[SERIAL] MATA RANTAI (24)

30.9.15


Belum baca Mata Rantai episode sebelumnya? Baca di bit.ly/matarantai23 

BAB 27
Arya membenarkan letak jam tangannya yang menunjuk angka tujuh. Jam tangan warna perak bergaris emas itu kini tertata sempurna di tangan kanannya.
Pintu keluar terminal kedatangan domestik sudah cukup ramai. Tetapi gerombolan Juna Mata belum terlihat. Arya menoleh ke kanan dan ke kiri, dan berganti ke ponselnya. Tak ada satu pun yang bisa dihubungi.
Astaga ke mana mereka?
Tadi shubuh, ponselnya berdering. Ada missed call lebih dari sepuluh kali dari Tuan Juna. Arya hampir saja tidak mengangkat. Namun, di dering yang kesebelas, dia meraih ponselnya. Juna berbicara dengan cepat. Dia meminta untuk dijemput di bandara pagi hari. Ia belum mengatakan apa-apa, kecuali satu kalimat yang membuat kening Arya berkerut.

Mata Rantai dalam bahaya, Arya. Aku harus segera ke Jakarta. Dan perintahkan semua satuan keamanan untuk siaga.”
Kalimat itulah yang memaksa Arya untuk bangun bergegas dan mengendari BMW 1 Series 5 ke bandara. Dan kini ia berdiri di pintu keluar sambil sesekali menengok ke dalam bandara. Kecurigaannya hanya satu, Juna sedang merahasiakan sesuatu darinya.
Jadi ketika Juna tampak di pintu keluar, ia buru-buru menyambutnya. Muka Juna tampak lusuh dengan rambut berantakan, sungguh tidak seperti biasa. Ke mana Eva sehingga tidak mengurusi penampilan bosnya ini?
“Ada apa?” tanya Arya.
“Sesuatu yang penting. Sangat bahaya, kita harus segera ke Mata Rantai. Kamu sudah memerintahkan semua keamanan di Mata Rantai untuk diaktifkan?”
“Tentu saja. Ada apa ?” Arya mengulang pertanyaannya. Dia melirik kepada Dodo, Dede, dan Gordon. Ketiga tidak memberi jawaban. “Oh iya, ke mana Ariana?”
“Disandera Alexa Crain, dan mereka kini sedang menuju ke Mata Rantai,”
“Apa?” Arya berhenti. Yang lain mengikuti. “Kalian jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda, Arya. Mata Rantai sedang dalam bahaya. Aku tidak tahu, apa yang Alexa Crain rencanakan. Tetapi dia sedang mencari sesuatu di Mata Rantai. Tentu saja ia menyandera Ariana karena ia menganggap akulah yang tahu sesuatu yang ia cari itu.”
“Batu Mata Rantai?” tanya Arya. Semua orang menoleh kepadanya. “Legenda batu itu tentu saja…sangat membuat semua orang ingin memilikinya. Kekuatan, kemurnian, dan kekuasaan menyelubungi batu itu seperti doa-doa yang terus dipanjatkan di tempat suci. Crain, jelas saja ingin menginginkannya.”
Juna menghela nafas kecil. “Dan dia belum tahu cara menggunakan batu itu sebelum ia membaca buku yang Tuan Mata Generasi tulis. Itu yang ia cari.”
“Jadi dia sudah memiliki batu itu?” tanya Arya.
“Aku rasa sudah. Itulah mengapa kita harus cepat-cepat menyelamatkan Ariana sekarang. Tapi aku harap kamu mengantarkan kami ke coffee shop dulu, kami kelaparan. Crain memintaku untuk datang ke Mata Rantai pukul 5 sore. Kita masih punya waktu.”
“Dan kamu mematuhinya? Dengar Tuan Juna, Mata Rantai adalah rumahmu, perusahaanmu, dan kamu bebas ke sana kapan saja.”
Juna menatap Arya lekat. “Tapi aku tak ingin menyakiti siapa pun, terutama Ariana.”
