[SERIAL] MATA RANTAI (19)


Belum baca Mata Rantai episode sebelumnya? Baca di sini : MATA RANTAI 18.
BAB 22
Keesokan harinya.
Juna terbangun dengan badan letih dan penat. Dia menaikkan selimutnya hingga menutupi semua tubuhnya sampai ke leher. Keadaan kamarnya masih temaram, padahal ia tak tahu saja di luar sudah terang benderang. Tadi dia sudah memberikan pesan kepada Ariana bahwa hari ini dia sedang tidak enak badan dan membutuhkan waktu untuk istirahat. Dia juga sudah menelepon Arya, meminta penjelasan tentang kasus Ronero dan Dilan. Dan meminta Arya untuk segera mengusutnya sampai tuntas.
Hari ini lebih baik aku menangkan diri terlebih dulu.
Dia membuka selimutnya, lalu menuruni tempat tidur tanpa sandal dan berjalan seperti zombie ke toilet. Setelah buang air kecil, dia menatap dirinya di cermin. Wajahnya sangat tidak enak dilihat hari ini. Kedua matanya digelayuti kantung tebal dan lingkaran hitam. Dia memang kurang tidur beberapa bulan ini karena harus mereview laporan keuangan dan keadaan bisnis Mata Rantai. Pipinya semakin cekung. Namun, wajahnya masih tampak bersih karena Eva selalu memberikan perawatan di wajahnya setiap minggu. Asisten penampilannya itu juga selalu memaksa dirinya memakai powered water yang mengandung bahan pencerah wajah. Dan satu-satunya di kepalanya yang terlihat rapi adalah rambutnya yang kini dipotong undercut. Meskipun pagi ini, rambut itu terlihat berantakan.
Juna menghembuskan nafas melalui mulut. Uap dingin dari mulutnya mengenai kaca dan membuat kaca itu mendadak buram. Juna menggerakkan tangannya untuk menghapus buram itu. Wajahnya terlihat kembali. Saat tangannya menyentuh kaca tadi, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal dengan kaca itu.
Juna menempelkan jari telunjuknya sekali lagi, lalu menekannya. Jarinya tampak tidak menempel dengan bayangan di cermin itu.
Kaca dua arah? Tanya Juna dalam hati.
Pasti ada di sini. Juna memeriksa keadaan cermin itu dan berharap menemukan sesuatu yang dapat ia tekan atau tombol, atau apa pun. Tetapi tidak ada.
Di mana kamu?
Dia berpikir cepat. Lalu ia teringat dengan semua akses kunci di Mata Rantai. Semuanya menggunakan sinar laser. Berarti jika tidak menggunakan retina mata, maka menggunakan telapak tangan.
Juna menempelkan tangannya. Tidak ada reaksi apa-apa. Juna memindah-mindahkan tangannya. Terdengar bunyi ‘tit’. Juna menemukan posisi kunci. Dia menekan tangannya. Sinar laser mengelilingi telapak tangannya. Dia menarik tangan itu, dan meninggalkan bekas berupa lubang kecil. Dia tahu apa yang harus ia lakukan.
Mata  Juna mendekat ke arah lubang itu. Sinar memindai retinanya.
AKSES DI TERIMA.
Cermin itu membelah menjadi dua. Di baliknya ada ruangan luas tersembunyi yang penuh dengan buku-buku yang tertata rapi di rak. Dan ruangan ini, seperti ruangan membaca. Lampu terang benderang menyala saat Juna menjejakkan kakinya di dalam ruangan.
Juna masuk dan meneliti satu persatu benda yang ada di sana.
Tidak ada yang tahu tentang keberadaan ruangan ini. Bahkan Dilan pun tidak, karena ia tak memberitahuku. Apa yang sebenarnya disembunyikan Tuan Mata di sini?
Ruangan itu memang ruang baca. Ada kursi goyang warna cokelat di tengah ruang. Rak-rak buku tertempel di semua sisi dinding.
Sebagian besar buku di sana adalah buku tentang teknologi, alam gaib, bisnis. Juna juga tak menyangka bahwa ketertarikan Tuan Mata pada teknologi sangatlah besar. Pantas saja, gedung Mata Rantai di bangun dengan penuh teknologi.
Tuan Mata ternyata gemar membaca.
Juna juga menemukan buku silsilah keluarga di sana. Dan dia menelitinya. Semuanya mirip seperti apa yang diceritakan oleh Arya. Yang berbeda hanyalah ada garis putus di bawah silsilah Tuan Mata dan kotak kosong. Di sisi kanan kotak itu ada nama Andre dan Andra, kedua nama anak Tuan Mata.
Apakah kotak kosong itu untukku? Tanya Juna pada dirinya sendiri.
Juna tak ingin terlalu berkutat pada silsilah. Maka dia meneliti satu persatu buku yang ada di sana. Kebanyakan teknologi, komputer, dan yang paling mengejutkan adalah denah gedung Mata Rantai. Di denah itu dijelaskan ruangan-ruangan khusus tersembunyi di gedung ini.
Juna tersenyum kecil. Dia seperti beruntung menemukan ruang baca ini. Dia jadi teringat dengan ruangannya di Digiforyou yang penuh dengan buku bacaan. Dan ternyata minatnya pada buku menurun dari Tuan Mata. Dan anehnya lagi, dia juga tertarik pada teknologi.
Mendadak dia rindu dengan ruangannya. Mungkin besok dia bisa pergi sebentar ke sana. Namun yang lebih penting, hari ini dia akan menghabiskan waktu di ruang baca itu.
# # #

