[DONGENG] TUHAN, AKU JATUH CINTA


Pernahkah suatu malam kamu menangis, karena sampai detik ini kamu tak punya cinta? Aku pernah. Sekali waktu, justru aku asyik tertawa. Menertawakan diriku sendiri yang terlalu menyedihkan. Aku terperosok dalam jurang kenistaan. Saat semua orang mulai satu-satu meninggalkanku, aku hanya percaya ada Tuhan. Menemaniku.

Endorfin bisa saja keluar bersama rasa tangis. Tetapi endorfin juga membuat orang menjadi gembira, tertawa, tanpa tragis. Dan Tuhan sengaja membuat endorfin di tubuhku merasakan efek yang kedua. Aku percaya Tuhan sedang mengamatiku dari Surga. Meminta malaikat-malaikat untuk menjaga. Dan dia kemudian mengirimiku, sebuah cinta. Waktu masa muda.


Benarkah cinta bisa membuat tertawa,
Benarkah cinta lebih indah dari segalanya,
Benarkah ia hadir menghapus duka,
Jika iya,
Mengapa masih banyak orang yang terluka karenanya,

Aku ingat dulu, saat aku masih berseragam abu-abu. Aku memiliki seorang kekasih, pacar—orang menyebutnya. Dia, dia hanya kujadikan pelarian karena rasa kesepian. Bukan karena aku mencintainya, bukan karena di hatiku ada namanya. Aku merasa cinta waktu remaja hanyalah sebuah hasrat untuk berumbar cerita. Sebuah pengakuan dari orang-orang sekitar. Jadi, aku pun melakukannya. Karena aku melihat teman-temanku mencintai, atau lebih tepatnya terpaksa mencintai, pacar-pacar mereka.

Aku pun berpacaran dengan statis. Seseorang yang mencintaiku. Memujaku. Tak kenal waktu. Mungkin, aku pun mencintainya. Mungkin. Iya, mungkin. Karena setiap bertatapan dengannya, tak ada getar listrik yang menyengat di dada. Tak ada hujan bunga di jiwa. Aku hanya merasakan, aku tak lagi kesepian. Aku hanya merasakan, aku tak lagi kebingungan. Aku tak lagi sendiri. Ada yang ada di setiap hari. Aku ada yang memperhatikan. Tetapi, sesederhana itukah cintaku padanya?

Cintanya bagaikan cahaya yang bergerak dengan arah yang lurus. Dengan tulus. Menempus bidang tipis di hatiku. Dia tidak dipantulkan, tetapi membias. Lalu menyebar di sekujur tubuh. Membunuh kesepian. Merangsang kebahagiaan. Tetapi aku justru terpaku, terdiam. Hatiku tak bergetar. Bukankah ia mencipta cinta, mengapa aku tak ada rasa? Mungkin cintanya seperti cahaya yang datang dari medium yang sangat rapat, yaitu hatinya. Ke medium yang kurang rapat, ialah hatiku. Jadi dia menjauh. Garis normal di hatiku tak menerima.

Lalu aku masih bertanya, apakah itu cinta? Mengapa aku tak ada rasa.

Dia yang begitu perhatian. Dia yang begitu mencurahkan perasaan. Tetapi, aku dan dia bak bercinta di atas rumput kering. Tak ada rasa. Tak ada guna. Aku menyia-nyiakan hari yang telah ia berikan. Tanpa satu alasan. Namun, aku masih memilikinya.

Di satu hari, aku memutuskannya. Memudarkan rasanya. Dan dia menangis. Hujan turun siang itu, tanpa mendung, tanpa pemberitahuan. Mencurahkan kekesalan. Aku hambar. Tanpa dosa.
Dan duar, petir menyambar. Aku. Diriku. Cintaku. Sebuah kondensor raksasa, dimana lempeng pertama adalah dia, dan lempeng kedua adalah hatiku. Dia menyambar, menghantamku.
Sepuluh tahun setelah itu, dia menikah. Dan aku masih sendiri. Menikmati kesendirian.
# # #

Tuhan, kini aku jatuh cinta. Ijinkan aku jatuh cinta.