“Lebih baik aku menghubungi orang-orang di Mata Rantai agar berhati-hati.”
“Crain benar-benar sudah gila. Aku sudah menyaksikan sendiri bagaimana dia menghabisi nyawa orang-orang yang ia sayangi satu persatu. Mengubur mereka di bawah Galeri Mahakarya. Ia pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan sekarang aku takut, dia akan menyakiti Ariana. Itu saja.”

Semburat Jingga mengantarkan mobil Arya merapat ke gedung Mata Rantai. Gerbang Mata Rantai tertutup rapat. Arya menekan tombol interkom sambil menyebutkan kata sandi Mata Rantainya. Gerbang terbuka sedikit, muncul dua orang berseragam menghampiri mobil Arya.
“Halo Pak Tora, selamat sore. Mengapa gerbangnya tidak membuka sendiri?” sapa Arya.
“Hanya Anda dan Tuan Mata yang diijinkan untuk masuk ke dalam,” kata Pak Tora, salah satu orang berseragam itu.
“Apa maksudnya?” tanya Arya sambil melepas Ray Ban hitamnya.
Pak Tora membuka jas yang membungkus badannya dan di sana terpasang panel-panel personal bom dengan kabel merah dan biru. Dengan gerakan perlahan dan tak bersuara, Pak Tora mengucapkan kata ‘Maaf’. Arya melirik ke orang yang berseragam satunya. Ia memang belum pernah melihat orang itu di Mata Rantai. Arya memicingkan mata.
Arya menoleh ke arah Juna. “Kita harus turun, Tuan Juna. Hanya kita berdua yang diijinkan untuk masuk ke dalam.” Arya berkata lirih sembari memberi isyarat kepada Juna dengan melirik sebentar ke petugas berseragam di depan gerbang.
Juna memahami isyarat itu. Ini semua pasti ulah Crain. Dan Juna yakin sekarang Crain sedang berada di dalam gedung Mata Rantai.
“Gordon, kamu ambil alih kemudi. Dan kalian bertiga tetap berjaga-jaga di sini, jika ada apa-apa, kuharap kalian bisa dengan sigap membantu,” ujar Juna kepada Dodo, Dede, dan Gordon.
Ketiganya mengangguk.
Juna mengikuti langkah Arya untuk keluar mobil. Hawa panas Jakarta menyergap mereka.  Ia teringat saat dulu pertama kali datang ke Mata Rantai. Ketika ia harus mengikuti Arya untuk naik busway, berjalan dari halte ke halte, dan akhirnya tiba di Mata Rantai. Ia teringat ucapan Arya, bahwa dirinya harus membumi, harus lebih peka dengan keadaan sekitar. Ya, ia pun sadar bahwa kini ia memang harus lebih peka lagi dengan apa yang terjadi di sekililinya. Kejadian beberapa bulan ini telah memporak-porandakan hidupnya. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu nyata. Dan untung saja ada orang-orang di sekitarnya yang masih mendukungnya. Termasuk Arya.
“Arya,” ujar Juna beberapa meter dari pos penjagaan Mata Rantai. Arya menoleh sambil terus berjalan. Juna tersenyum kecil. “Terima kasih.”
“Untuk?”
“Karena kamu selalu ada, membantuku. Tuan Mata, maksudku ayahku tidak salah memilihmu.”
Arya membalas senyum Juna. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, Juna. Ayo, kita segera selesaikan ini.” Arya menepuk pundak Juna.
Pos penjagaan dijaga ketat oleh petugas-petugas bersegerama. Juna mengenal beberapa. Tetapi sepertinya sebagian orang telah mengikuti perintah Alexa Crain. Masing-masing memegang senjata, ada pula yang sengaja diacungkan kepada petugas yang dirasa masih memihak pada Juna.
“Pemeriksaan,” ucap seorang petugas yang memiliki kumis tebal.
Juna mengangkat tangannya ketika petugas itu menepuk-nepuk pundaknya. Juna seperti seekor kura-kura yang kehilangan cangkangnya. Ia dianggap tamu, padahal ia adalah pemiliknya. Arya pun diperlakukan sama.
