[SERIAL] MATA RANTAI (18)


Belum baca episode sebelumnya? Baca di sini : MATA RANTAI 17.
BAB 21
Di Gedung Mata Rantai.
Berita Ronero yang bunuh diri dengan menyayat tangannya lalu menggantung tubuhnya di tali, seperti sebuah bom atom yang meledak di malam hari. Ariana sedang membaca Jurnal di ponsel di ruang kerjanya, ketika ia mendengar berita itu. Malam ini, dia memang belum kembali ke apartemennya karena sedang ada beberapa kerjaan yang harus ia kerjakan. Bunyi sirine yang memberitahukan adanya tanda bahaya meraung-raung. Beberapa saat kemudian, Arya meneleponnya dan memberitahu bahwa ada seseorang yang bunuh diri di lobi.
Ariana lalu berlari menyusuri lorong Mata Rantai. Sesampainya di lobi, suasana sudah ramai. Mayat Ronero berputar-putar di langit-langit dan darah terus menetes dari tangannya. Lidahnya menjulur pucat keluar dari mulutnya. Tak ada yang berani menyentuhnya. Setengah jam kemudian polisi datang dan melakukan prosedur penanganannya. Line polisi warna kuning segera membujur di area lobi.
Kasus ini kali pertama terjadi di Mata Rantai. Dan yang lebih mengejutkan lagi, orang yang bunuh diri adalah Ronero, salah satu Chief Mata, yang sehari sebelumnya memimpin masa untuk berdemo.
Orang-orang di wawancara terkait kasus ini. Muka-muka cengo tak mengerti dengan apa yang terjadi. Semua shock dengan kejadian ini. Namun, dari semua orang yang ada, Gasing Purwanto adalah orang yang paling shock. Sejak orang-orang datang menemukannya terkapar dengan muka pucat di lantai, dia tak banyak bicara.
Ariana berdiri tak jauh dari mayat. Apa yang membuat Ronero melakukan perbuatan paling dibenci oleh Tuhan ini?
Ariana menatap Juna yang tampak berdiri beberapa meter di depannya dengan tubuh tegang. Sejak datang bersama Arya, Juna tak banyak cakap. Beberapa kali polisi menanyainya, namun justru Aryalah yang menjawab.
Juna balik badan. Matanya menatap Ariana yang berdiri di belakangnya sekilas. Muka Juna tampak mengeras dengan mata sayu kelelahan. Dia hanya menyunggingkan senyum sedikit, lalu membuang muka dan berjalan cepat meninggalkan kerumunan di lobi. Arya masih sibuk menanggapi polisi yang menanyainya.
Ariana seperti melihat sisi Juna yang lain. Dia tak lagi melihat seorang pria yang mencium wanita di gang kemarin malam, dia tak melihat wajah arogannya ketika memerintah. Kali ini, Juna seperti seorang anak kecil yang baru saja ketahuan membeli es krim padahal dilarang oleh orang tuanya. Apa yang sedang ia pikirkan?  
Ariana menoleh dan menatap bagian punggung Juna yang berjalan menjauh. Juna berhenti di depan lift, kemudian dia menghilang di dalam lift. Ariana menarik nafas. Apakah aku harus menyusulnya? Dia terlihat sangat tertekan dengan kejadian malam ini.
Pikiran Ariana bergejolak. Sifat egoisnya muncul. Ia mengingat kejadian beberapa hari ini. Juna yang mendekatinya, lalu kejadian malam itu setelah ia memergoki Juna sedang bercumbu dengan seorang wanita di klub malam. Dada Ariana sesak mengingat hal ini. Tetapi, malam ini Juna membutuhkan dukungan. Ariana tahu, dia sangat tertekan malam ini.