Sehari setelah pembunuhan di Mata Rantai.
Puluhan kilometer dari Mata Rantai, Fernando merapikan kertas yang berserakan di meja kerjanya. Jam sudah hampir menunjuk angka tujuh dan karyawan Digiforyou tidak ada yang tersisa. Biasanya tim kreatif yang akan berdiam lama di kantor. Namun, proyek sudah selesai dan mereka sedang mempersiapkan proyek baru untuk perusahaan otomotif di Indonesia. Jadi, Fernando memberikan waktu istirahat kepada semua karyawan sebelum proyek selanjutnya. Setelah ditinggal oleh Juna, dia yang bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan Digiforyou. Dan kepercayaan itu tidak ingin ia sia-siakan.
Fernando melirik ruangan Juna yang beberapa bulan ini tertutup rapat-rapat. Biasanya malam-malam seperti ini jika sedang lembur, Juna akan keluar dari ruangannya sambil membawa stik PS dan menantang anak-anak yang lain. Atau dia akan mengajak mengobrol santai di balkon kantor sambil merokok. Di penghujung malam, jika waktu sedang senggang, dia akan diajak Juna untuk pergi ke klub, atau sekedar mengobrol di kafe di Kemang.
Fernando memandang pintu ruang Juna. Dan berharap bosnya itu akan keluar. Dia menghela nafas kecil.
Astaga, aku merindukan bosku itu.
Fernando mengambil kertas terakhirnya dan meletakkannya di laci. Sudah hampir pukul setengah delapan. Dia sedang tidak ada janji dengan siapa pun. Jadi lebih baik dia segera pulang dan bertemu dengan jagoannya di rumah.
Terdengar langkah kaki mendekat. Fernando menghentikan langkahnya.
Masih ada orang di kantor? Pikir Fernando. Dia mendongak, memandang pintu ruangannya yang berseberangan dengan ruangan Juna. Matanya bertumbuk pada sesosok pria yang sangat ia kenal. Hampir saja ia tersedak melihat sosok itu. Pria itu mengenakan T-Shirt warna hitam dibalut blasser blue black. Sepatunya tampak mengkilap di tengah temaram cahaya ruangan. Pria yang tampak berbeda dengan penampilan terakhir ketika ia temui beberapa bulan lalu.
“Tentu aku tidak pernah salah menitipkan perusahaan ini padamu, Brader?” Pria itu terkekeh panjang.
“Aku tidak akan pernah mengecewakan panutanku selama ini.” Fernando berdiri mendekat ke pria itu sambil tersenyum lebar.
“Kuharap kamu sedang tidak lembur malam ini.”
“Bagaimana aku bisa menolak perintah atasan?” Fernando terkekeh. “Astaga Juna, sudah lama aku tidak melihatmu.” Fernando menghambur ke arah pria di depannya, lalu memeluknya erat sebagai seorang sahabat.
# # #

