[ARTIKEL] ASMA NADIA DAN KREATIVITAS

8.8.15


Mengawali tulisan ini, maka saya akan flashback dulu ke tujuh hari yang lalu. Hari Sabtu minggu lalu, saya benar-benar sedang dalam fase down. Bukan hanya karena hati yang memang sudah terlalu lama patah hati sehingga timbul sarang laba-laba di mana aja, namun karena sedang bete aja dengan otak yang lagi mandek kreativitas. Dulu waktu kuliah di Teknik Industri, salah satu dosen favorit saya bilang bahwa hal yang paling menakutkan (selain ditolak cintanya, diputuskan, patah hati, ditinggalin) adalah ketika kreativitas kita tumpul. Karena kita tidak akan bisa berkarya tanpa kreativitas. So, hari Sabtu minggu lalu, saya benar-benar sedang ketakutan karena hal ini.
Jadilah hari itu saya benar-benar sedang melankolis sekali. Di kontrakan serasa hampa, di jalan serasa tidak bertenaga karena banyak melihat anak-anak muda berboncengan malam mingguan, di depan laptop terasa kosong melihat kursor berkedip tanpa ada tulisan apa-apa. Lalu saya putuskan untuk menonton.
Di depan loket, saya kebingungan mau menonton apa. Maka saya mundur sesaat, mengecek timeline 21cineplex.com dan melihat kira-kira ada film apa yang menarik. Saat itu, saya tiba-tiba tertarik dengan film Surga Yang Tak Dirindukan. Sebenarnya, saya pernah membaca tentang review film ini di twitter dan banyak yang bilang kalau bagus. Tetapi, saat itu saya belum ada keinginan untuk menonton. Tetapi sore itu, saya tiba-tiba pengen menontonnya. Jadi dengan hati yang down dan perasaan yang menye-menye, saya menonton film itu SEORANG DIRI.

A Review about The Film.
Well, awalnya saya sedikit skeptis tentang film ini. Apalagi isu yang diangkat adalah tentang poligami. Saya sempat kecewa dengan salah satu film nasional yang mengangkat tentang isu ini dan hal ini membuat saya sedikit meng-underestimate film Surga yang Tak Dirindukan.  Namun, dahi saya kemudian berkerut saat di credit title ada nama ASMA NADIA sebagai penulis novel SURGA YANG TAK DIRINDUKAN yang diangkat menjadi film. Kemudian otak saya beku. Timeline saya di twitter memang sempat penuh dengan promosi film ini, namun jujur saya nggak ngeh kalo film ini diangkat dari novelnya Asma Nadia. Oke, secara cerita saya yakin pasti ceritanya keren karena Asma Nadia memang salah satu penulis nasional yang bisa meramu ide cerita ‘sederhana’ menjadi sajian tulisan yang indah. Setidaknya itulah alasan saya untuk terus bertahan di kursi bioskop.
Dari awal, penikmat film langsung akan dihadapkan pada adegan pertemuan Pras (Fedi Nuril) dan Arini (Laudy C. Bella) yang lucu, menggemaskan, bikin iri semua makhluk-makhluk jomblo, dan dibalut dengan nuansa religi yang sederhana. Sepertiga film, kemudian semuanya berubah. Kuntz Agus langsung menyulap semua elemen film menjadi melankolis, penuh drama, dan juga pemandangan indah di kota Yogyakarta. Sepertiga akhir plot adalah kisah paling pilu dari film, banyak tangisan dan pengorbanan. So ibu-ibu yang kebetulan duduk di samping saya, banyak yang menggunakan bajunya untuk mengelap tangis. Oh damn, saya pun jadi ikutan terharu. Dan saya TIDAK TAKUT MENGAKUI bahwa ada satu titik dimana saya ikutan menangis.

