat dari kakeknya sendiri. Paranormal yang kemudian mengatakan bahwa Ariana memiliki bakat untuk ‘berkelana’ menuju tempat di antara dunia dan akhirat. Tempat para roh-roh penasawan dan iblis-iblis pengganggu.
Setahun setelah kejadian itu, kakek Ariana meninggal. Ariana tak memiliki siapapun lagi. Kedua orang tuanya telah tiada karena kecelakaan saat Ariana berumur 5 tahun. Sejak saat itu, kakeknyalah yang merawat dan membesarkannya.
Sebelum kakeknya meninggal, dia sempat menuliskan surat kepada temannya yang paranormal itu. Isi suratnya sangat sederhana : ‘Aku menitipkan cucuku padamu’. Paranormal itu kemudian meminta Ariana untuk bekerja di perusahaannya. Sebuah perusahaan non-government yang menangani kasus-kasus alam gaib. Ariana diangkat menjadi asisten pribadi si paranormal.
Nama paranormal itu adalah TUAN MATA.
# # #

Kekhawatiran Ariana berakhir saat ia melihat mata Juna bergerak-gerak. Juna telah kembali ke tubuhnya.
“Syukurlah kamu segera kembali,” ucap Ariana. Dia menyodorkan segelas air putih kepada atasannya itu.
“Berapa lama aku pergi?” tanya Juna.
“Sejam. Cukup lama. Apakah kamu tersesat Tuan?” tanya Dede.
Juna menggeleng. Aku tidak tersesat, tapi aku bertemu dengan orang-orang aneh di sana. Dia segera teringat dengan beberapa orang yang ia temui.
“Andika. Aku bertemu dengannya. Tapi aku rasa, dia bukanlah seorang anak kecil seperti yang Gru ceritakan. Dia mungkin….menjelma. Aku belum memastikan, tetapi dia hampir saja membunuhku.” Juna memandang orang di sekitarnya satu persatu. “Dia juga mengatakan bahwa aku tidak boleh lagi datang ke rumah ini, mendekati Gru.” Seperti ada sengatan listrik tegangan tinggi, Juna teringat akan Gru. “Di mana, Gru?”
“Gru tadi diminta ayahnya untuk ke kamar,” jawab Naya. “Ada apa?” tanyanya khawatir, seperti membaca keresahan Juna.
“Ke kamar? Bersama Lenwa?” tanya Juna lantang. Naya mengangguk. “Shit.”
Juna melompat dari tempat duduk. Bayang-bayang wajah Lenwa dengan muka menyeramkan dan tawa licik membuat Juna berasumsi yang macam-macam.
Andika. Lenwa. Andika kecil. Apakah mereka satu orang? Lalu mengapa mereka menginginkan Gru?
Suara langkah lari mengikuti Juna. Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pemimpin Mata Rantai itu.
“Mana kamar, Gru?” tanya Juna. Tak sabar dengan jawaban dari siapa pun itu, Juna membuka satu pintu. Kamar dengan cat warna biru tua, bed cover dengan gambar Spiderman, mainan kereta api yang tertata rapi. Ini pasti kamar Gru, batin Juna. Namun di sana, tak ada siapa pun.
“Gru,” panggil Juna keras.
Naya yang ikutan masuk ke kamar itu terlihat panik. “Juna, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak mengerti.”
Juna berpaling ke wajah Naya. “Aku tidak tahu. Tapi aku beranggapan bahwa apa yang terjadi di rumah ini memang ada hubungannya dengan Gru. Mungkin saja mereka menginginkan Gru.”
Naya menutup mulut yang sudah menganga kaget. “Tak mungkin.”
“Mana kamarmu?” tanya Juna.
Naya membimbing Juna dan yang lain menuju kamarnya yang letaknya berseberangan dengan kamar Gru.
“Gru pasti sedang tidur di kamarku bersama ayahnya. Anak itu memang suka sekali mengganggu ayahnya. Dia pasti juga akan beradu pendapat tentang beberapa ilmu pengetahuan yang baru saja ia baca. Dia sangat hobi baca seperti ayahnya. Oh, pasti dia juga berdiskusi tentang kereta api. Dia pasti….” Perkataan Naya terhenti bersamaan dengan terbukanya pintu kamarnya. Nihil, tak ada siapa pun di dalam kamar itu.