“Tidak ada senjata, kalian berdua boleh masuk.”
Juna dan Arya dikawal oleh dua petugas dengan senjata di depan dada. Perjalanan dari gerbang ke lobi terasa panjang. Setelah sekian lama di sini, ini adalah kedua kalinya ia berjalan dari gerbang ke lobi sambil melihat dengan nyata gedung Mata Rantai. Kedua kalinya ia merasa seperti tamu. Jika dulu ia berjalan bersama Arya sebagai seseorang yang akan dinobatkan sebagai pemimpin Mata Rantai, maka sekarang ia berjalan sebagai seorang tawanan.
Pintu lobi terbuka lebar saat mereka masuk. Tetapi tidak ada Crain di sana. Juna mengamati ke kanan dan ke kiri, tidak ada tanda-tanda apa-apa. Dua petugas membawa mereka ke arah lift. Belum ada tanda-tanda tentang Crain. Saat petugas itu memencet angka 5 di lift, lalu lift terbuka, Juna tahu ke manakah mereka akan pergi. Dua petugas meminta Juna dan Arya untuk berjalan cepat. Menyusuri tangga darurat, berhenti di depan dinding. Salah satu petugas memberi isyarat kepada Juna.
Juna menempelkan tangannya, sinar hijau mengelilingi tangannya, lalu sebuah lubang kecil mengeluarkan sinar untuk menginderai retinanya. Dinding membelah menjadi dua. Pintu lift terbuka, dan mereka masuk. Lantai 13 menyambut mereka seperti mayat yang telah diam dua hari. Lorong dengan permadani tebal mendadak menjadi seperti kamar mayat. Di ujung lorong, pintu besi menyambut mereka. Salah satu petugas mendorongnya.
Mereka berempat disambut oleh Alexa Crain yang tengah duduk di sofa sambil memegang segelas wine bening dengan lentiknya. Mendadak pandangan Juna mengabur, ia teringat dengan semua hal di alam bawah sadarnya. Cara Crain membunuh ayahnya, mengubur Mahesa, semua berlompatan. Di telinganya terdengar dengungan lirih, seperti bisikkan-bisikkan yang ingin memberitahunya sesuatu.
Di sisi sofa yang lain, Janero tengah duduk sambil menodongkan pistol ke Ariana yang mulutnya disumpal dan tangannya diikat. Ariana memberi isyarat kepada Juna dengan menggelengkan kepala.
Syukurlah dia baik-baik saja, batin Juna.
“Akhirnya kalian sampai juga, aku sudah cukup lama menunggu.” Crain melirik jam tangannya. “Kalian telat sepuluh menit. Untuk ukuran seorang pemimpin Mata Rantai, tentu itu bukanlah prestasi.”
“Apa yang kamu lakukan, Crain?” bentak Arya. Salah satu petugas yang tadi membawanya tambak menyiagakan senjatanya.
Crain memberi isyarat agar petugas itu menurunkan senjatanya. “Aku hanya ingin bertransaksi dengan Tuan Juna. Kuharap kamu tidak perlu ikut campur,”
“Setelah apa yang kamu dapatkan dari Mata Rantai, dari kepercayaan Tuan Mata, sekarang ini yang kamu lakukan?”
“STOP, jangan memberiku ceramah. Aku sedang tidak ingin berdebat. Dan jangan membuatku kesal. Asal kalian tahu, aku melakukan ini untuk kebaikan semua orang. Aku hanya ingin membantu orang-orang yang membutuhkan, mereka yang kehilangan kasih sayang. Itu saja. Dan biarkan Tuhan yang menghakimi sendiri perbuatanku, apakah benar atau salah. Kalian bukan kaki tangan Tuhan yang diberi mandat untuk membenarkan atau menyalahkanku.”
“Kamu sudah gila,”
Juna menyentuh lengan Arya. “Tenanglah. Aku akan menuruti permintaannya.” Juna tersenyum kecil.