Di sinilah mereka kini, sebuah Kedai Kopi di salah satu ruko di Mall of Indonesia : Coffee Tree. Tempat ini adalah salah satu kedai kopi favorit Juna dan Fernando di Jakarta Utara. Dengan konsep bangunan dua lantai. Coffee Tree menyediakan tempat dengan kesederhanaannya. Pengunjung bebas untuk memilih kopi yang tersedia di toples-toples besar di sebelah pintu masuk dan menyaksikan pemilik kedai yang dengan senyum membuat kopi.
Berbeda dengan kedai kopi yang memiliki peramu kopi, di Coffee Tree peramu kopi adalah pemiliknya sendiri. Dia ditemani oleh karyawannya—yang semuanya cewek—dengan pakaian hijau mencreng dan sangat ramah.
Tempat favorit Juna dan Fernando adalah lantai 2, tempatnya di meja panjang kayu jati cokelat yang terletak di bagian luar ruangan (tempat para perokok menikmati asap mereka). Ruangan ini tanpa AC. Udara dingin tersembur dari 3 kipas besar yang berputar di atas kepala.
Namun kali ini, Juna memilih untuk duduk di dalam dan menempati sofa panjang berwarna kuning.
“Tumben tidak di luar?” tanya Fernando.
“Sudah lama aku tak merokok,” jawab Juna.
Fernando terkesiap sebentar, lalu mengikuti Juna yang sudah mengambil tempat duduk.
Pelayan datang membawa menu. Juna seperti biasa memesan kopi Papua Nugini tanpa gula, sementara Fernando secangkir toraja. Untuk cemilan mereka berdua kompak memesan pisang dan singkong goreng andalan kedai ini.
Sejak bertemu dengan Juna malam ini, Fernando menemukan Juna versi yang lain. Tidak ada lagi canda tawa dan guyonan seperti dulu, mata Juna tampak letih dan berkantung, dia jadi lebih wangi dan sangat rapi. Yang tidak berubah dari dia adalah semangatnya untuk bercerita. Sepanjang perjalanan ke Coffee Tree, Juna bercerita tentang hal yang ia tutupi selama ini. Kisah yang tentu saja sangat membuat Fernando terkejut.
Beberapa kali Fernando tampak mengerutkan kening, mata terbelalak dan memicing tak percaya.
Dia memimpin perusahaan supranatural warisan ayah kandungnya?
Belum lagi, kisah-kisah gaib yang Juna ceritakan sepanjang perjalanan. Dari serangkaian cerita itu, Fernando seperti melihat seorang Juna yang mendadak menjadi sangat tertekan dan depresi. Ia paham, memimpin perusahaan yang sangat besar dengan puluhan ribu karyawan tidaklah mudah. Dari serangkaian masalah di perusahaan, masalah tentang Human adalah yang paling pelik. Ia juga mengerti bagaimana rasanya memimpin orang-orang yang notabene sudah berpengalaman puluhan tahun di bidang itu. Sebagai orang baru, Juna pasti harus menekan ego untuk terus menerus belajar. Dan Fernando yakin, Juna akan melakukan itu.
Namun melihat kantung mata yang menghitam, tubuhnya yang sedikit mengurus, Fernando yakin bahwa ada seseuatu hal besar yang sedang ia hadapi. Dan malam ini, atasannya itu pasti sedang membutuhkan penopang semangat.
“Aku merindukan tempat ini, Fernando.” Juna melihat sekeliling. “Namun, seperti yang sudah aku katakan padamu, aku tak bisa sebebas dulu. Apalagi aku sekarang bisa melihat makhluk-makhluk lain yang berseliweran secara samar-samar. Seperti di sana…” Juna menunjuk satu tempat di pojokan. Fernando mengikuti telunjuk Juna. “Ada seseorang yang berdiri di sana. Tinggi besar. Dia sih diam saja, namun aku merasakan kehadirannya.”
Fernando bergidik. “Seseorang?”
“Ah, sudahlah. Lupakan. Semakin aku menceritakannya, semakin tidak masuk akal.” Juna melirik makhluk astral yang terus melihatnya kini. Bulu kuduknya meregang. Dia kembali melihat Fernando. “Jadi, bagaimana kabarmu dan perusahaan kita.”
Fernando melupakan rasa penasaran tentang makhluk yang diceritakan oleh Juna. “Aku baik. Perusahaan kita juga baik. Kita baru saja menyelesaikan proyek dengan perusahaan telekomunikasi dan sekarang bersiap untuk kerjasama dengan perusahaan otomotif. Kita merindukanmu, Jun. Kita butuh kamu ada.”
“Aku pun merindukan kalian. Tapi….” Dia mengingat semua hal tentang Mata Rantai dengan cepat. “Mata Rantai kini sedang membutuhkanku. Meskipun ini sangat berat. Aku tak pernah sedepresi ini.” Dia terkekeh kecil mengingat apa yang sudah ia rasakan beberapa bulan terakhir. Matanya tampak berkaca-kaca. “Aku ingin menyerah begitu saja, meninggalkan Mata Rantai dan kembali ke kehidupan normalku. Namun, ada seseorang yang bilang bahwa Tuan Mata—ayahku—sangat mempercayaiku. Dia menyerahkan tonggak kepemimpinannya kepadaku karena dia percaya. Dan apakah aku pantas mengkhianatinya? Namun, dengan kasus-kasus yang menimpaku beberapa bulan ini, rasa-rasanya aku ingin menyerah. Aku tak sanggup. Aku merasa gagal memimpin Mata Rantai.”
