STORYTELLING MARKETING DI DUNIA DIGITAL


MARI BELAJAR BERCERITA
Sebagai seorang penulis, aku berkewajiban menyampaikan cerita di otak menjadi tulisan yang enak dibaca. Setelah mengikuti beberapa kelas kepenulisan, ada satu intisari yang selalu kupegang hingga kini yaitu:: Seorang penulis harusnya seorang pencerita yang baik (good storyteller). Ya, nggak?
Aku percaya semua teknik pemasaran yang baik harus didasari produk yang baik pula. Teknik pemasaran hanya cara untuk menyampaikan produk kepada konsumen. Begitu juga sebagai seorang penulis. Novel/Cerpen/Cerbung adalah produk dari penulis yang akan disampaikan kepada pembaca. Dasar produknya harus kuat, dalam artian idenya bagus, berbeda dari yang lain, dan memiliki struktur cerita dan penggambaran karakter yang kuat. Dengan beberapa aspek ini, sebuah cerita akan mudah ‘memasarkan’ dirinya sendiri, tentu juga didukung teknik pemasaran lainnya.
Begitu juga sebuah brand dalam mempromosikan produknya, bisa mengikuti teknik bercerita dari sebuah novel. Sebuah novel yang baik bisa menggali emosi dari setiap orang yang akan menimbulkan word of mouth, sehingga produk itu akan memasarkan dirinya sendiri.
Dalam mengenalkan sebuah produk, brand harus menjadi seorang storyteller. Kekuatan storytelling sangat besar. Menurut blog.visme.co, storytelling adalah marketing strategi yang memberikan benefit besar. Orang-orang akan mengingat cerita, terutama yang memiliki sisi emosional.
Contoh dari penerapan storytelling itu, bisa terlihat dari cara Jaguar meluncurkan sebuah produk dengan David Beckam sebagai ambasadornya.
Pada tahun 2014 Jaguar meluncurkan campaign high-suspense dengan David Beckham sebagai brand ambassador di Cina. Jaguar meminta konsumen untuk menebak identitas Mr. Jaguar (David Baeckham) sebelum mengenalkan ke publik. Jaguar merilis street interview dan video untuk membangun ketegangan. Mereka juga memberi petunjuk selama campaign untuk mendapatkan daya tarik konsumen. Hal tersebut sangat sukses dan menarik 50.000 repost. Tambahan 30.000 reposts datang setelah David Beckham diperkenalkan sebagai brand ambassador [dikutib dari digitalmarketing.id ].
Lantas, bagaimana cara membangun Storytelling Marketing di dunia digital seperti sekarang?

