[DONGENG] SAFETY FIRST

30.10.15


Dia terbungkus kaca, sangat cantik. Bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadanya? Setiap hari, pagi dan petang, aku memandangnya dari kejauhan. Seperti seorang pengemis kecil yang sedang menanti sisa-sisa kue gosong dari toko kue. Andai aku bisa lebih dekat lagi. Setiap selongsong matanya menyala menatapku, aku hanya bisa tersenyum dan menahan nafas. Dialah penyemangatku setiap pagi.
“Berapa harganya?” tanyaku suatu hari, sambil memandangnya sekali lagi. Sore itu, sepulang kerja, aku datang menemuinya. Petugas yang selalu membersihkannya menyapaku, menjelaskan tentang skema pembelian. Dia menyebutkan satu angka yang langsung membuat ludahku beku. Seorang tukang ojek pengkolan yang tak tentu pendapatannya setiap hari harus menabung berapa lama untuk bisa memilikinya, pikirku saat itu.
“Mengapa tidak kredit saja?” tanya petugas itu. “Itu akan lebih mudah.”
Aku menggeleng pelan. Lalu aku pulang dengan mimpi-mimpi kecil. Sebuah mimpi yang setiap pagi dan sore selalu berkobar kala melihat si cantik. Aku bertekad akan membawanya pergi dari toko itu suatu saat. Aku hanya perlu bekerja keras, mencari uang setiap hari.
Di setiap doaku pagi dan petang, dialah yang menjadi prioritasku. Tuhan ijinkan aku membawa New Vario ESP CBS warna hitam yang ada di toko itu ke rumah. Untuk hadiah puteri kecilku. Aku tersenyum, percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doa itu.
Tuhan kemudian menunjukkan mukjizatnya. Setiap hari aku bisa menyisihkan uang untuk kutabung. Lalu ada saja rejeki yang datang. Misalnya, tiba-tiba ada yang menawari untuk menjualkan tanah miliknya. Aku akan mendapatkan upah jika berhasil menjualnya. Tak berapa lama, ada seorang saudagar yang menawar tanah itu. Aku mendapat upah, saudagar itu pun memberiku pundi-pundi tambahan.
Tepat satu bulan sebelum puteri kecilku akan masuk ke universitas di kota, aku sudah mengumpulkan semua dananya. Aku pergi ke sana, ke toko itu. Melihat dengan linangan air mata syukur. Aku tak bisa membayangkan puteri kecilku akan melompat kegirangan melihatku membawa sepeda motor ke rumah. Dia pasti tidak akan cemberut lagi. Dia akan memaafkanku yang sudah berjanji setiap hari.
Sengaja aku bilang kepada petugas di showroom motor agar motornya disimpan dulu, tidak perlu diantar ke rumah. Biarkan motor itu mendapatkan nomer polisi sementara dahulu. Aku yang nanti akan menjemputnya, lalu mengendarainya ke rumah dengan gagah. Aku yang akan menyerahkannya sendiri kepada puteri kecilku.
Maka siang itu, aku dengan hati bak taman bunga, mengendarai motor itu. Sudah bertahun aku tak pernah mengendarai motor bagus dengan suara halus. Motorku sendiri adalah motor bebek bekas keluaran awal tahun 2000. Aku tersenyum sepanjang jalan, seperti seorang pemuda yang baru saja diterima cintanya. Kusapa semua orang, meskipun tak kukenal.
Saat aku sedang berhenti, membeli martabak manis kesukaan puteriku (pst, kami biasanya hanya bisa memakannya sebulan sekali) sebagai pelengkap kejutan untuknya, kuceritakan kegembiraanku pada si penjual martabak. Dia antusias mendengarnya.
Martabak telah selesai dibuat. Aku hendak pulang membawa Varioku. Mendadak kepalaku digelayuti berton-ton pasir. Di tempat parkir, aku tak melihat motor baruku. Si cantik itu, dibawa lari oleh pencuri.
# # #
Sehari sebelum aku pergi ke showroom motor, aku sempat berbincang dengan puteriku. Orang-orang memanggilnya dengan nama depannya, Annisa. Tetapi aku memanggilnya dengan nama kesayanganku, Airin. Airin sekarang sudah akan duduk di bangku universitas.
Airin, gadis kecil yang dulu berkepang, kini akan semakin jarang di rumah karena kesibukan di universitas. Sebenarnya, aku semakin khawatir kepadanya. Dari dulu aku memang selalu menjaganya sebaik mungkin.