“Aku belum pernah mendengar seorang Juna Januardo mengatakan hal itu. Juna yang kukenal tak pernah akan bilang bahwa dia menyerah. Mungkin dia lupa dengan filosofi awal ketika dia mendirikan perusahaan Digital Digiforyou yang sekarang sudah besar. Kesuksesan adalah tumpukan ide yang belum berfungsi baik dan terus disempurnakan. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Thomas Alva Edison, dia tidak pernah merasa gagal selama hidupnya, dia hanya berpikir bahwa 10.000 cara yang selama ini sudah dilakukannya belum berfungsi/bekerja dengan baik. Sehingga dia selalu berusaha memperbaikinya.” Fernando menatap Juna dengan serius. “Bukankah itu yang selalu kamu katakan dulu?”
Ucapan panjang Fernando seperti hantaman keras di ulu hati Juna, menyakitkan. Juna seperti tersiram oleh sebaskom air dingin yang ditambah bongkah es. Terkadang kita memang harus disadarkan oleh orang lain untuk segala hal yang kita anggap benar, dan orang lain menganggap salah. Agar kita berpikir ulang tentang hal itu.
Di awal-awal mendirikan Digiforyou dulu, Juna dan Fernando adalah dua orang gila yang tak pernah menyerah menyusun konsep, menawarkannya kepada semua perusahaan, membuat ide-ide, dan ikutan pitching. Sebagai konsultan baru di dunia digital, beberapa perusahaan belum ada yang mempercayainya. Fernando hampir saja menyerah setelah dua tahun mereka menjalankan perusahaan dan belum ada bintang keberuntungan yang menghampiri mereka. Namun, Juna selalu menyemangati Fernando dan memberikan suntikan motivasi setiap hari. Prinsip yang ia pegang sama dengan apa yang Thomas Alva Edison utarakan.
Kesuksesan hanyalah tumpukan ide-ide yang belum berfungsi baik dan terus menerus diperbaiki. Dan berkat prinsip itulah, kini Digiforyou menjadi salah satu Konsultan Digital yang diperhitungkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Kliennya tidak hanya perusahaan nasional, badan negara, namun juga perusahaan multinasional.
“Aku sangat yakin, kamu bisa melakukannya.”
“Aku hanya takut orang terlalu berekspektasi terlalu jauh kepadaku. Aku takut mengecewakan mereka.”
“Lihat dirimu.” Fernando menuding Juna dengan telunjukmu. “Lulusan Stanford University, memiliki perusahan konsultan Digital terkemuka di Indonesia, cerdas, tampan. Perlu apa lagi yang aku sebutkan untuk menyadarkanmu.”
Juna tersenyum simpul. Seolah ia mengejek apa yang Fernando utarakan. Itu tidak cukup, Fernando.
“Aku sangat bangga denganmu, Juna. Sebagai sahabat, sebagai rekan kerja. Dan aku rasa, tidak akan ada orang yang kecewa denganmu jika kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Juna jadi teringat dengan ucapan Ariana kemarin. Perkataan Fernando barusan benar-benar mirip dengan apa yang Ariana katakan.
Tak ada orang yang akan kamu kecewakan jika kamu sudah berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik.
Senyum mengembang di wajah Juna. “Terima kasih sudah mengingatkanku, Fernando.”
“Semua orang pasti pernah berbuat khilaf. Termasuk merokok, right?”
Juna mendadak tertawa. “Kamu tidak tahan untuk tidak merokok saat mengobrol seperti ini.”
“Seperti yang selalu kita lakukan dulu, Brader.”
“Oh, sudah lama aku tidak melakukannya.”
“Siapa yang membuatmu seperti sekarang? Wanita mana?”
“Apa maksudmu?”
“Aku sudah mengenalmu cukup lama, Juna. Apa yang ingin kamu sembunyikan terutama untuk urusan wanita. Apalagi yang bisa mengubah seorang Juna Januardo si Playboy Kampus yang gemar minum, merokok, clubbing selain seorang wanita baik-baik? Lihat dirimu sekarang. Tampilan necis dan tidak ada bau rokok di tubuh.” Fernando memicingkan matanya.
“Kamu memang sahabat yang terbaik, Fernando.”
As always. Cepat ceritakan padaku.”
“Tidak malam ini, Brader. Aku harus kembali ke Mata Rantai, besok ada meeting besar di kantor.”
“Oh, Come On.”
“Aku janji padamu, akan aku ceritakan padamu nanti. Lagian, sekarang dia bukan siapa-siapaku.”
“Bukan siapa-siapa?”
“Kita belum pacaran. Maksudku aku dan wanita itu.”
“Seorang Juna sekarang takut mengutarakan cinta.”
“Bukan seperti itu. Dia berbeda.”
“Oh, aku semakin ingin mendengar ceritamu dan melihat wanita baik-baik itu.”
“Sial.” Juna menonjok lengan Fernando. Dia tersenyum lebar. Malam ini, rasanya beban berat di tubuhnya menguap seperti sebotol alkohol yang tumpah di lantai.
“Apakah dia tipe orang yang tertutup? Atau dia adalah orang yang gemar ke salon? Atau…”
Juna cepat memotong. “Tidak. Ariana tidak seperti itu.”
“Oh, jadi namanya Ariana?”
“Sial, aku memang tak pernah bisa merahasiakan apa pun darimu kampret.”
# # #

