BERNYANYI, MENARI, DAN BERMIMPI DI LA LA LAND

21.1.17


Aku berhenti bernafas, kurasakan jantungku melompat keluar. Hatiku bergetar kencang, begitukah rasanya jatuh cinta?
Mataku terpaku saat baris terakhir nama-nama di credit title mulai menghilang. Aku terduduk di A1, meremas tanganku. Ini begitu melankolis untuk ukuran seorang laki-laki yang menonton di bioskop seorang diri. Kamu bisa saja mengalaminya seperti yang kurasakan. Debaran hati, mata yang tak henti terpana keindahan gerak tangan serta kaki yang berirama, telinga dirasuki suara-suara indah dari alunan piano, dan aroma popcorn yang masih setengah.
Seorang petugas menghampiri, seperti menyadarkan bahwa show telah usai. Pukul 23.00 lebih. Waktunya pulang. Di luar, langit telah sempurna menghitam, tak banyak bintang seperti yang ditampilkan di layar tadi. Bintang-bintang yang penuh ambisi dan menjadi metafora sederhana bahwa mimpi itu indah, namun sulit dijangkau.
Aku mengendarai motor, membelah jalanan ibukota yang tak pernah tidur. Seorang Pak Ogah masih bekerja mengarahkan mobil-mobil yang hendak putar balik. Mungkin dia tak semelankolis hatiku malam ini. Namun kuyakin, ia juga memiliki mimpi sepertiku. Bisa saja ia mengharapkan membeli motor Ninja dengan hasil keringatnya malam ini.
Jadi kupikir, semua orang pernah punya mimpi. Jika kamu adalah orang yang memilikinya, maka tak ada salahnya sepertiku.
Kemudian seorang teman berkata, saat selesai menemaniku menonton. Katanya, “Bagus kok, tapi cukup sekali. Mengapa kamu bisa menontonnya lima kali?”
# # # 
Setiap orang punya rekor sendiri-sendiri. Mungkin membaca novel paling banyak, lari dengan kaki satu paling cepat, menghafal paling banyak. Atau seberapa banyak kamu menonton satu film di bioskop
Rekor terakhirku menonton di bioskop adalah film KINGSMAN ‘THE SECRET SERVICE (2014)’. Aku menontonnya tiga kali di bioskop. Rekor sebelumnya dipegang oleh ‘The Conjuring’, baik film pertama atau kedua, masing-masing tiga kali juga. Di penghujung tahun 2017 ini rekor itu dipecahkan oleh LA LA LAND. Lima kali, mungkin akan jadi film paling banyak kutonton di bioskop tahun ini.
Balik lagi, karena ini tentang mimpi.  Aku mencintainya bukan karena romantisme yang ada di sepanjang film, tapi karena ini tentang mimpi.
DamienChazelle, sang Sutradara, adalah seorang pemimpi. Sebelumnya lewat film Whiplash (2014) dia mengajarkan kita tentang ‘ambisi’ seorang penggebuk drum. Di La La Land, dia memberitahu kita tentang seorang penggila Jazz, aktris, dan romantisme yang berbalut dengan hal yang kusebut berulang-ualng di atas ‘mimpi’.
Aku selalu suka film yang penuh kata tersirat tentang ‘ambisi’, film dengan twist, sinematografi yang kece, atau lagu-lagu yang memanjakan telinga. Semua itu membalut sempurna La La Land. 
La La Land.
Premisnya sungguh sangat sederhana : Seorang pecinta musik jazz dan aktris yang jatuh cinta lalu berambisi bersama untuk mewujudkan mimpi mereka, namun harus berhadapan dengan dua hal yang paling mematikan untuk para pengejar mimpi, yaitu apakah mengikuti ‘IDEALISME’ atau menuruti ‘SELERA KONSUMEN’.
Bagaimana akhirnya film ‘ambisius’ ini memikat hatiku hingga aku menonton lima kali?
Tidak, aku tidak akan bilang bahwa Ryan Gosling bisa sangat menarik untuk kaum hawa. Kharisma karakternya akan membiusmu, Para Wanita. Dia bermain piano, menari, menyanyi, dan menatapmu dengan tatapan elang yang akan membunuh hatimu. Aku juga tidak akan membahas bagaimana Gosling belajar memainkan piano selama tiga bulan khusus untuk film ini. Hasilnya? Dia tidak membutuhkan second hand saat proses shooting.
Aku juga tidak akan bilang bahwa Emma Stone sangatlah cantik. Dia tampak kurus dengan balutan gaun warna biru atau hijau, menari dengan keluwesan. Dia benar-benar totalitas. Bahkan dia masih saja enak dilihat ketika memakai sweater lusuh saat audisi terakhirnya. Hai Para Wanita, kamu akan iri dengan keelokannya di La La Land.
Aku bahkan tidak akan bilang bahwa aku mencintainya karena film ini sangat romantis. Tidak. Inti film ini sejujurnya bukan tentang cinta dua orang kekasih, tapi lebih dari itu.
Jadi, beginilah akhirnya aku jatuh cinta.
Pertama, sinematografinya sangat lincah dan indah. Kita akan menyaksikan banyak long shot yang menarik. Kemacetan tol Los Angeles yang seharusnya memuakkan dengan lengkingan klakson mobil, diubah menjadi salah satu scene paling memorable. Romantisme ‘bukit bintang’ semakin menggila saat Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) saling mengejek ‘Tidak, kamu bukan tipeku’, kemudian berlanjut dengan dance keren yang tak bosan untuk dilihat. Mandy Moore sang Koreografer (tentu saja bukan penyanyi yang itu) bertanggung jawab atas mataku yang terus terpana & terpaku melihat Mia dan Sebastian menari. Atau scene-scene Sebastian saat bermain piano yang disorot dengan lampu terang. Hanya dia saja. Itu sangat indah. Aku tak bisa menceritakannya lagi, dan banyak, jadi tonton saja!
Kedua, telingaku akan kembali sehat karena mendengar semua lagu arahan Justin Hurwitz, teman Chazelle saat sekolah di Harvard. Selain kerja sama yang kompak antara kameramen yang luwes, hal yang membuat film ini bagus karena Original Soundtrack-nya yang bisa membuatku tidur damai sepanjang malam. Aku tak mengerti musik jazz. Bahkan aku tak paham dengan nama-nama yang disebutkan oleh Sebastian. Namun, alunan musik dan liriknya telah membiusku. Aku masih bisa membayangkan saat Sebastian menari bersama seorang wanita tua di atas jembatan, lalu bersiul merdu. Atau saat Mia dan Sebastian bernyanyi dengan latar belakang warna hijau. Sangat emosional.
Selain nadanya yang lincah menari, liriknya syarat makna. Lirik-lirik yang penuh dengan obsesi, ambisi, mimpi, dan passion. Aku kemudian jatuh cinta dengan ‘City of Stars’, ‘Another Day of Sun’, ‘Someone in The Crowd’, A Lovely Night. Perhatikan liriknya. Namun, yang paling membuatku duduk terdiam lama adalah ‘Auditon’. Dinyanyikan secara apik oleh Emma Stone dengan latar hitam. Baiklah, aku tak bisa menceritakan lagi, dan banyak, jadi dengarkan saja!
Ketiga, karena film ini sangat me too. Bagaimana aku seperti bercermin di semua adegan, dialog, dan juga lirik-lirik lagu. Nasihat seorang atasan di kantor kepadaku adalah seperti ini ‘ketika kamu membuat sesuatu, bisa cerita, lagu, atau bahkan pertunjukkan, usahakan orang-orang yang menikmatinya akan bilang ‘Gila, itu aku banget’. Film ini sukses membuatku berdiri dan berteriak kencang ‘Kampret, ini aku banget’. Tentang aku yang sampai saat ini terpaku tentang mimpi-mimpiku. Tentang idealisme yang kupegang terhadap karya-karyaku.