“Tapi Tuan…”
Juna menggeleng.
“Ternyata kamu sudah mengerti, Tuan Juna. Segera bawa kemari buku petunjuknya wasiat dari Tuan Mata dan aku akan memberikan Ariana kepadamu.”
Juna mengangguk. Dia kemudian berjalan ke kamarnya dikawal oleh petugas. Dia menuju dinding di dekat tempat tidurnya. Ia menempelkan tangannya di sana, dinding terbuka, sebuah almari kecil dengan pintu kaca ada di dalamnya. Juna membuka almari itu lalu mengambil buku bersambul cokelat yang ada di dalamnya. Juna memperhatikan sekilas buku itu. Buku petunjuk Mata Rantai. Ia sendiri masih belum tahu tentang guna buku itu dan malam ini ia harus melepaskannya.
Tanpa mempedulikan petugas yang sedang berdiri di ambang pintu, Juna membuka cepat buku itu. Tulisan-tulisan tangan di sana tampak tergambar jelas. Dari semuanya, gambar di sampul belakangnyalah yang selalu membuatnya bingung. Gambar hewan, seperti kumbang yang digambar dengan grafis bunga-bunga. Apa maksudnya?
Juna menggeleng. Dia harus cepat memberikan buku itu lalu menyelamatkan Ariana. Ia sendiri tidak mengerti apakah tindakannya sekarang benar atau salah. Dulu ketika ia datang kali pertama ke sini, ia memang bertekad untuk meneruskan Mata Rantai, warisan ayahnya. Tetapi malam ini, ia justru akan menyerahkan warisan buku petunjuk Batu Mata Rantai ke orang lain. Ia merasa gagal untuk memenuhi permintaan ayahnya.
Juna menutup buku itu, lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Di luar kamar, semua orang sudah berdiri menyambut Juna di depan kamarnya.
“Ini bukunya,” ucap Juna. “Tetapi sebelumnya serahkan dulu Ariana kepadaku atau aku benar-benar akan memusnahkan buku ini.” Juna mengacungkan korek api di dekat bukunya.
Crain terkekeh. “Aku suka caramu bertransaksi, Tuan Juna. Tetapi tenang saja, aku bukan tipe pebisnis yang mengingkari janji. Kuharap kamu pun begitu.” Crain menoleh ke arah Janero. “Lepaskan dia.”
Janero melepas sumpalan mulut Ariana dan juga ikatan tangannya. Ariana memberontak pelan, lalu ia berjalan ke arah Juna.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Juna. Ariana menggeleng.
“Sekarang serahkan buku itu!” perintah Alexa Crain. Moncong-moncong senjata mengarah ke arah Juna, termasuk milik Janero.
Juna menyodorkan buku yang ia pegang ke arah Crain. Crain menyambutnya dengan muka berbinar. Ia seperti seorang anak kecil yang baru saja diperbolehkan ibunya untuk memakan es krim cokelat besar. Ia membolak-balik buku yang ia peroleh. Di halaman-halaman tertentu, matanya tampak membelalak senang.
“Aku sudah lama menginginkan buku ini,” ucap Crain terkekeh kecil. “Dan malam ini aku akan segera menyelesaikan misiku.” Ia menoleh ke arah Janero. “Sekarang waktunya kamu untuk balas dendam, lampiaskan amarahmu saat ini. Bukankah kamu menginginkan Ariana menjadi milikmu?” Crain tertawa mengejek. “Kamu boleh membunuh mereka berdua, lalu mengawetkan Ariana di kamarmu, atau kamu bunuh saja Juna Mata, dan kamu masukkan Ariana ke kamar itu. Bukankah akan menyenangkan bercinta dengannya di kamar Tuan Juna?” Crain kini tertawa lebar.
Juna mengepalkan tangannya keras. Mukanya berubah merah. Dia mencengkeram tangan Ariana kuat.