“Apakah aku boleh pacaran?”
“Tidak perlu. Ada waktunya kamu akan berpacaran. Aku dan ibumu dulu berpacaran ketika sudah dewasa. Ibumu cinta pertama dan terakhir ayah.”
“Apakah aku boleh pergi ke pantai bersama teman-teman?”
“Ayah bisa mengantarkanmu. Lagian anak-anak itu selalu mengendarai motor ugal-ugalan. Aku tak akan mengijinkan puteri kesayangan ayah untuk berboncengan dengan mereka.”
“Jadi, apa yang diperbolehkan Ayah? Semuanya dilarang.” Dia pura-pura cemberut.
“Belajar, belajar, dan belajar. Buat ayah dan ibu bangga. Mengerti, kan?” Aku mencium keningnya. “Saat dewasa, kamu akan mengerti mengapa ayah melakukan semua ini untukmu Sayang.”
Dialah satu-satunya harta yang kini kumiliki. Harta yang selalu kujaga. Aku tak ingin dia terluka, dia disakiti. Aku menjaganya dengan sepenuh hati.
Suatu petang, dia pulang dengan wajah berseri. Dia memberitahuku bahwa dia mendapatkan beasiswa penuh di universitas. Yang membuatku bangga, aku tidak perlu mengeluarkan banyak biaya karena dia menerima beasiswa. Sebagai seorang yang selalu juara umum di sekolah, dia mendapatkan undangan khusus dari universitas. Dia diterima di Teknik Industri tanpa biaya, bahkan hingga 8 semester.
Kemudian, aku pun berjanji kepadanya. “Dengarkan ayah. Selama ini kamu sudah menjadi puteri ayah yang paling baik, paling manis, paling pintar. Biarkan ayahmu ini berjanji satu hal untukmu. Ayah akan membelikanmu motor. Biar kamu bisa berangkat ke universitas tanpa kesulitan.”
Kulihat matanya terbelalak lebar. Seperti seekor kucing yang tertangkap sedang memakan ikan asin di dapur. “Benarkah? Tetapi, dari mana ayah mendapatkan uang? Aku tidak ingin membebani ayah.”
“Ayah tidak merasa dibebani, Sayang. Ayah punya uang untuk membelikanmu motor. Lusa, ayah akan membawanya ke rumah.”
Dia melompat kegirangan, dia memelukku. Aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Sembari memeluknya, aku memandangi foto istriku. Airin benar-benar jelmaan dari dirinya.
Aku berkata dalam hati, berkata pada istriku. “Bukankah aku sudah berjanji padamu, aku akan menjaganya. Aku akan merawat dan membahagiakannya. Semoga kamu bahagia juga di Surga, Sayang.”
# # #
Si pencuri sudah jauh. Untungnya saya menemukan seorang Bapak Ojek dengan motor bebek warna merah sedang menunggu penumpang tak jauh dari tempatku membeli martabak. Aku langsung naik ke atas motornya, berteriak kencang agar dia mengejar si pencuri. Sebelum pergi, dia berteriak kepadaku untuk memakai helm.
Bapak itu kutaksir berumur 60-an tahun. Ia mengendarai motor sangat pelan, sehingga si pencuri sudah melesat jauh. Aku pun akhirnya memaksa si Bapak untuk tukeran. Aku yang ada di depan. Hasilnya motor melesat kencang di atas aspal. Aku berhasil mengendari si bebek dengan kecepatan penuh, berkelok di antara aspal rusak yang sedang diperbaiki.
Kuperhatikan, si pencuri menoleh ke belakang. Pencuri kecil yang malang, aku akan segera mendapatkanmu. Kepiawaianku menjadi tukang ojek selama puluhan tahun teruji. Tinggal beberapa meter lagi aku bisa menangkap pencuri itu.
“Hei, berhenti, berhenti. Kembalikan motorku,” teriakku.
Pencuri itu mempercepat laju motornya. Tampak lampu belakang motorku yang elegan meliuk-liuk.
Jika kau buat lecet sedikitpun, aku tak akan memberi ampun. Aku berkata dalam hati.
Kuminta Bapak Tua yang ada di belakang untuk memegang pundakku erat-erat. Berkali-kali dia mencengkeram jaketku saat aku mendadak menekan gas terlalu cepat, atau tiba-tiba mengerem tanpa pemberitahuan.
Tenang Pak, aku pengendara handal. Ucapku kepadanya. Tetap saja, dia memperintahkan aku untuk berhati-hati.
“Siapa yang kamu kejar?” tanyanya.
“Pencuri.”
“Siapa?”
“Pencuri,” aku berteriak.