Mobil Juna melaju di jalan utama Senen, Jakarta Utara. Juna duduk di kursi penumpang, sementara Gordon ada di belakang kemudi.
Bertemu dengan Fernando malam ini seperti suntikan bertonton multivitamin. Juna merasa terlahir kembali.
Ternyata masih banyak orang yang mempercayaiku, menyayangiku. Fernando, Arya, asisten-asistennya, dan tentu saja Ariana. Apakah aku pantas mengkhianati mereka?
Mungkin Juna bisa bunuh diri jika tidak ada orang-orang seperti mereka.
Juna merapatkan blessernya.
“Kedinginan, Tuan?” tanya Gordon. “Apakah saya perlu mengecilkan AC-nya?”
Juna menoleh. Sejak meninggalkan daerah Mall of Indonesia, Juna belum mengajak bicara Gordon. Pria bertubuh besar dan bermuka sangar itu memang tidak terlalu banyak cakap juga. Dan Juna merasa bersalah karena telah mengembara dalam pikirannya sendiri.
“Oh, tidak, Gordon. Aku hanya merasa sedang menyesuaikan diri dengan kemampuan melihat makhluk-makhluk aneh.”
Gordon tak menimpali ucapan Juna. Dia konsentrasi dengan jalanan Jakarta yang masih ramai.
Namun ucapan Juna, tidak sepenuhnya bohong. Dia memang sedang menyesuaikan diri. Pasalnya, sejak di Coffee Tree, ada makhluk yang terus menerus mengikutinya. Makhluk itu seolah ingin berbicara dengannya. Dia berdiri tak jauh. Selama Juna dan Fernando asyik mengobrol, makhluk itu tetap ada di tempatnya. Berdiri tegak dengan tangan bersidekap di depan dada. Dan saat mobil Juna melaju di jalanan Jakarta, ia melihat makhuk itu beberapa kali di tepian jalanan. Tetapi bagi Juna, itu adalah hal biasa mengingat sekarang ini ia memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral.
“Gordon, apakah kamu ada CD atau apapun yang bisa didengarkan?” tanya Juna memecah keheningan.
“Ada di dashboard, Tuan,” jawab Gordon. “Ah, tapi…”
Terlambat, Juna sudah membuka dashboard dan menemukan tiga CD bersampul personel wanita-wanita cantik korea.
Girl’s Generation. Oh!. Love & Peace.
“Seharusnya Tuan tidak melihatnya.” Tampang Gordon tampak kecewa.
Juna tertawa. “Haha. Tidak ada salahnya aku mendengar, kan? Apa yang bagus?” tanya Juna.
“Tuan benar-benar ingin melihatnya?”
“Ya, daripada berdiam diri sepanjang perjalanan. Aku ingin melihatmu menyanyi. Jadi, lagu apa yang bagus?”
“Ada single baru yang bagus dari mereka. Judulnya PARTY.” Gordon merogoh ponselnya. Dengan sigap dia menyalakan bluetooth ponsel agar tersambung dengan speaker mobil.
“Baiklah. Lets PARTY Gordooon.” Juna berteriak, melepaskan semua beban di pikirannya. Ia tak ingin memikirkan apapun saat ini. Termasuk makhluk aneh yang terus menguntitnya sepanjang perjalanan.
“PARTYYYYY….” Teriak Gordon. Dan Gordon pun bernanyi sambil bergoyang. Juna terbahak melihat asistennya itu bergoyang dengan tubuh kekarnya.
# # #