Ariana memutuskan untuk menyusul Juna. Dia berjalan cepat ke arah lift, menekan tombol angka 12, lalu masuk ke dalam lift. Lift membuka di lantai 12, dia keluar, berjalan cepat menyusuri lorong, lalu keluar melalui tangga darurat. Di ujung anak tangga, dia menyentuhkan tangannya setelah memastikan tak ada siapa pun di sana. Sebuah sinar biru menandai tangannya. Ia mengangkat tangan dan menyisakan bulatan yang mengeluarkan sinar biru, hijau, dan merah. Mata Ariana mendekat dan ketiga sinar itu mendeteksi retinanya.
AKSES DITERIMA.
Dinding di depannya terbuka. Ariana cepat masuk ke dalam lift yang mengantarkannya ke lantai 13. Di depan pintu ruangan lantai 13, Ariana meyakinkan dirinya sendiri apakah dia akan menemui Juna atau tidak. Dia menarik nafas, lalu mendorong pintu di depannya.
Sepi. Ariana tak melihat siapa pun di sana. Ariana berjalan ke ruang tengah dan barulah di sana dia melihat Juna sedang berdiri di dalam ruangan merokok yang tertutup oleh kaca bening. Asap rokok mengelilingi tubuhnya, di tangan kirinya memegang segelar bir dingin yang menyisakan gelembung-gelembung kecil.
Ariana berjalan mendekat ke ruangan merokok. Dia berdiri di depan pintu dan berharap Juna melihat.
Juna seperti menyadari kehadiran seseorang, dia menoleh. Dia memberi isyarat kepada Ariana untuk masuk ke dalam ruangan merokok.
Ariana mendorong pintu kaca di depannya. Pintu terbuka dan bau menyengat rokok menyerbu masuk ke hidung Ariana, menyesakkan bulu-bulu di sana. Ariana jadi teringat dengan suasana lorong di klub malam di mana ia melihat Juna sedang mencium seorang wanita. Rasa sesak di hidungnya tak bisa mengalahkan rasa sesak di dadanya waktu itu.
Ariana tak berkata apa-apa, menunggu  Juna bereaksi. Tetapi atasannya itu pun diam.
Beberapa kali Juna menghisap dalam rokok di tangannya, bergantian dengan tegukan bir. Setelah menegak habis bir, dia menaruh gelas bir di kursi bar di sampingnya. Tetapi malangnya, gelas itu tak berdiri dengan sempurna. Tubuh gelas oleng, berputar sebentar, lalu meluncur cepat ke lantai sebelum Juna menyelamatkannya. Tubuhnya berderai, seperti kapal Titanic yang menubruk gunung es di Samudera Atlantik. Tetapi Juna hanya melihatnya, membiarkan kaca gelas itu menjadi kepingan-kepingan.
Tubuh Juna mendadak terguncang. Pria itu terisak, mengeluarkan suara tangis kecil. Ariana tertegun saat melihat tubuh Juna ambruk di lantai, menyatu dengan kepingan gelas.
Ariana cepat merengkuh tubuh itu, tetapi tubuh Juna terlalu berat. Ariana bisa merasakan kerapuhan di tubuh itu. Dia memeluknya erat sambil mencoba menenangkan Juna.
“Hei, tenanglah,” ucap Ariana perlahan.
“Aku yang salah. Aku yang salah dengan semua ini. Harusnya aku tidak menerima tawaran Arya untuk memimpin Mata Rantai. Seharusnya aku menolaknya. Aku tak becus memimpin perusahaan ini.”
“Siapa bilang?” tanya Ariana.
Juna menoleh ke arah Ariana. “Kamu tidak melihat, semua orang kecewa dengan diriku. Orang-orang berdemo. Dilan meninggal. Ronero bunuh diri. Itu semua salahku.”