“Dan Tuan Juna, sebelum kamu berada di alam lain yang benar-benar nyata, bukan lagi alam bawah sadarmu, aku ingin katakan bahwa Gedung ini ternyata memiliki banyak sekali sistem keamanan yang sulit ditembus. Tetapi untung saja, kamu menempatkan Janero di Departemen IT bersama dua asisten terbodohmu. Aku jadi punya akses untuk melihat seluruh ruang di gedung ini. Dan tidak sulit bagiku untuk menanamkan bom waktu di salah satu gedungnya.”  Crain melirik jam tangannya. “Tinggal lima belas menit lagi bom itu akan meledak.”
Juna semakin mempererat pegangannya pada tangan Ariana. Kali ini dia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan amarahnya. Tetapi, ia sedang berada di pihak terpojok. Di depannya ada tiga orang di pihak lawan yang sedang memegang senjata. Tentu saja jika ia berontak, maka ia seperti menyerahkan tubuhnya pada macan yang kelaparan.
“Aku harus pergi. Sekarang urusanmu, Janero.” Crain memasukkan buku petunjuk batu mata rantai ke dalam tasnya. Ia berbalik badan dan berjalan perlahan, kemudian berhenti. Ia kembali menoleh. “Sudah cukup dramanya, Sayang. Kita harus segera menyelesaikan misi ini. Lekas kemari, aku sudah lelah berpura-pura.”
Juna memicingkan matanya tak mengerti. Crain sedang melihatnya, lalu memandang Ariana. Juna menoleh ke arah Ariana meminta penjelasan. Tetapi mata Ariana menyinarkan kepolosan, seperti bayi yang baru keluar dari rahim.
“Aku juga sudah lelah berpura-pura,” suara bass itu membuat Juna menoleh. Ia memandang Arya yang berjalan santai dengan ke dua tangan di saku celana. Ia berjalan ke arah Alexa Crain. Crain menyambut Arya, ia mengalungkan tangannya ke lengan Arya. Keduanya menoleh ke arah Juna.
Juna menelan ludah. “Arya?” ucapnya pelan.
Crain tertawa kecil. “Sudah terlalu banyak orang yang sakit hati di sini, Juna. Karena kamu.” Dan dia bergelendot manja di tangan Arya. Arya membelai rambut Crain. Keduanya berjalan menjauh.
Juna berdiri mematung di tempatnya. Ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
Arya? Arya yang sangat ia percayai?
Mendadak angin berhembus. Hawa panas seperti datang tiba-tiba. Kesadaran Juna pulih kembali. Di hadapannya, ada tiga macan lapar dengan gigi yang siap menerkam dirinya dan Ariana. Juna melirik ke kiri, ia mendapati figura ada di sisi kirinya. Lalu ia beralih melihat Ariana.
“Ariana, apakah kamu membawa tisu? Sepertinya tisu basah di kamarku habis,” Juna mengerlingkan matanya, memberi isyarat. Ariana melebarkan matanya. “Di kamarku,” kata Juna, menekan kata-katanya. Ariana menggerakan kepalanya tanda mengerti.
Juna menoleh ke ketiga macan di depannya. “Apakah kalian akan berdiam diri saja?” tanya Juna.
“Aku sudah menantikan ini, Juna.” Janero menarik pelatuk pistolnya.
“Begitupun aku, Janero.” Juna meraih figura di sampingnya dengan cepat, melemparnya ke sisi kanan. Ketiga macan di depannya menoleh, mengikuti figura. Juna memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang pintu di belakangnya. Pintu kamar terbuka, Ariana masuk ke kamar di susul oleh Juna. Dengan sigap Juna menutup pintu kamar dan menguncinya. Terdengar tembakan dan gedoran pintu.
“Cepat lari ke toilet!” teriak Juna. Ariana menuruti, dia berlari ke toilet. Juna menyusul.
Di dalam toilet, Juna menyentuh cermin di sana. Tangannya terdeteksi, lalu matanya. Cermin membelah dan ia masuk ke dalam ruangan di dalamnya, disusul oleh Ariana. Terdengar tembakan lagi, dan gedoran pintu berkali-kali. Sebelum tiga macan itu menemukan mereka, Juna menutup kembali pintu cermin.