“Apakah kamu mengejar pencuri? Apakah motormu dia curi?”
Astaga, ternyata orang tua di belakangku dari tadi tidak mendengar. Kudiamkan dia, tanpa menjawab. Dia justru mengoceh tak karuan.
“Kuharap kamu tidak membahayakan orang lain. Meskipun kamu mengejar pencuri,”
Aku tahu. Aku tahu. Batinku dalam hati. Aku sudah mengendarai motor bertahun-tahun, setiap hari. Aku tak ingin pencuri itu pergi jauh, membawa hadiah untuk puteriku. Bagaimana perasaan puteriku jika ia mengetahui hadiahnya dicuri. Apa yang harus aku katakan?
“Itu hadiah untuk puteriku, aku harus mengambilnya kembali,” ucapku lantang, tak berharap orang tua di belakangku akan menimpali.
“Aku sudah tua, aku tak ada masalah jika harus pergi dulu ke Surga. Tetapi kamu, kamu masih muda. Bisakah kamu memelankan motorku. Ingat, ini motorku. Aku tak ingin kamu merusaknya.”
“Jika kita berhasil mengejar pencuri itu, aku akan berterima kasih kepadamu.”
“Mengapa orang-orang suka mengebut sepertimu. Bukankah mereka belum merasakan hidup terlalu lama. Aku sudah hidup lama, aku sudah melihat dan mengalami berbagai hal.”
“Aku sedang mengejar pencuri.”
“Astaga, di depan kita ada lampu merah.”
Aku menoleh ke depan, memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Bapak Tua itu benar. Beberapa meter di depan, aku melihat lampu sudah menyala orange. Orang-orang melaju dengan kencang, termasuk si pencuri. Mereka seperti seorang pelari marathon yang berdiri di belakang garis start, saat peluit dibunyikan mereka langsung melesat melewatinya. Aku ragu untuk mengambil langkah, apakah aku harus menambah gas, atau menekan rem perlahan. Kulihat ada seorang bapak-bapak berjaket kulit melesat mendahuluiku. Lampu menyala merah saat dia melesat melewatinya. Dan bunyi klakson bersahutan karena Bapak itu hampir menabrak seorang anak berbaju seragam abu-abu yang menyelonong dari arah kiri.
Aku menekan rem perlahan. Jantungku seperti mau terlepas, seperti akan menggelundung ke aspal.
“Kukira kamu akan menerobos seperti dia. Jika iya, kamu pasti sudah menabrak anak berseragam itu,” si Bapak di belakangku berteriak tepat di kepalaku.
Mengapa dia suka sekali berteriak-teriak.
“Tetapi gara-gara aku tidak menerobos, aku kehilangan jejak pencuri kecil itu. Dia pasti sudah jauh dan tertawa penuh kemenangan.”
“Setidaknya kamu tidak jadi pembunuh.”
Aku mendengus sebal. Lampu tidak kunjung hijau. Aku memegang erat gas. Cengkeramannya semakin lama semakin kuat. Saat lampu sudah hijau, aku buru-buru menekan gas. Membuat Bapak Tua mencengkeram jaketku erat sambil berteriak.
“Astaga, apa yang kamu pikirkan. Kamu ingin membuat kita mati terjatuh?”
Aku tak mempedulikan Bapak Tua itu. Aku terus melaju, bak seekor lebah yang memburu seorang anak yang memakai baju merah. Aku tak peduli pada siapapun, aku peduli pada puteriku. Aku tak ingin dia kehilangan apa yang menjadi idamannya.
Bukankah akan menyenangkan melihatnya setiap pagi pergi ke universitas menggunakan sepeda motor. Aku sangat berharap banyak kepadanya, puteri yang selalu aku dongengnkan setiap malam. Dia hartaku satu-satunya. Akan aku jaga, melebihi aku menjaga diriku sendiri. Aku masih ingat ketika dulu aku mengantarkannya ke taman kanak-kanak untuk pertama kalinya. Dia menangis karena takut pada seorang siswa berbadan besar. Aku harus menemaninya hari itu. Lalu, saat dia mulai belajar naik sepeda, aku yang selalu mewanti-wanti dirinya agar selalu berhati-hati. Aku mewajibkan dia untuk memakai helm kecil agar kepalanya tidak terkantuk batu saat jatuh.
“Apakah aku harus selalu pakai ini?”
“Untuk melindungimu, Sayang.”
“Seperti ayah melindungiku?”
“Tentu saja. Septi Pirs,” ucapku walaupun dengan susah payah, tetap saja aku tak berhasil mengejanya. “Begitu kata Mas Awan, tetangga kita yang kuliah di universitas. Kemarin dia memberi pengarahan tentang pentingnya berkendara yang benar. Nanti, jika sudah dewasa kamu akan mengerti.”