Juna menyusuri lorong Mata Rantai. Waktu hampir tengah malam. Ia tak pernah semerinding ini melewati lorong-lorong sepi di sana. Setelah kasus Ronero—yang sampai saat ini masih diselediki motifnya, Mata Rantai menjadi semakin mencekam. Juna mempercepat langkah kakinya. Untung menghilangkan pikirannya yang aneh-aneh, dia berdendang lirih lagu PARTY yang mendadak jadi bersemayam di otaknya.
Ini gara-gara Gordon, pikir Juna sambil tersenyum kecil.
Juna masuk ke satu-satunya ruangan di lantai 2 yang masih terang benderang : Departemen Teknologi. Juna mendekatkan kedua matanya di mesin pendeteksi. Setelah akses diterima, dia mendorong pintu di depannya. Dia disambut oleh nyala lampu terang, suara musik korea yang tak ia mengerti, dan suara jeritan khas orang main games dari dua orang yang sangat ia kenal.
Juna melangkah kaki ke meja Dodo dan Dede, dan ia memang mendapatkan dua asistennya itu sedang bertarung di depan komputernya masing-masing.
“Apakah kalian tidak mendengar instruksiku untuk mereduksi setiap pemborosan di kantor ini. Termasuk salah satunya adalah listrik,” ujar Juna sok kalah. Padahal dia ingin tertawa saat mengatakannya.
Dodo dan Dede sontak menoleh dan langsung melompat dari tempat duduk saat mereka menyadari ada Juna di belakang mereka.
“Oh, maaf Bos. Kami belum pulang karena sedang menunggu rendering program. Kodenya cukup banyak jadi…” ucap Dodo salah tingkah.
Dede menyembunyikan stik gamesnya di belakang.
Juna melotot ke kedua asistennya. Belum sempat mereka memberikan sanggahan, Juna langsung duduk di kursi yang tadi diduduki Dodo.
“Siapa yang lebih jago dari saya?” tanya Juna.
Dodo dan Dede langsung melengos lega. Mereka menghembuskan nafas karena Juna tidak marah kepada mereka berdua.
“Kukira kamu marah, Bos,” komentar Dede dan langsung duduk di samping Juna.
“Marah jika di sini tidak ada minuman dan makanan selama kita bertanding,” ucap Juna sambil mengotak-atik stiknya. PES 2015 dengan grafis yang paling bagus dari seri-seri sebelumnya langsung terpampang di layar Mac besar di depannya.
Dede menatap Dodo. “Langsung keluarkan amunisimu dari kulkas untuk bos kita, Do.”
“Bereslah,” Dodo melompat dari kursi dan langsung melesat.
Sejam kemudian mereka bertiga sudah adu lomba permainan sepakbola. Sesekali mereka berteriak jika ada yang gol. Di antara mereka bertiga, Dodo yang sedikit paling cupu.
Waktu hampir jam dua pagi saat Juna melirik jam tangannya dan menyadari bahwa dia belum juga tidur. Dan dia tentu saja melupakan tujuan utamanya mendatangi dua asistennya itu.
Akhirnya Juna mengakhiri permainan meski pun dia kalah dengan Dede. Dia langsung melihat ke sekeliling, seperti mencari sesuatu. Dan dia memang menemukannya. Dia melihat sosok makhluk yang sejak tadi menguntitnya sedang berdiri tegang di pojok ruangan.
“Do, apakah alat Pelacak Hantumu sudah kamu sempurnakan?” tanya Juna.
Dodo melihat bosnya sambil merasa bersalah. “Nah itu, Bos.” Dia melirik Dede. Dede memberi isyarat mengiyakan. “Saya kehilangan master aplikasinya. Sudah sejak pagi saya mencari di beberapa komputer, namun belum ketemu.”
“Mengapa bisa hilang?” tanya Juna.
“Entahlah, mungkin saya lupa meletakkannya. Tapi tenang saja, versi sebelumnya masih ada di tablet. Ada apa memangnya?”
“Dede, apakah bisa siapkan baskom, kertas, dan pensil gaib seperti biasa?”
Dodo dan Dede saling memandang. Mereka berdua menyadari apa yang sedang bos mereka perintahkan.
“Ada apa, Bos?” tanya Dede.
Juna berdiri, lalu memandang ke makhluk yang sedang menatapnya. “Lakukan saja. Aku hanya ingin mengetahui motif makhluk yang berdiri di pojokan itu. Sejak tadi dia mengikutiku.”
Dodo dan Dede saling pandang, lalu mereka mengikuti arah telunjuk Juna.