Apa yang menarik?
1.     Saya orang Jogja. Dan Surga yang Tak Dirindukan menjadi semacam media untuk menyalurkan rasa rindu saya dengan kota terbaik versi saya ini. Pemandangan yang disajikan benar-benar membuat saya tersenyum sendiri karena mengingat betapa kota Jogja memang sangat indah. Saya acungin jempol untuk tim kameramennya yang bisa mengambil gambar Alun-alun, Plengkung Gading, Jembatan Kretek, Pantai Depok, Pantai Kwaru, dan Jalanan Hijau Pesawahan dengan sangat baik.
2.     Penghargaan setinggi-tingginya saya berikan kepada Art Director-nya yang bisa menyulap set-set lucu dan keren. Apalagi rumah Pras yang di tepi sawah dengan latar gunung Merapi yang hijau biru.
3.   Laudya C. Bella & Fedi Nuril menjadi penopang kesuksesan film ini. Akting mereka waktu bertengkar benar-benar patut mendapat penghargaan. Lihat perbedaan akting Bella ketika main di The Virgin dan Surga yang Tak Dirindukan. Sebagai pria, saya pun mengagumi dia.
4.  Ending ceritanya dibungkus dengan baik. Kita tidak diarahkan untuk mengartikan apakah poligami itu baik atau buruk. Kita diminta untuk memahaminya sendiri. Saya kira ini adalah langkah yang cerdas mengingat isu poligami adalah isu kritis.

Apa yang tidak menarik?
Well, karena saya terlalu asyik menikmati cerita dan terlalu terhangut dengan suasananya, saya jadi lupa untuk melihat apa-apa saja yang kurang. Namun memang ada beberapa hal yang sedikt mengganjal pikiran saya. Misal, adegan saat Pras baku hantam dengan preman-preman yang agak maksa. Siapa yang menolong pras? Mengapa orang itu tidak ada di rumah sakit. Yah, pertanyaan-pertanyaan kelogikaan itu saja sih.
Ada satu hal lagi yang sedikit mengganggu selama film : Banyak terselip iklan produk-produk di beberapa scene. Oh man, itu memang promosi jenius, tapi cukup mengganggu aja karena adegannya tiba-tiba dibuat maksa dan slow motion.