Perlahan saat dewasa, aku selalu melarangnya untuk bermain terlalu jauh. Karena aku tak ingin berlianku tergores, cacat. Aku ingin terus menjaganya dan membuatnya bahagia, seperti janjiku pada istriku.
Aku akan melakukan apa saja untuk membahagiakannya. Meskipun harus mengejar pencuri sampai titik darah penghabisan.
Motor bebek Pak Tua melaju kencang, melebihi kecepatan sebelumnya. Pikiranku semakin kalut saat tak kulihat pencuri itu di kejauhan.
“Kita kehilangan jejaknya, aku gagal mengejarnya,” ucapku sambil terus mencari.
“Selamatkanlah dirimu sendiri terlebih dahulu.”
“Aku ingin membuat puteriku bahagia, Bapak Tua. Apakah kamu tahu?” Aku mulai terisak. Sesegukan. Membayangkan wajah puteriku yang kecewa saat aku pulang tak membawakannya sepeda motor baru.
Ayah berbohong kepadaku. Aku membayangkan dia berkata dengan bibir cemberut. Lalu dia akan mengunci diri di kamar. Tak mau berbicara kepadaku. Astaga, apa yang harus kulakukan. Mataku mulai mengabur. Tetapi aku terus berdoa, aku terus meminta. Di titik terlemahku, aku pun pasrah. Dan Tuhan mengabulkan doaku.
Di kejauhan, kulihat sepeda motorku melambat. Mungkin dia lengah karena merasa tidak dikejar. Aku pun menambah kecepatan, sambil berteriak kepadanya. “Hei, maling kembalikan sepeda motorku.”
Dia menoleh. Terkejut. Dia berlari lagi.
Kali ini, aku tak boleh kehilangannya. Kupacu sepeda motor Bapak Tua dengan kecepatan penuh. Bapak Tua terdengar berdoa di belakangku. Di depan ada perempatan, lampu hijau menyala. Aku mempercepat laju sepeda motor. Lampu orange menyala, lalu merah. Aku  masih beberapa meter. Tetapi aku tak peduli, aku menerobos dengan kecepatan tinggi. Berhasil, aku berhasil melewati lampu merah. Dan jarakku dengan si pencuri semakin dekat. Coba tadi aku berhenti, pasti aku akan kehilangan si pencuri untuk selamanya.
Tetapi karena tindakanku itu, seorang polisi dengan motor besar mengejarku. Aku tergagap. Aku mengejar pencuri, aku sendiri dikejar polisi. Polisi dengan lihat mengendarai sepeda motornya, menyuruhku untuk berhenti. Aku tak menurut. Kudengar si Bapak Tua memaki-makiku. Aku tak peduli. Bahkan aku tak peduli saat perlahan plang peringatan kereta api mau lewat turun bersamaan dengan suara sirinenya. Aku menerobos. Bukan karena menghindari si Pak Polisi, tetapi karena aku ingin mendapatkan si pencuri.
Aku tak mau gagal.
Tetapi aku malah menabrak mobil yang mendadak berhenti di depanku. Aku terjatuh terantuk aspal. Sebelumnya si Bapak Tua memukul kepalaku kencang.
#  # #
Aku melihat puteriku di kejauhan, menari bersama ribuan kupu-kupu di taman yang indah. Dia tersenyum penuh percaya diri, berputar-putar sambil sesekali menggapai kupu-kupu. Ada keceriaan di wajahnya. Ada gurat kebahagiaan yang tergambar. Kulangkahkan kaki menuju ke arahnya. Suara burung-burung terdengar riuh rendah mengiringi setiap langkah.
Puteriku menoleh kepadaku. Mendadak mukanya berubah.
“Mana motorku?” tanyanya dengan muka masam. Wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan.
Aku terjaga.
Kurasakan kepalaku pening. Aku tak lagi di taman yang indah. Aku di ruangan dengan bau obat yang menyengat. Di sofa samping tempat tidurku, ada puteriku yang terduduk sambil tertidur pulas. Aku menarik tubuhku. Kusandarkan tubuhku pada bantal. Punggungku sebenarnya sakit sekali, tetapi aku berusaha untuk tetap duduk dengan tegak.
Puteriku terbangun. Ia mengucek mata.
“Hai Gadis Kecil,”
“Ayah sudah sadar?” tanyanya sambil berjalan ke arahku dengan raut senang. Senyumnya mengembang, mirip seperti saat aku melihatnya di taman tadi.
“Berapa lama aku tertidur?