Juna menyusup masuk ke dalam kamar diikuti oleh para asistennya. Dia memeriksa beberapa sudut dan juga kamar mandi. Kosong. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang di sini.
“Dede, apakah Pelancak Hantumu sudah berfungsi lagi?” tanya Juna.
“Sinyalnya masih merah. Sebentar, aku harus keluar.” Dede, kemudian disusul oleh Dodo, berlari keluar dari kamar Naya.
Juna mencoba menyusun puzzle di pikirannya. Seberat inikah pekerjaannya sekarang? Mungkin dulu dia akan senang saat harus membuat presentasi hingga larut malam dan mempersiapkan meeting dengan klien keesokan harinya. Dia sangat antusias berdiskusi dengan Fernando di kedai kopi favoritnya hingga pagi. Karena dia menikmati itu semua. Apalah yang lebih menyenangkan daripada bekerja sesuai kesenangan kita. Passion kita. Juna merasa bahwa pekerjaannya sekarang bukanlah dunianya. Dia mulai kalah. Belum lagi dia harus menghadapi kenyataan tentang dua roh di tubuhnya, yang kini mulai mengusiknya perlahan.
Pundak Juna ditepuk oleh seseorang. Juna menoleh dan mendapati Ariana ada di sampingnya sambil tersenyum.
Are you OK?” tanya Ariana.
Jika harus ada alasan untuk bertahan di pekerjaan ini, selain karena ayah kandungnya, mungkin itu karena Ariana. Wanita yang cerdas dan selalu menentramkan hatinya.
I’m fine,” jawab Juna berbohong.
Suara lengkingan Dede dari depan rumah mengejutkan mereka. Juna, Ariana, dan Naya segera berlari ke depan.
“Ada apa?” tanya Juna.
Dodo menyorongkan laptopnya dan memperlihatkan apa yang telah terjadi. Titik merah dengan sinyal sangat kuat ada di rumah Andika. Titik itu berkedip-kedip sangat cepat.
“Kita harus ke sana,” perintah Juna kepada yang lain.
“Oh, Gru….” Isak tangis Naya pecah. Wanita itu sesegukan sambil menutup muka.
Juna melirik Ariana dan memberi isyarat agar dia menenangkan Naya. Naya mengangguk.
Juna, Dodo, Dede, dan Gordon berlari ke rumah Andika. Rumah bergaya modern minimalis itu mungkin tampak seperti rumah yang lain. Namun, ketika mereka berempat semakin dekat, suara sinyal dari Pelancak Hantu semakin kuat. Dodo terus mengamati laptopnya.
“Harusnya kamu bawa tablet,” tukas Dede dan diamini oleh Dodo. Dodo memang sedikit kerepotan ketika harus membawa laptop 13 inchi sambil berlari seperti sekarang.
Pintu rumah Andika terbuka. Juna langsung masuk ke rumah itu. Dia terkejut saat melihat rumah itu sangat berantakan. Kursi tak ada di tempatnya, barang-barang jatuh di lantai. Hal ini menguatkan asumsi Juna. Andika memang akar masalahnya.
“Ke sana,” Dodo mengacungkan telunjuknya ke sebuah ruang yang pintunya tertutup. Dari Pelancak Hantu dia melihat sinyal yang kuat dari ruang itu.
“Gordon, kamu masuk duluan.” Perintah Juna.
“Aku?” Gordon menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, kamu. Ayo.”
Dodo dan Dede cekikikan melihat perubahan wajah Gordon. Mereka berdua tahu bahwa Gordon adalah manusia paling penakut seantero Mata Rantai. Badannya saja yang gedhe, tapi tontonannya SNSD.
“Ada tikus?” tanya Gordon.
Dodo dan Dede semakin cekikikan.
Perlahan Gordon berjalan ke ruangan yang ditunjuk oleh Dodo, sementara yang lain memeriksa ruangan lainnya.