STORYTELLING DI DUNIA DIGITAL [PENGALAMAN & PENGAMATAN]
Tidak bisa kita elakkan lagi bahwa saat ini kita sudah memasuki era digital. Semua brand yang tidak mau mengikuti perkembangan ini, tentu saja akan ‘mati’. Beberapa surat kabar/majalah mulai bertransformasi menjadi digital, bahkan banyak juga yang mulai menutup majalah cetaknya.
Dengan adanya pertumbuhan internet yang semakin meningkat, brand bisa menerapkan teknik Storytelling di dunia digital. Dalam teknik ini, kita harus memanfaatkan semua hal di dunia digital untuk menyampaikan produk kita.
Aku akan mengambil contoh saat aku mengenalkan Serial Mata Rantai di blog ini kepada pembaca (serialnya bisa dibaca di sini). Untuk mengenalkan serial ini, aku memiliki beberapa strategi ‘bercerita’ yang memanfaatkan social media, salah satunya adalah membuat sebuah kuis ‘Bagaimana Juna Mata Versi Kamu’. Aku memanfaatkan Facebook & Twitter untuk kuis ini. Dalam serial itu, aku memberikan gambaran bahwa Juna Mata adalah seorang yang sangat kharismatik, pintar, tetapi playboy. Aku memberikan kebebasan pembaca untuk menggambarkan Juna Mata versi mereka. Teknik ini berhasil menggiring pembaca untuk mengikuti Serial ini setiap minggu. Bahkan Serial ini sempat menjadi Top Thread di Forum Kaskus 'Story From The Heart'.   
Contoh lain adalah ketika aku memasarkan sebuah produk tas Esgotado di Facebook. Aku memang sempat menjadi suplier Esgotado (Brand Tas dari Bandung) melalui toko online BROMEN FASHION (Fanpage : @bromen.fashion, IG :@bromen.fashion). Aku juga menjual beberapa fashion untuk pria. Selain menjual produk, aku juga membuat ‘cerita’ untuk mengenalkan produk-produk yang kutawarkan. Aku selalu membagikan tips-tips dan informasi seputar fashion untuk pria.
Setelah mempromosikan beberapa tas, ternyata tas olahraga menjadi tas yang paling laku. Saat itu, aku sedang giat-giatnya olahraga dan fitness juga. Akhirnya Aku memiliki ide untuk memasarkan tas ini menjadi sebuah cerita. Aku membuat 10 gambar teknik olahraga tanpa alat. Aku menarik pembaca untuk terus mengikuti gambar itu hingga gambar yang terakhir. Diakhir gambar, aku mencantumkan tas olahraga yang dijual. Hasilnya, aku mendapatkan banyak pesanan tas olahraga itu.
Menurut DigitalMarketer.id, membangun campaign sosial media dengan storytelling membantu kita terlihat berbeda dengan kompetitor yang lain, dan dapat merebut perhatian konsumen.
Berikut dua brand yang memiliki Storytelling Marketing di dunia digital yang baik.
Pertama, Bro.do
Brodo adalah merek sepatu lokal yang memanfaatkan social media untuk pemasarannya, didirikan pada tahun 2010 dan terus berkembang hingga sekarang. Waktu awal merintis Brodo, Yukka sang founder memasarkan Brodo melalui facebook, kaskus, twitter. Dia upload  foto sepatu terus di tag-tagin ke teman. Tentunya teknik ini sudah tidak bisa lagi diterapkan sekarang yah.
Mengapa Brodo bisa sukses sampai sekarang? Karena Yukka ‘menceritakan’ Brodo sebagai sepatu para Gentlemen dengan baik. Branding inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk membuat cerita-cerita di social media (Fanpage, Instagram, dan Twitter), mulai dari teknik foto, kuis, bahkan sapaan kepada konsumen. Kemudian muncul beberapa istilah seperti : #Broduation, #BrolahragaQuiz, dll.
Selain itu, Brodo juga memberikan value yang lebih kepada konsumen melalui beberapa tips untuk merawat sepatu dan memilih sepatu yang tepat. Ada satu campaign yang masih aku ingat dari Brodo yaitu, Brodo memberikan sebuah foto traveling naik gunung. Kemudian di bawahnya ada 3 pilihan sepatu yang pas untuk naik gunung. Begitu jenius. Cowok-cowok yang hobi naik gunung / traveling pun akan tertarik dengan campaign ini.

Kedua, Penulis Tere Liye & Ika Natasha
Tere Liye adalah penulis yang memanfaatkan social media untuk menceritakan produk-produk mereka (dalam hal ini novel). Tere Liye aktif di Fanpage (saat ini sudah lebih dari 2 juta pengikut). Dia aktif memberikan status-status kepada pembacanya yang ‘aku banget’.
Cara ini membuat Tere Liye memiliki simpatisan yang rela untuk merogoh dana untuk membeli karya yang dia keluarkan.
Ika Natasha pun melakukan hal yang sama. Namun dia lebih memanfaatkan Twitter dan Instagram untuk menceritakan produk-produknya. Secara konsisten Ika menceritakan novel-novelnya di twitter, bahkan dia ‘membuat’ akun khusus untuk para karakternya. Tak jarang, Ika melibatkan pembacanya untuk membuat ‘alur’ ceritanya seperti yang ia lakukan pada Novel THE ARCHITECTURE OF LOVE’. Dia bekerjasama dengan Twitter Indonesia untuk membuat #Pollstory.

JADI, BAGAIMANA CARANYA?
Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana cara untuk membuat  storytelling yang baik? Cara ini aku kumpulkan dari pengalaman pribadi, membaca jurnal, dan memperhatikan bagaimana brand-brand mengkomunikasikan produknya dengan sukses.