“Tidak ada hubungannya semua ini dengan dirimu, Juna. Kamu adalah orang yang tepat pilihan Tuan Mata untuk memimpin Mata Rantai.”
“Kamu tidak tahu Ariana, kamu tidak tahu. Beberapa malam ini, aku bermimpi hal yang sama. Aku bermimpi tentang keruntuhan Mata Rantai. Semua orang meninggalkanku, termasuk kamu. Bukankah ini semua terjadi. Semua orang meninggalkanku dan dan….”
“Syuuutttt….” Ariana menggeleng. “Aku selalu percaya Tuan Mata memilih orang yang tepat untuk perusahaan ini, Juna. Meskipun beberapa orang mengkhianatinya, namun aku selalu yakin bahwa dia tak akan membiarkan Mata Rantai jatuh ke orang yang salah. Mengapa dia tak menyerahkan Mata Rantai ke kedua anaknya? Bukan karena kedua anaknya tidak memiliki darah mata. Aku yakin Tuan Mata tak sepicik itu. Namun karena dirimu. Mengapa dia tidak membiarkan pemilihan dewan langsung untuk mencari pemimpin Mata Rantai? Itu karena ia yakin dengan dirimu, Juna. Tuan Mata mempercayaimu. Dan apakah setelah kepercayaan itu, setelah apa yang kamu lewati selama ini, setelah apa yang kamu pelajari, kamu akan menyerah?” Ariana menatap hangat Juna. Ariana menarik nafas.
Juna menggeleng. “Aku takut. Aku takut mengecewakan semua orang.”
“Tak ada orang yang akan kamu kecewakan jika kamu sudah berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik.”
Ariana mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi kiri Juna. Dia tersenyum kecil. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Juna. Dan dia bisa merasakan deru nafas Juna yang memburu.
“Aku tak ingin mengecewakanmu, Ariana. Kejadian malam itu…”
Tangan lembut Ariana beralih ke mulut Juna. Dia menutupnya. Dia tak ingin mendengar penjelasan apa pun malam ini. Karena ia tahu, ada hal yang lebih penting dari penjelasan itu. “I know.” Ariana mengangguk kecil dan tersenyum.
Dalam keremangan cahaya di ruangan merokok, Ariana masih bisa memandang wajah Juna dengan sempurna. Dari semua bagian di wajah Juna, wanita itu paling menyukai mata dan bibir Juna. Mata Juna adalah bentuk sempurna ciptaan Tuhan. Mata itu kerap menenggelamkan hati Ariana. Mata kebiruan yang dinaungi oleh bulu panjang nan lentik dan alis mata yang tebal dan hampir menyatu. Kata orang, alis yang hampir menyatu adalah simbol kegalakkan dan kejantanan seseorang lelaki.
Dan bibir Juna adalah bibir merah merekah untuk ukuran seorang cowok. Dengan garis tebal berwarna merah itu, semua wanita pasti ingin dicium lelaki pemiliknya. Ariana bisa melihat kelembutan bibir Juna malam ini. Dia selalu membayangkan bahwa bibir itu sangat kenyal saat berciuman, tipe bibir lelaki yang pintar bermain dan membuat melayang seorang wanita.
Jika malam-malam sebelumnya Ariana hanya bisa bermimpi untuk menciumnya, malam ini dia tak bermimpi lagi. Ariana memejamkan mata, saat bibirnya perlahan bersentuhan dengan bibir Juna. Dan Ariana tak pernah salah, bibir itu memang sangat menyenangkan saat berciuman.
# # #