Gordon perlahan membuka pintu. Suara derit pintu menambah kesan menyeramkan dan bulu kuduknya sudah menegang sekarang. Dalam hati dia terus berdoa agar dia tidak menemukan tikus, kecoa, atau manusia tanpa kepala di dalam ruangan. Dia terus komat-kamit berdoa.
Tuhan, lindungi hambaMu ini. Tuhan, lindungi hambaMu ini.
Saat pintu terbuka lebar, Gordon melihat Gru sedang terduduk lemas di lantai. Gordon masuk ke dalam ruangan, lalu menggoyang-goyang tubuh Gordon. Tidak ada reaksi.
“Ada Gru di sini,” teriak Gordon.
Bertepatan dengan teriakannya, pintu ruangan seperti didorong oleh angin kencang. Pintu itu menutup dengan keras. Dan di balik pintu itu, ada Lenwa dengan mata yang menyala merah. Tangan kanannya memegang pisau daging besar.
Lenwa menyeringai menyeramkan. Dia maju ke depan, lalu menubruk Gordon. Untung saja Gordon bisa menghindar sehingga pisau daging yang diayunkan oleh Lenwa tak sempat menancap ke tubuhnya. Gordon mendorong tubuh Lenwa dengan kuat. Lenwa terpelanting jatuh, tetapi dia masih bisa berdiri dan berlari ke arah Gordon. Mereka bergulat di atas lantai.
Pintu di dobrak oleh Juna. Dia terkejut melihat Gordon dan Lenwa yang tengah bertarung di atas lantai. Saling mendekap.
Juna menarik kerah belakang Lenwa, lalu menyeret tubuh itu menjauhi Gordon.
“Gordon pegang kakinya,” teriak Lenwa. Gordon meraih kedua kaki Lenwa yang memberontak. “Dodo, ambil kursi. Kita ikat Lenwa di kursi. Dede, ambilkan gorden lalu tutup kepala Lenwa. Segera.”
Kedua asisten Juna dengan sigap menuruti perintah atasannya.
Beberapa saat kemudian, Lenwa sudah terduduk memberontak di kursi dengan muka yang tertutup kain gorden. Gordon memegang kakinya, sentara Dodo yang bertubuh gendut memegang tubuh Lenwa yang terikat.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dede panik.
“Harusnya aku bertanya ke kalian yang sudah tahunan mengurusi hal seperti ini,” ucap Juna. Dia sendiri tak tahu harus berkata apa.
“Dia dirasuki. Kita harus membebaskan roh yang merasukinya dari dalam tubuh Lenwa. Jika tidak, roh itu akan menguasai tubuh Lenwa. Hal itu akan mengakibatkan ketidakseimbangan di dalam tubuhnya,” ujar Dede. “Kita harus membebaskannya.”
“Caranya?” tanya Juna.
Dede memandang atasannya. “Kita tak mungkin menunggu seorang kyai ke sini untuk membacakan surat-surat panjang. Kita tak ada waktu. Satu-satunya cara adalah Tuan harus kembali ‘berkelana’ lagi. “
Mendengar penjelasan Dede, Juna tampak takut. Dia membayangkan kembali ke ruangan gelap yang dipenuhi iblis itu. Dia akan berhadapan lagi dengan rohnya.
“Hanya itu caranya?”
Dede mengangguk.
“Baiklah, aku akan berkelana.”
“Aku ikut.”
Juna menoleh ke arah asal suara. Dia melihat Ariana di sana.
“Apa maksudmu?”
“Aku akan ikut bersamamu. Aku bisa ke ruangan itu juga.”
“Tidak, tidak, kamu tidak boleh ke ruangan itu.”
“Aku pernah ke sana.”
Juna terdiam.
Ariana menarik nafas panjang, lalu duduk bersandar pada dinding. Juna memperhatikannya, tetapi dia kemudian ikut duduk.
“Berdua lebih baik,” ucap Ariana.
Juna mengangguk.
# # #
baca kelanjutannya di sini


[SERIAL] MATA RANTAI (13) [SERIAL] MATA RANTAI (13) Reviewed by Wignya Wirasana on 6/27/2015 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.