“Seharian. Aku sempat khawatir karena ayah tak bangun-bangun. Dokter sedang memeriksa hasil rontgen ayah. Takut ada sesuatu yang patah karena ayah jatuh cukup keras.”
Aku teringat dengan kejadian saat terjatuh dari motor. Aku teringat Bapak Tua. “Di mana Bapak Tua yang sedang bersamaku?”
“Dia sudah pulang bersama anaknya. Dia baik-baik saja. Justru karena hal ini, dia tidak lagi diijinkan lagi ngojek sama anak-anaknya. Katanya Bapak Tua itu keras kepala. Dia memaksa untuk bekerja padahal anaknya sudah sukses semua. Benar-benar keras kepala, kan.
Memang betul, batinku. Dan juga cerewet.
“Seperti ayah,” puteriku tersenyum. Aku cemberut. “Aku sudah bilang kepada ayah bahwa ayah tak perlu bekerja terlalu capek, apalagi sampai ngejar-ngejar maling dan tidak memperhatikan keselamatan ayah sendiri. Bukankah ayah yang bilang sendiri, kita harus menjaga diri. Mengapa ayah jadi melanggar aturan sendiri?”
“Karena ayah harus mengejar maling yang mencuri motor barumu,”
“Apakah aku memintanya?” tanyanya kepadaku. “Airin sudah bilang bahwa Airin tidak mau merepotkan ayah. Airin bisa kok naik angkot, atau sepeda. Asal ayah tidak kebingungan mencari uang dan kerepotan seperti sekarang.”
“Aku ingin melihatmu bahagia, Sayang.”
“Apakah ayah pernah melihatku sedih?”
Aku menggeleng. Hampir menangis.
“Airin selalu berterima kasih karena ayah sudah menjagaku. Tetapi ayah juga harus menjaga diri juga. Karena ayah berkendara motor tidak mematuhi aturan, jadi banyak yang dikorbankan. Ayah menyakiti tubuh ayah sendiri, ayah menyakiti tubuh orang lain. Dan yang jelas, ayah merusakkan motor orang. Untung saja, Bapak itu baik. Dia sendiri yang bilang kalau kita tidak perlu mengganti motor itu. Karena dia tahu, ayah pun sedang kesusahan karena kehilangan motor.”
“Maafkan ayah, Sayang.”
“Ayah tidak salah.”
“Ayah tidak bisa menempati janji untuk membelikanmu motor.”
“Siapa bilang?” Puteriku mengeluarkan sebuah foto dari dalam sakunya. “Pak Polisi yang memberikannya kepada Airin. Motor ayah ketemu bersama pencurinya. Sama seperti ayah, pencuri itu juga menabrak mobil yang berhenti mendadak karena dia menerobos palang kereta api. Parahnya, dia terpelanting dan menabrak trotoar. Sekarang pun dia sedang di rumah sakit.”
“Itu motor kita?”
Puteriku mengangguk. Aku tersenyum melihat motorku yang kembali. Meskipun bentuknya sudah tidak karuan.
“Berjanjilah padaku agar ayah tidak seperti ini lagi. Airin sayang ayah, Airin tak ingin kehilangan ayah. Ayah tak perlu membuatku bahagia. Selama ini ayah sudah membuatku bahagia karena ayah selalu melindungiku. Tetapi yang lebih penting, ayah juga melindungi diri ayah sendiri.”
Aku tersenyum dan mengangguk. “Sapti Pirst,” ucapku sambil mengusap rambutnya.
“Safety first,” balasnya.
Siang itu, bunga-bunag di taman kembali mekar. Seperti yang kulihat di dalam mimpi.  
End.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com



You Might Also Like

9 comments

  1. Cerita dongengnya mengalir seperti air, antar alur saling tersambung. Ini nih yg namanya content dan marketing seperti yg dijelaskan mbak eva noviana di acara blogger camp kemarin. Content dan marketing yang membuat tulisan dengan metode tulisan yg membuat pembaca tidak menyadari bahwa ini sedang membaca ulasan akan sebuah produk yg dipasarkan ^^
    bagus kak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you.

      Beruntung sekali kemarin bisa ikutan blogger camp.
      ditunggu cerita ulasan blogger camp-nya.

      Hapus
  2. Bagus ceritanya, semoga menang dan beruntung :D

    BalasHapus
  3. Bagus ceritanya, semoga menang dan beruntung :D

    BalasHapus
  4. ooo kompetisi ya. semoga menang mas. mantaps

    BalasHapus
  5. Bagus :) ceritanya ngalir :D good luck ya :) semoga menang :)

    BalasHapus