Mengapa Kau membiarkan hatiku kering seperti padang tandus tanpa rumput. Begitu lama. Matahari di padang tandus adalah pembuat api alami. Goresan rumput-rumput kering dengan dahan-dahan dan ranting. Membuatnya membara. Sepertiku. Kesepian, dihujam derita. Inikah karma yang kuterima. Saat dulu, begitu bersihnya cinta yang kuterima justru kusia-siakan saja.

Detik detik, waktu-waktu berlalu. Aku mencintai satu-satu hati. Mereka meninggalkanku. Malam adalah waktu terburuk untuk melepas kesendirian. Karena di waktu itu, aku duduk. Menatap malam yang menggambarkan semua kepiluan.

Tetapi malam pula yang mengingatkanku, ada Tuhan di hatiku. Di mana-mana. Di hela nafas, di udara yang masuk ke paru-paru. Kuhirup nafas yang merasuk pelan, sambil berdoa. Doa yang sama. Doa yang tak pernah putus. Karena aku tak ingin hangus, didera derita.

Tuhan, aku jatuh cinta. Kini. Setelah sekian lama. Kurasakan hampa. Apakah kini, Kau ijinkan aku sekarang. Untuk membuatnya datang di hatiku. Atau haruskah aku mengais-ais kisah masa laluku. Berlutut di hadapannya, meminta maaf sekaligus doa. Maaf karena telah menyia-nyiakannya dulu, doa untuk cintaku yang baru.

Tetapi hujan seperti mengirimkan hujan di padang yang tandus, malam itu. Tunas-tunas hijau tumbuh di atas tanah basah. Tak lagi derita, yang ada hanya bibit-bibit cinta.

Tuhan, pertanyaanku kini, detik ini masih sama seperti dulu. Apakah cinta yang sesungguhnya? Yang menentramkan hatiku, atau yang menemaniku di sela-sela waktu? Mungkin kamu akan menjawabnya di malam-malam nanti. Saat aku dan Kamu bertemu, di sujud merendah tanpa dosa. Hanya ada aku dan Kamu, Tuhanku. Jawab pertanyaanku. Apa? Lalu siapa? Apakah benar dia? Atau justru seperti kisahku dulu.

Tuhan, aku jatuh cinta. Ijinkan aku mencintainya. Sekali, untuk selamanya.


[DONGENG] TUHAN, AKU JATUH CINTA [DONGENG] TUHAN, AKU JATUH CINTA Reviewed by Wignya Wirasana on 1/03/2016 Rating: 5

16 comments:

  1. Cinta itu memang seperti listrik: sebuah kejadian fisis yang tak nampak oleh mata, mampu mengalirkan arus tatkala bertatap mata, mampu mendeyutkan tegangan tatkala berucap kata, dan mampu mengeluarkan daya tatkala bersatu rasa. :)

    Dongeng teknik yang bercitarasa sastra, sangat menarik, bung. ;)

    Salam kenal,
    http://penjajakata.com/

    ReplyDelete
  2. Diksinya keren :" sukses terus ya mas wignya

    ReplyDelete
  3. Beberapa diksinya keren, dan ceritanya bagus meski eksekusinya lumayan lambat. Tapi, tapi, saya seperti menangkap ada sesuatu yang tersirat dari tulisan ini. Apa kamu susah untuk jatuh cinta? Atau kesulitan mengungkapkan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah jatuh cinta karena mungkin belum ada yang mau

      Delete
    2. Jangan takut mengungkapkan perasaanmu pada orang yang kamu suka, ya!

      Delete
  4. selalu salut dg org2 yg cakep bikin diksi kayak gini
    lanjutkan dan sukses yak

    ReplyDelete
  5. isi artikelnya dalem banget dan sedikit bikin baver :(

    ReplyDelete
  6. yaampun artikelnya :( , suka sama ini artikel bikin baper" gimanaa gitu >< . sukses terus yaa.

    mampir kesini jg ya Karya sastra siapa tau bisa sharing" . makasih

    ReplyDelete

Powered by Blogger.