Sebastian terobsesi dengan Jazz, Pure Jazz. Dia ingin membuat club-nya sendiri agar dia bisa memainkan jazz tanpa terikat oleh aturan apapun. Pertanyaannya, apakah orang-orang akan menikmatinya? Sebastian membutuhkan ‘uang’ untuk hidupnya, apartemennnya, kekasihnya, dan apakah ada orang tua yang menginginkan ‘anak gadisnya’ dinikahi oleh orang yang ‘tidak punya pendapatan tetap’.
Mia terobsesi menjadi seorang aktris yang diakui. Puluhan audisi ia ikuti. Puluhan kali ia ditolak. Namun dia tetap berusaha, dan terus berusaha. Bahkan dia sampai rela menyewa satu gedung untuk pertunjukan 'Monolog'-nya. Ingat, dia tidak dibayar, dia justru membayar. Bukannya begitu seharusnya mengejar mimpi? Sampai akhirnya dia sendiri menyerah dan bertanya-tanya ‘apakah aku memang terlahir untuk menjadi seorang aktris?’.
Keempat, film ini memuji INDONESIA lewat dialog pendek. Disebutkan : IN DO NE SIA. Dipuji karena negara ini indah dengan resortnya yang keren. Itu mungkin cuma pujian pendek, tapi aku sendiri bangga. Saat orang-orang di negara ini kisruh sana sini, fitnah sana sini, berita hoax sana sini, komen sana sini, share berita yang belum tentu benar sana sini, dan lain-lain, ada secuil kisah di La La Land yang membuat bangga jadi orang Indonesia. Tonton saja sendiri.