Di dalam ruang baca rahasia, Juna mencari kacamata Tuan Mata.
“Aku tidak tahu ada ruangan ini di gedung ini,” kata Ariana.
“Peta rahasia Mata Rantai pun tidak tahu. Tuan Mata sengaja menyembunyikannya. Mungkin ia sudah menduga akan ada hal seperti ini, penghianatan seperti ini.” Juna memakai kacamata Tuan Mata. Dia memandang ke sekeliling, mencari-cari.
“Mencari apa?” tanya Ariana.
“Pintu rahasia,” jawab Juna. Dia mendapatkannya. Di salah satu rak buku, ada tombol rahasia yang hanya terlihat dengan kacamata Tuan Mata. Sebuah tombol yang seharusnya di dunia nyata terlihat sebagai sebuah buku tebal. Juna menggeser buku itu. Rak buku bergerak, terbuka. Sebuah pintu ada di baliknya.
“Ayo masuk,” perintah Juna. Ariana mengangguk. Di balik pintu itu adalah sebuah lift yang akan membawa mereka ke halaman tak terjamah di lorong bawah tanah yang akan membawa mereka ke pintu rahasia di belakang gedung Mata Rantai. Lift bergerak cepat turun ke bawah.
Di luar toilet, Janero dan dua petugas keamanan sedang kebingungan mencari-cari Juna dan Ariana.

Pintu lift terbuka. Ruangan gelap. Juna ragu untuk melangkah maju.
“Kenapa? Kamu nggak takut gelap kan?” tanya Ariana sambil mengeluarkan ponselnya. Ia mencari aplikasi senter di sana, lalu menyalakannya.
“Aku tidak takut sama gelap,” jawab Juna. “Tapi kuharap di sini tidak ada kecoa.”
“Oh iya, kecoa. Ha ha ha,” Ariana tertawa.
“Apa yang kamu tertawakan di tengah suasana genting seperti ini?” tanya Juna. “Aku di sini masih bosmu,”
“Bos yang otoriter?” Ariana memicingkan mata. “Atau yang takut kecoa?” Lagi-lagi dia tertawa.
“Cukup Ariana, lebih baik kamu hubungi Dodo atau Dede suruh mereka untuk menjemput kita di belakang gedung. Aku yakin, Crain dan Ariana sedang merencanakan sesuatu. Mereka akan pergi ke suatu tempat.”
“Pergi ke suatu tempat?”
“Monas,”
“Monas?”
“Ya, aku melihat peta kawasan Monas di ruang bawah tanah Crain di Galeri Mahakarya dengan subyek PROYEK MAHAKARYA. Aku yakin mereka akan ke sana dengan membawa batu mata rantai. Tapi aku belum tahu mengapa mereka ke sana. Tetapi yang jelas, mereka akan melakukan sesuatu.”
Juna merasakan bisikan di telinganya semakin kuat. Pandangannya mengabur.
“Ada apa?” tanya Juna.
“Entahlah, aku seperti merasakan ada makhluk berkekuatan besar yang berusaha memberitahuku sesuatu.” Juna memejamkan mata. “Mahesa,” ucap Juna kemudian.
“Mahesa?” tanya Ariana. “ Siapa?”
“Kekasih pertama Crain. Crain menguburnya di Galeri Mahakarya. Ia mengawetkannya di sana. Karena ia tak ingin Mahesa dimiliki oleh orang lain, makanya dia membunuh Mahesa dan mengawetkannya. Dan dia membunuh orang-orang yang berusaha merebut Mahesa darinya.”
“Lalu mengapa Mahesa sekarang tiba-tiba muncul seolah ingin balas dendam?”
Juna memutar otaknya. Lorong di depannya semakin gelap, tetapi mereka berdua harus tetap berjalan. Dia memegang tangan Ariana erat karena ia tak ingin tiba-tiba ada kecoa di depannya.