Mengenal Asma Nadia dan Mimpinya.
Dan yang paling patut diacungin jempol ketika saya selesai menonton film itu adalah ASMA NADIA yang bisa meramu cerita sekeren itu.
Nama Asma Nadia kini memang disejajarkan dengan penulis-penulis hebat di Indonesia. Tahun 2014 dan 2015 adalah tahunnya dia. Novel-novelnya di filmkan dan dibuat sinetron seri. Dia berkelana ke banyak negara. Dia memiliki toko online. Dia memiliki keluarga yang indah dan harmonis. Saya bilang : Ini adalah puncak karier Asma Nadia. Tapi, siapa sangka, Asma Nadia sudah membangun ‘surga’-nya ini lama sekali. Dengan penuh perjuangan. Dan satu hal yang ia pegang adalah : IA BERMIMPI BESAR dan IA MEWUJUDKANNYA dengan ketekunan dan fokus.
Melihat film SURGAYA YANG TAK DIRINDUKAN seperti mengingatkan kembali dengan semangat Asma Nadia di awal kariernya dulu. Dulu saya (sempat) membaca karya-karyanya. Walaupun sekarang saya sudah mandek karena ternyata saya adalah bukan ‘target market’ Asma Nadia.
Asma Nadia. Saya berkenalan dengan nama penulis  ini ketika masih SMP. Saat itu kelas dua. Saya mengenalnya lewat majalah cetak ANNIDA. Istri tetangga  baik saya (Bapak David) kebetulan berlangganan majalah yang memuat cerita-cerita pendek itu. Saya yang sering belajar di tempat beliau, jadi mulai membaca majalah itu. Awalnya agak malu karena nama majalah itu yang lebih ‘wanita’. Namun karena cerita-cerita yang disajikan sangat oke dan menarik, saya pun lanjut membacanya. Dan saya suka.
Melalui ANNIDA cetak saya berkenalan dengan Asma Nadia, Helvi Tiana Rossa, Pipit Senja, Gola Gong, dll. Melalui majalah itu juga, saya mengikuti serial bersambung Asma Nadia : PESANTREN IMPIAN yang kini sudah dibukukan dan akan difilmkan (wow). Sayang banget majalah itu sekarang sudah nggak ada dan berubah menjadi majalah online (cek : annida-online.com). Padahal dulu waktu SMP saya selalu menantikannya setiap dua minggu sekali.
Ada satu edisi ANNIDA (saya lupa yang mana), ketika Helvi Tiana Rosa menulis kisah epik tentang seorang kakak yang bangga kepada adiknya. Helvi menulis artikel itu khusus untuk Asma Nadia. Saya kembali menemukan artikel itu di pengantar kumpulan cerpen EMAK INGIN NAIK HAJI karya Asma Nadia. Dari artikel itulah saya sedikit tahu tentang semangat Asma Nadia dalam menulis. Yang ingin membacanya, silakan cari kumpulan cerpen itu dan kalian akan menemukan semangat menulis dari Asma Nadia.
Dan jujur, nama Asma Nadia memang satu dari sekian penulis yang menginspirasi saya waktu kecil untuk menjadi penulis. Saya sering iri ketika karya-karya dia ada di ANNIDA. Saya juga tidak menyangka bahwa sekarang dia sudah seperti sekarang. WOW. Sukses memang butuh proses, ketekunan, dan daya kreativitas.
Nah, berbicara tentang kreativitas, melalui film Surga Yang Tak Dirindukan saya diingatkan kembali tentang perjalanan Asma Nadia dan karyanya. Penulis wanita ini kini menghasilkan 50 buku yang laris manis, menjadi jilbab traveler yang mengelilingi puluhan negara, dan novel-novelnya sukses difilmkan. Tentu saja, dia terus mengasah kreativitasnya. Dan itulah yang harus kita contoh. Tidak hanya sebagai seorang penulis, tapi dalam profesi apapun. Kita harus terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Mungkin sekarang kita sedang melihat Asma Nadia dan ‘surga’-nya sebagai penulis. Tetapi, kita mungkin tidak melihat perjuangannya selama ini.
Saya pernah menulis tentang kreativitas di blog ini. (Baca di sini). Kreativitas memang menjadi dasar dari setiap profesi. Seorang akuntan-pun membutuhkan kreativitas. Semua butuh kreativitas.
Kini nama Asma Nadia adalah satu dari penulis yang menjadi panutan penulis-penulis pemula seperti saya. Karya yang booming, penjualan yang fantastis, di filmkan. Siapa yang tak mau? Namun, di setiap langkah kita untuk meraih mimpi, kita membutuhkan kerja keras, kreativitas, dan semangat yang tak pernah padam. Dan salah satu teman kesuksesan yang harus kita jinakkan adalah KEGAGALAN.
Saya kini belajar dari Asma Nadia. Bahwa dia sudah menemukan 'dunia-nya', menemukan keasyikannya dalam berkarya. Dia mulai mengkategorikan 'target market'-nya dimana sebagian besar adalah ibu-ibu muda, wanita muda. Dia menjadi inspirasi semua orang yang ingin berkarier di dunia kepenulisan. Dan menetapkan target market adalah salah satu hal yang penting dalam menulis. Karena kalau sudah 'klik', kita tinggal bermain-main dengan mereka. Namun, jangan pernah takut gagal.
Seperti kata Thomas Alva Edison, dia tidak pernah merasa gagal selama hidupnya, dia hanya berpikir bahwa 10.000 cara yang selama ini sudah dilakukannya belum berfungsi/bekerja dengan baik. Sehingga dia selalu berusaha memperbaikinya.
Kesuksesan hanyalah tumpukan ide-ide yang belum berfungsi baik dan terus menerus diperbaiki.
Sebagai seorang (calon) penulis saya selalu ingin berkarya seperti Asma Nadia. Saya ingat, waktu itu saya ikut PELATIHAN KEPENULISAN yang diadakan Asma Nadia di toko-nya di depok. Dia berpesan “Karena Menulis adalah Perjuangan”. Bukan hanya perjuangan untuk mendapatkan angka penjualan yang fantastis,  namun juga berjuang untuk selalu berkarya dan menjadi yang terbaik (untuk Indonesia).
Sebelum saya menutup artikel ini, saya hanya ingin berpesan bahwa Mari belajar, mari terus berkarya, untuk Indonesia.
# # #
PS : Mau lihat kekonyolan Kemal Pahlevi secara religi, coba tonton SURGA YANG TAK DIRINDUKAN #BanggaFIlmIndonesia

*artikel ini dibuat sebagai rangkaian peringatan hari kemerdekaan INDONESIA ke-70 di blog www.wignyawirasana.com* 

BACA ARTIKEL YANG LAINNYA JUGA :

You Might Also Like

0 comments