Hal pertama yang harus kita lakukan sebelum membuat storytelling marketing adalah menentukan tujuan. Apa yang ingin kita dapatkan? Itu adalah hal penting. Setelah tujuan kita tentukan, kita harus mendefinisikan konsumen kita secara detail.
Menurut Fikry Fatullah dan Motiva Tweet di buku Bisnis Online Milyaran, kita harus mendeskripsikan konsumen kita sedetail mungkin. Misalnya: Seorang laki-laki berumur 25-30 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, setiap hari naik motor atau mobil, menggunakan smartphone kebanyakan bermerek X atau Y, yang memiliki hobi kuliner dan futsal, dsb.
Semakin detail, semakin kita bisa menggali lebih jauh teknik storytelling kita. Kita juga bisa menggunakan deskripsi ini untuk membangun ‘cerita’ produk kita. Misalnya, konsumen kita lebih sering membuka Instagram daripada Twitter, ya berarti kita tidak perlu menggunakan twitter.
Saat menulis cerita-ceritaku, aku pun kini mulai mendiskripsikan secara detail, kira-kira ceritaku akan dibaca oleh siapa. Hal ini membuatku semakin fokus. Aku harus melakukan teknik marketing seperti apa untuk mengkomunikasikan cerita-ceritaku. Begitu juga ketika aku menjual tas olahraga, aku juga menyasar orang-orang yang gemar olahraga, dan ‘tidak mempedulikan’ orang di luar konsumenku.

Tak bisa dipungkiri bahwa pertumbuhan social media memberi pengaruh terhadap strategi marketing di tiap-tiap perusahaan. Aku kebetulan kerja sebagai Marketing Communication di salah satu perusahaan otomotif nasional. Brand perusahaanku ini, beberapa tahun terakhir mulai fokus membangun branding secara digital dengan memanfaatkan social media (mulai dari twitter, fanpgage, youtube, dan instagram).
Era digital adalah tuntutan. Mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangannya. Namun yang terpenting, kita harus paham social media mana yang akan berpengaruh baik terhadap produk. Misalnya saja Tere Liye. Dia hanya fokus pada Fanpage. Tentu saja, dia pasti memiliki pertimbangan tersendiri mengapa ia memilih ini.
Aku memilih Fanpage untuk membuat campaign berkesinambungan saat menjual tas olahraga dengan alasan karena aku membutuhkan social media yang bisa mengupload foto banyak sekaligus yang bisa dibikin album. Fanpage memberikan kebutuhanku itu. Setiap social media memiliki karakteristik sendiri kok. Jadi pintar-pintar saja memperhatikan konsumen kita, kira-kira lebih cenderung ‘aktif’ di social media yang mana.

Seperti yang aku contohkan di awal tulisan, Jaguar menggunakan teknik ini untuk membuat hubungan emosional dengan konsumennya. Aku pun menggunakan teknik ini ketika mempromosikan Serial Mata Rantai seperti yang aku jelaskan di atas.  
Sebuah penelitian berjudul “The Power of Storytelling from Facebook IQ” mengungkapkan bahwa storytelling di media sosial berdampak langsung pada toko online kita. Digitalmarketing.id memberikan sebuah contoh. Refinery29 mengetes iklan Facebook yang diurutkan seperti cerita. Secara keseluruhan, percobaan tersebut menghasilkan konversi 56% dan kenaikan 87% dalam view. Refinery29 juga melihat peningkatan 7% di dalam pembelian melalui toko dan peningkatan 10% dalam pembelian online.
Metode ini pun aku adaptasi ketika menjual tas olahraga di Fanpage. Aku mengurutkan gambar-gambar menjadi sebuah cerita. Hasilnya, memuaskan (campaign bisa dicek di sini).

Dalam sebuah kesempatan workshop kepenulisan bersama Raditya Dika, dia menjelaskan bahwa ketika membuat sebuah cerita buatlah cerita yang ‘gue banget’. Hal ini diamini juga oleh atasanku di kantor. Ketika membuat sebuah campaign/iklan produk, selain menampilkan identitas dari produk yang kita komunikasikan, buatlah yang ‘aku banget’.
Brodo memberi contoh. Selain produknya yang khusus untuk para cowok, semua campaign Brodo selalu ‘gentlemen banget’. Sapaan untuk konsumen pun dibikin seperti sapaan kepada teman ‘Bro’.