Di waktu yang sama, di bumi Jakarta yang lain.
Aryo Penangsang menjejakkan kaki di rumahnya. Mesin mobil baru saja mati dan perlahan ia berjalan menuju pintu. Ia tak ingin membuat keributan dan membangunkan orang-orang di rumah. Untung saja dia sudah memiliki duplikat kunci rumahnya. Ia berhenti di depan pintu, mencoba mencari-cari kunci di tas kecilnya dengan menggunakan senter dari lampu ponsel. Ia tergagap saat ponsel itu mendadak bergetar dan nomer tak dikenal berkedip-kedip.
Siapa yang malam-malam seperti ini menghubungiku?
Stafnya di Unit Pengelola (UP) Kawasan Monas tak mungkin menghubunginya selarut ini jika tidak ada hal yang penting seperti dua minggu lalu. Dua minggu lalu, tepatnya malam hari pukul dua belas, Penangsang baru saja mematikan laptopnya dan beranjak tidur. Istrinya sudah terlelap. Ponselnya bergetar dan nama salah satu stafnya ada di sana. Penangsang buru-buru mengangkatnya karena ia tahu pasti ada hal yang cukup penting sehingga anak buahnya itu menghubunginya.
“Ada apa?” suara Penangsang terdengar berat karena rasa serak lehernya. Padahal dia sudah menelan FG Troches sepanjang hari. Dia menjauh dari tempat tidur agar tidak mengganggu istrinya.
Suara anak buahnya terdengar kaku dan terbata. “Maaf mengganggu malam-malam Pak. Ta tapi, ada hal penting yang harus saya katakan segera.”
“Segera katakan. Kamu terdengar gugup. Aku tak ingin mendengarmu bilang kamu kencing di celana.” Pria setengah baya bertubuh tambun dengan perut buncit itu terkekeh.
Suara hening. Si penelepon seperti mengatur nafas. “Saya kebetulan sedang bertugas malam ini, Pak. Dan saya menemukan hal yang aneh di dekat peta kepulauan NKRI.”
“Hal aneh? Jangan membuatku bingung. Ada apa?”
“Suara berderak dari kursi di dekat diorama itu, Pak. Kursi bergeser sendiri. Awalnya saya mengira hal itu biasa saja. Namun, malam ini saya benar-benar melihatnya.”
“Melihat apa?”
“Seorang anak kecil. Sedang duduk di sana. Dan dia tiba-tiba menghilang.”
Malam itu, hujan mengguyur Jakarta. Suara si penelepon berlompatan di antara derasnya air hujan dan petir. Penangsang masih meragukan ucapan si penelopon. Maka dia hanya bisa menyarankan untuk tenang, meskipun hatinya sendiri tidak tenang. Kasus pencurian benda-benda di Museum-museum menjadi momok tersendiri untuk para pemimpin museum, termasuk dirinya. Sebagai penanggung jawab UP Kawasan Monas dia bertanggung jawab sepenuhnya untuk semua bagian di kawasan itu, termasuk menjaga aset-asetnya. Sebenarnya hal yang paling sulit baginya dalam mengelola kawasan itu adalah berhadapan dengan preman-preman PKL di sana. Untungnya, program penataan ulang dari pemerintah provinsi Jakarta sangat membantunya. Gubernur sangat konsen dengan penataan itu. Jadi masalah itu bisa terselesaikan segera. Kawasan Monas ditata dengan sangat apik dan menjadi magnet tersendiri sekarang. Masalah pencurian aset-aset juga menjadi perhatian khusus. Dibentuk tim gabungan untuk menjaga museum-museum di Jakarta, termasuk di Monas.
Tetapi malam itu, anak buah Penangsang seolah mendobrak kewarasannya. Dia bercerita bahwa beberapa malam ini, stafnya itu seperti diganggu oleh suara anak-anak kecil yang berseliweran di Monas. Awalnya dia mengira bahwa hal itu biasa. Dia pernah mendengar bahwa di setiap gedung-gedung di dunia ini, selalu ada ‘penunggu’nya. Ada yang menampakkan diri terang-terangan, ada juga yang hanya samar. Jadi ia pikir, itu biasa saja. Puncaknya adalah ketika malam itu stafnya bilang bahwa kursi-kursi bergeser sendiri dan ia melihat seorang anak kecil duduk di satu kursi.
Penangsang tak bisa berbuat apa-apa kecuali menghubungi seorang yang ia kenal di Mata Rantai, Arya. Teman kuliahnya itu, akhirnya mengutus seorang anak buah untuk menangani kasus itu. Dan selesai, anak kecil itu tak muncul lagi di hari berikutnya. Kredibilitas Mata Rantai untuk menangani kasus-kasus gaib memang tak diragukan.
Dua hari setelahnya, seseorang menghubunginya kembali. Seorang yang tak ia kenal dan mengaku bahwa ia adalah salah satu Chief di Mata Rantai. Dia meminta untuk bertemu, dan Penangsang pun setuju karena ia pikir hal ini berkaitan dengan kasus anak kecil di Monas.
Orang itu menawarkan hal yang sangat menggiurkan buatnya. Namun, dia bilang bahwa dia tidak boleh bilang kepada siapa pun, termasuk Arya.
“Dua Ratus Lima Puluh Juta akan saya berikan segera jika Bapak memperbolehkan saya untuk menggunakan ruangan paling atas di Monas. Satu malam saja. Nanti, di malam detik kabisat. Hanya satu malam. Tak ada yang tahu kecuali saya dan Bapak.”
Dan Penangsang tak segera memberikan jawaban. Ada semacam hal yang bergejolak di hatinya. Tentang kredibilitasnya sebagai pengelola UP Kawasan Monas, tentang kondisi keuangannya di rumah: anak pertamanya baru saja masuk Fakultas Kedokteran, anak keduanya yang sedang menempuh pendidikan di sekolah internasional di Jakarta, dan beberapa cicilan mobil dan rumah. Semuanya berkecamuk di dada. Tetapi malam itu, dia tidak menerima tawaran orang itu.
Orang itu hanya bilang bahwa jika dia berubah pikiran dia bisa menghubunginya segera. Dan selama beberapa hari ini, dia terus memikirkan tawaran itu.
Dia bisa menerimanya dan hanya dia sendiri yang tahu. Tak ada yang tahu, stafnya, istrinya, tak ada yang bakal ikut campur. Hanya dirinya. Dia hanya mengijinkan orang itu satu malam, apa susahnya? Orang itu bilang bahwa ia tak menggunakan ruangan itu hal-hal yang merusak. Jadi apa salahnya mengijinkannya?