“Kamu ingat pertengkaran Eva dan Gerry di butik mereka beberapa bulan silam?”
Ariana mengangguk. “Sebelum kita makan di Blok S?”
“Oh kamu rupanya mengingat makan siang di Blok S bersamaku?”
“Cukup Juna, itu bukan bahasan penting sekarang.”
“Tetapi kamu mengingatnya?”
“Iya aku mengingatnya, puas?”
“Berarti kamu mencintaiku?”
“Pertanyaan macam apa itu, Juna.”
“Aku mencintaimu,” ucap Juna. Matanya menatap mata Ariana dalam remang cahaya  yang keluar dari ponsel Ariana.
Ariana menghela nafas perlahan. “Apakah kamu tidak menanyaiku, apakah aku mencintamu?”
“Apakah kamu mencintaiku?”
“Apakah perlu kujawab?”
Tangan Juna meraih kepala Ariana. Ia memandang bibir Ariana yang merah dan kecil.
Ariana balas menatap Juna. Di tengah kegelapan seperti ini, mata Juna masih tetap membuat seluruh tubuhnya luruh ke tanah.
Bibir Juna mendekat ke bibir Ariana. Lalu keduanya bersentuhan. Juna membuka perlahan bibirnya, lalu memainkan lidah dan bibirnya di bibir Ariana. Ariana terpejam, menikmati setiap kejutan dari bibir Juna yang terkesan tebal namun mengasyikkan.
Bunyi sinyal low battery ponsel Ariana menghentikan ciuman mereka. Dan mereka baru tersadar bahwa mereka sedang dalam bahaya.
“Mengapa aku harus menciummu di suasana seperti ini?” Juna mendengus dan dibalas Ariana dengan tawa.
“Kamu belum menyelesaikan kalimatmu sebelum kita membahas makan siang blok S,” ucap Ariana dengan muka merah, malu. Ia masih kaku setelah berciuman dengan Juna barusan.
“Ingat pertengkaran Gerry dan Eva?” tanya Juna. Ariana mengangguk. “Kamu pernah bilang kepadaku bahwa pasangan seperti Gerry dan Eva itu memiliki cinta yang besar. Jika salah satu diantara mereka cemburu, maka mereka bisa berbuat apa saja. Jadi aku rasa….”
“Mahesa cemburu pada Arya,”
“Tepat.”
“Dan dia ingin balas dendam.”
“Dan ini bukan sekedar balas dendam, tetapi pertarungan yang melibatkan dua supranatural. Crain memegang batu mata rantai. Dan sesuai yang kutahu, batu itu bisa mengendalikana makhluk-makhluk gaib, atau justru sangat berbahaya bagi yang memegangnya. Apapun yang mereka rencanakan, kita harus mencegahnya. Kita harus bergegas ke Monas.”
“Aku sudah menghubungi Dodo dan dia akan menjemput kita di belakang gedung. Kita harus segera ke sana.”
Juna mengangguk. Ia merenung sejenak.
“Ada apa?” tanya Ariana.
“Aku hanya tidak percaya, ini semua terjadi di Mata Rantai, di bawah kepemimpinanku. Di surat wasiat yang Tuan Mata tulis untukku, beliau memintaku untuk melanjutkan Mata Rantai yang hampir bangkrut. Dia berharap padaku, dia berharap aku bisa mengembalikan kejayaan Mata Rantai. Tetapi aku malah membuat semuanya berantakan. Aku gagal, aku merasa gagal Ariana.”
Ariana menggeleng pelan. Dia menempelkan telunjuknya di bibir Juna. “Ini semua bukan salahmu, Juna. Aku tahu, kamu sudah melakukan yang terbaik. Ini karena ulah orang-orang yang berkhianat, mereka yang menginginkan kehancuran Mata Rantai.”
“Dan Arya….” Juna menekan kata-katanya. “Aku sampai detik ini bahwa dia…” Juna menggeleng, “…bahwa dia mengkhianatiku. Mengkhianati kepercayaan Tuan Mata.”