Tak lama, peralatan sudah siap. Di atas meja sudah ada baskom berisi air, kertas, dan pensil. Cara tradisional itu adalah salah satu yang diwariskan Tuan Mata untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.
Dodo sudah siap dengan tabletnya. Aplikasi Pelacak Hantu telah menyala dan sinyalnya yang kuat segera mendeteksi keberadaan makhluk itu. Warna titik merah menyala berkedip-kedip.
Juna, Dodo, dan Dede segera duduk melingkari meja.
“Saya hanya ingin bertanya cepat. Saya belum ingin pergi ke dunia mereka. Jadi ini adalah cara yang tepat. Mari kita lakukan.” Juna mengangguk kepada Dodo dan Dede.
Lampu dimatikan.
Juna menarik nafas, lalu dia bertanya pelan. “Siapa kamu?”
Pensil bergerak menulis di atas kertas. Setelah terhenti, Dodo mengambil kertas itu lalu memasukkannya ke dalam baskom berisi air yang telah didoakan.
“Roger.”
Hening. Pensil bergerak lagi.
“Saya teman Andika.”
Andika? Juna memandang Dodo dan Dede bergantian.
“Andika? Bagaimana kamu mengenalnya?”
Kami bersahabat sejak kuliah.”
“Apakah kamu marah karena kemarin kami mengusirnya?”
“Tidak. Justru kami ingin meminta tolong.”
“Apa yang kalian inginkan. Kuharap kalian tidak mengganggu Ben Lenwa dan keluarganya lagi.”
“Tidak, kami tak bermaksud seperti itu.”
“Apa yang bisa kami tolong.”
“Kami semua terperangkap.”
Mendadak angin berhembus kencang. Beberapa benda terjatuh.
“Cepat katakan.”
“Tolong kami.”
“Apa yang bisa kami tolong?”
“Kami semua…”
Terputus. Tulisan terputus.
Pensil bergerak lagi. Angin semakin kencang. Benda terjatuh. Dodo mengambil kertas, lalu memasukkan ke dalam baskom lagi.