Penangsang mengangkat teleponnya. Suara beratnya menyapa peneleponnya.
“Halo Penangsang, sudah tidur?” Suaranya sangat Penangsang kenal. Salah satu petinggi di provinsi ini.
“Oh, belum Pak. Mengapa menghubungi saya malam-malam seperti ini? Ada yang bisa saya bantu.”
“Oh tentu saja.” Suara penelepon tampak bersemangat. “Apakah saya bisa berbicara sebentar saja denganmu saat ini. Namun, saya ingin memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan ini. Termasuk istrimu.”
“Saya sedang sendiri.”
“Di mana kamu?”
“Di depan rumah. Saya baru saja pulang.”
“Oh, kamu pekerja yang teladan rupanya. Pantas Pak Gubernur begitu bangga padamu dalam mengelola kawasan Monas.”
“Terima kasih pujiannya, Pak.”
“Baiklah, saya tak ingin berlama-lama.” Peneleponnya itu menghela nafas. “Apakah beberapa hari lalu kamu bertemu dengan seseorang dari Mata Rantai?”
Deg. Dia tahu.
“Tenang saja, aku tak akan mengatakan kepada siapa pun, Penangsang.” Orang itu terkekeh kecil. “Saya justru ingin memperintahkan kepadamu.”
Jantung Penangsang mendadak berdegup kencang. Keringat dingin keluar perlahan di tengah dinginnya malam ini.
“Kamu sebaiknya menerima tawaran dia. Ini bukan sebuah tawaran dari saya. Tapi ini perintah. Saya bisa saja melaporkan hal ini kepada pihak penyidik. Namun, saya tidak mungkin sepicik itu padamu. Yang saya perintahkan, kamu terima tawaran orang itu. Tidak akan membahayakan untuk siapa pun. Kamu hanya perlu memberikan akses kepadanya satu malam dan memastikan semua pengaman di Monas tidak akan mengganggunya. Itu saja. Dan kita berdua aman, Penangsang.”
Penangsang menelan ludah, tak bisa berkata apa-apa.
“Dia menawarkan uang berapa? Dua ratus lima puluh juta?” Penelepon terkekeh. “Dia kemarin mengatakan kepada saya bahwa dia akan menambahkan uangnya. Lima ratus juga, untuk kamu saja. Saya tak akan meminta.”
Pikiran Penangsang berkelana. Uang sekolah anaknya, cicilan, dan sederet hal lain seperti rayuan manja yang mendayu-dayu.
“Bagaimana?” tanya penelepon itu.
“Apa yang harus saya lakukan.”
“Kamu hanya perlu menelepon Alexa Crain sekarang dan bilang bahwa kamu akan membantunya. Itu saja.”

# # #
[baca kelanjutannya di sini]

BACA DONGENG LAINNYA JUGA :
[SERIAL] MATA RANTAI (18) [SERIAL] MATA RANTAI (18) Reviewed by Wignya Wirasana on 7/28/2015 Rating: 5

1 comment:

  1. Halooo, Kak! Mau jadi bagian tim jelajah Kalimantan GRATIS? Ikuti lomba blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure" di sini http://bit.ly/terios7wonders2015 #Terios7Wonders

    Jangan sampai ketinggalan, ya!

    ReplyDelete

Powered by Blogger.