Jadi fim ini mengajarkanku tiga hal :
1.  Hiduplah dengan bermimpi. Banyak sekali metafora dan analogi di film ini yang menggambarkannya. Misalnya: mengapa Sebastian dan Mia harus menyanyi dan menari di planetarium? Karena mimpi dianolagikan dengan bintang-bintang di langit? Mengapa Damien harus membuat scene ‘sapu tangan’ terbang, kemudian mereka berdua ikutan terbang dan menari? Karena bintang-bintang itu letaknya jauh sekali, seperti mimpi.
2.   Bekerja keraslah untuk mimpimu, wujudkan, janganlah menyerah, namun harus tetap realistis dengan hidupmu sendiri. Apakah kamu sudah benar-benar berada di titik paling rendah saat berusaha? Apakah kamu sudah benar-benar mencurahkan semua usahamu? 
3.    Berkaryalah sesuatu yang sangat kamu sukai, buatlah yang ‘me too’ untuk ‘konsumen’-mu. Kamu tinggal memilih, apakah kamu ingin menuruti ego idealismemu atau mengikuti arus sungai penikmatmu? Tak ada yang salah. Dua-duanya memiliki konsekuensi.
Layaknya seseorang yang jatuh cinta, aku tak bisa melihat kecacatan apapun dari film ini. Apakah kamu pernah melihat kecacatan dari orang yang kamu cintai? Tidak, tentu saja tidak.
Aku menikmati gambarnya, tanpa harus mencari-cari letak buruknya.
Aku menikmati lagunya, tariannya. Semua.
Aku menontonnya begitu saja. Tanpa pikiran. Tanpa ingin mencari kelemahan. Seperti orang yang sedang jatuh cita. Buta oleh keburukan.
Rolling Stone Indonesia berkata, “Di sinilah La La Land menunjukkan masalahnya, taman ria yang menjanjikan pertunjukan besar bisa juga terasa tanpa jiwa. Di beberapa bagian film ini terasa seperti kumpulan formula yang sekadar menjalankan perintah. Konfliknya kering. Sebastian dan Mia terlihat terisolasi dari realita. Karakter mereka kadang terlalu sederhana. Orang-orang di sekeliling mereka hanyalah figuran yang tak berarti apa-apa. Sebastian dan saudara perempuannya, Mia dan teman-temannya (juga orang tuanya). Hubungan mereka kepada kenyataan yang terbatas ini menjatuhkan kedua karakter sebagai delusional.” ( sumber : rollingstone.co.id )
Aku tidak peduli dengan itu. Karena aku jatuh cinta.
Namun pesanku untuk kamu, terutama laki-laki, yang ingin menonton film ini. Ini film sangat romantis. Jika kamu tidak suka dengan hal romantisme dan melankolis, oke sebaiknya kamu jangan menonton. 30 menit pertama kamu akan muak dengan adegan romantis, nyanyian, dan hal-hal lain.
Tapi jika kamu adalah pelukis, penulis, seniman, penyanyi, aktor, fotografer, desainer, atau orang-orang yang penuh dengan MIMPI, NONTONLAH. TONTON. BAHKAN HINGGA LIMA KALI.
“La La Land adalah tentang passion. Passion untuk seni dan untuk cinta, dan semoga passion yang kami miliki saat membuat filmnya adalah sesuatu yang bisa penonton rasakan,” kata Demian (All Film, edisi 81 2016).
Seperti kata Mia saat audisi terakhirnya :
“Here's to the ones who dream. Foolish, as they may seem. Here's to the hearts that ache. Here's to the mess we make”
Seperti kata Nidji : “Mimpi adalah kunci”. Begitulah film ini dibuat dengan mimpi dan ambisi sutradaranya.  
Terakhir, aku ingin bilang : film ini cantik.
Semoga aku tidak berlebihan karena sudah menontonnya 5 kali. Bagaimana denganmu?


* * *

Update : LA LA LAND mendapatkan 14 nominasi di Oscars. See?

You Might Also Like

16 comments

  1. jadi penasaran nih, banyak yang bisa diambil hikmahnyaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segera nonton biar nggak nyesel nantinya :)

      Hapus
  2. Saya belum nonton, semangat meraih mimpi kak

    BalasHapus
  3. Nonton di bioskop nyampe 5 kali? 😱
    Duh kalau aku paling gak betah nonton di biokop. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, padahal nonton di bioskop punya sensasi sendiri, kan??

      Hapus
  4. Meskipun saya tidak terlalu memikirkan hikmah dari nonton tapi setelah dipikir-pikir ada juga benarnya hikmah yang disebutkan sampeyan. Terimakasih

    BalasHapus
  5. Asyik reviewnya... saya juga suka banget sama film ini. So classy... cuco lah dapet banyak award nih film. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. OST-nya bisa nempel terus di kepala...

      Hapus
  6. nonton 5 kali dan membuat review semanis ini. Gimana nonton 10, 20 kali. Untuk kelas cowok mereview dengan bahasa begini, ee cieee. dah ah :)
    ntar nonton ah kemrin temanku udah donwload, tau ah darimana. awalnya gak peduli juga, apasih lalaland, rame banget, sampe akhirnya baca review ini. AKU HARUS NONTON heheh

    agnesiarezita(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Update aja sih, aku akhirnya nonton yang keenam...

      Hapus
  7. i love this movie a lot and I like your writing style also ~

    BalasHapus
  8. Baiklah. Semakin semangat untukku nonton film ini. Makasih resensinya kece bangeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya jangan sampai ketinggalan hehe...

      Hapus