Juna jadi teringat kejadian tadi pagi di bandara. Pantas saja, Arya langsung menyahut bahwa Crain sedang mencari batu mata rantai. Padahal dia belum mengatakan apa-apa. Itu karena Arya pun ada di balik ini semua. Ia pun ada dalam misi pencarian batu mata rantai.
“Sudahlah, Juna. Kamu tidak perlu menyesali. Kita harus bergerak cepat.”
Mereka tiba di ujung lorong. Juna mendorong pintu besi di depannya. Langit gelap menyambut mereka. Sebelum mereka bergerak, terdengar bunyi dentuman keras dari belakang mereka. Juna menoleh ke belakang dan ia melihat salah satu gedung Mata Rantai runtuh karena bom. Api menyala, menimbulkan cahaya di tengah malam. Suasana mendadak ramai oleh rauangan mobil polisi.
Juna mengumpat dalam hati. Ia melupakan ucapan Crain tentang bom yang ia letakkan di gedung Mata Rantai. Dan Crain benar-benar tidak bercanda. Dia menghanucrkan salah satu gedung itu.
“Ini pengalihan,” kata Ariana tiba-tiba.
“Pengalihan?” tanya Juna.
“Iya, agar orang-orang tidak ada yang mengetahui perbuatan mereka di Monas.”
Lampu di otak Juna seperti menyala. “Mengapa aku tidak berpikiran sampai segitunya.” Lalu dia seperti menyadari sesuatu. “Astaga, mengapa aku tidak menyadarinya?”
“Apa?”
“Aku sekarang mengerti, apa arti simbol gambar sampul belakang di buku petunjuk mata rantai. Awalnya kukira itu adalah gambar kumbang berwarna kuning kecokelatan dengan grafis bunga. Ternyata itu bukan kumbang, tetapi kekutu.”
“Kekutu? Apa yang kamu bicarakan, Juna.”
“Apa bahasa inggris kekutu?”
Bug?”
“Ya, Bug. Bug dalam istilah IT berarti suatu kesalahan desain pada suatu perangkat keras komputer atau perangkat lunak komputer yang menyebabkan peralatan atau program itu tidak berfungsi semestinya. Tahun 1945, sewaktu ukuran komputer masih sebesar kamar, pihak militer Amerika Serikat menggunakan komputer yang bernama "Mark 1". Suatu hari komputer ini tidak berfungsi dengan semestinya, setelah komputer itu diperiksa ternyata ada suatu bagian perangkat keras di mana terdapat serangga yang tersangkut. Setelah serangga itu diangkat dari perangkat keras, komputer dapat berfungsi dengan baik. Maka sejak saat itu kata kekutu lekat dengan masalah-masalah pada komputer.”
“Lalu?”
“Ah, aku belum bilang kepadamu bahwa Tuan Mata menyukai dunia IT. Banyak sekali bukunya tentang IT di ruang bacanya. Dan ia meninggalkan petunjuk di buku batu mata dengan simbol itu.”
“Langsung ke pokok permasalah, Juna.”
“Batu Mata Rantai yang Crain temukan itu bukan batu yang asli. Tuan Mata sengaja melakukannya karena ia tahu akan ada perpecahan di perusahaan ini karena legenda batu itu. Tuan Mata masih menyimpan batu itu rapat-rapat di tempatnya, di Masjid Luar Batang. Ini adalah sebuah bug, kesalahan agar batu itu tidak berfungsi. Atau bahasa gampangnya, ini adalah pengalihan. Dan aku tahu apa yang harus kuperbuat sekarang, Ariana.”

baca kelanjutan kisahnya di bit.ly/matarantai25

Baca juga dongeng lainnya :
3. a Magic




You Might Also Like

2 comments

  1. Baca tulisan ini serasa baca novel-novel luar negeri...
    mantav bro!!
    lanjutkan!!
    salam kenal...

    BalasHapus
  2. Yg ini keren bro..udh nebak arya terlibat tp ttg bug,excellent..lanjuuuuttt!!!!

    BalasHapus