“Kami terperangkap di bawah Galeri Mahakarya.”

[ baca kelanjutannya di sini ]

Baca dongeng lainnya di sini :
[SERIAL] MATA RANTAI (19) [SERIAL] MATA RANTAI (19) Reviewed by Wignya Wirasana on 8/01/2015 Rating: 5

3 comments:

  1. huwahhh kak, akhirnya sampai ke chapter 19 ini mata rantainya T_T
    aku udah baca serial ini sebelumnya secara marathon, ya, karena kemarin keputus di bagian 5 makanya hari ini langsung tancap gas sampai ke part 19, daebak banget kan, muahahahaa :D /apasih, na../
    wah, aku masih ga nyangka lho kalau alexa itu dalang di balik semua kasus2 gaib yg belakangan ini jadi momok bagi mata rantai. apa jangan2 ada iblis yang memonitori si alexa ini, ya? hm bisa jadi.
    dan, sebentar, kak aku boleh ngakak ga soal gordon yang joget party di mobil itu :"""
    waduh, ternyata si gordon di sone akut TvT tampang doang sangar ya, tapi giliran diputerin Gee langsung semangat joget :D /dorrrr
    ah, dan, kak, aku kagum sama semua detil-detil mengenai ilmu gaib yang ada di mata rantai ini! berapa lama kakak nge-research semua info mengenai ilmu gaib itu?!!!! daebak banget! sumpah :D
    kaya misal detik kabisat tahun ini yang ehem, kebetulan, PAS bgt sama tanggal lahir aku!!!! ah, aku langsung berasa parno bukan main jadinya, lol~~~
    anyway, dongeng ini one of my fav!!! aku selalu nunggu kelanjutannya!
    chapter 20-nya ditunggu ya kak!
    fighting!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah panjang ya komentarnya hehe. Keren.

      Terima kasih sudah mau membaca sampai BAB 19 yah. Nanti ditunggu saja kejutan-kejutan lainnya di bab-bab selanjutnya hehehe.

      Research? Persiapan nulis 2 bulan aja (bentar yak haha). SUdah termasuk bikin outlinenya siih.

      Ini nulisnya yang lamaaaa haha. Konsisten memang susah. tapi yang bikin semangat adalah pembaca-pembaca seperti kamu :)

      Selamat Membaca,

      Delete
    2. maaf kalo komennya kepanjangan dan rusuh ini kak :/
      what?! 2 bulan?! itu ngga lama kak. pantes ya semuanya perfect dan mendetil. apalagi sekaligus dah ada outline-nya, itu ga bisa dibilang bentar or lama, tapi keren! :) yosh, semangat kak!
      meskipun lama tapi yg penting tetep jadi kan kak. yahaha alhamdulillah, ya readers rusuh kaya saya bisa bermanfaat, okee!
      semangat menulisnya juga, kak!

      Delete

Powered by Blogger.