Saat ini, Fanpage, Twitter, Intagram, Youtube, dan Google (Adwords atau Adsense) memberikan keleluasaan kita sebagai pecipta brand untuk memasang iklan. Masing-masing penyedia iklan itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sekali lagi aku ingin bilang, apa tujuan kita saat menggunakannya. Mana yang cocok untuk konsumen kita? Jika fanpage sudah cukup, ya iklan di fanpage. Begitu seterusnya. Fokus itulah kuncinya.

Menurut blog.visme.co, gambar dan video memiliki impact yang besar dalam proses menyampaikan pesan. Jadi, kadang-kadang kita harus menyisipkan gambar/video dalam campaign yang kita buat. Gambar visual memiliki kecepatan 60 kali lebih cepat untuk diproses oleh otak kita dibandingkan dengan kata-kata.


Ini yang paling sulit.
Ketika produk yang kita buat sudah bagus, teknik komunikasi bercerita kita sudah keren, hal yang tak kalah penting lainnya adalah konsistensi. Jangan biarkan konsumen kita kehilangan alur cerita produk kita, karena kita tidak memiliki ‘jadwal khusus’ untuk mengkomuninasikannya.

LANTAS, APA KENDALANYA?
Membaca teori dan pengalaman di atas, kok rasa-rasanya gampang ya. Tapi praktiknya, kita harus memiliki kesabaran, ketekunan, dan konsistensi.
Aku ingin sedikit bercerita tentang diriku sendiri. Aku memang belum bisa konsisten dalam ‘membangun cerita’ produk-produkku (terutama saat jualan tas). Ini yang belum bisa aku handle. Aku masih mengelola semua hal sendiri (baik social media dan blog disamping aku bekerja kantoran dan menulis novel rutin). Inilah kendala utamanya, konsistensi. Padahal seperti yang sudah aku sampaikan tadi, jangan biarkan konsumen kita kehilangan alur cerita produk kita, karena kita tidak memiliki ‘jadwal khusus’ untuk mengkomuninasikannya.
Selain itu, aku juga masih harus meraba-raba sendiri setiap membuat campaign. Misalnya nih, waktu memasang iklan di fanpage untuk produk tas olahraga. Aku harus riset sendiri untuk profil customer (meskipun facebook sangat memudahkan kita untuk membuatnya). Aku harus membaca sendiri keefektifitasan dari iklan yang kubuat. Aku harus memonitor sendiri.
Tetapi, hal ini tidak akan terjadi jika kita memiliki agency yang mengurus komunikasi produk kita. Seperti yang dilakukan perusahaan tempatku bekerja. Kami menggunakan sebuah agency digital marketing. Enaknya adalah setiap dua minggu sekali, kami mendapatkan report keefektivitasan dari setiap campaign yang dipasang. Kita bisa mengeset kebutuhan kita yang disesuaikan dengan budget.
Banyak sekali digital agency yang bisa kita pilih, misalnya ABAH Digital Marketing Specialist yang memberikan kemudahan untuk pemasangan iklan blog, jasa social media, jasa penulis artikel, bahkan offline marketing campaign. Dengan adanya digital agency, kita nggak perlu report untuk membuat strategi pemasangan iklan, memikirkan SEO, dan memonitoring. Para agency ini tentu juga akan bertindak sebagai konsultan yang memberikan strategi-strageti yang efektif.
Begitulah ulasanku tentang Storytelling Marketing di dunia digital. Stragei ini bisa dimanfaatkan untuk produk-produk yang kita ciptakan, termasuk saat kita menerbitkan novel sekalipun. Karena menurut Raditya Dika seorang penulis yang baik adalah seorang pemasar yang baik (dikutib dari ebook Rahasia Menulis Kreatif karya Raditya Dika). Hal ini juga diamini oleh Ika Natasha dan penulis lainnya.

Semoga bermanfaat yah. 
STORYTELLING MARKETING DI DUNIA DIGITAL STORYTELLING MARKETING DI DUNIA DIGITAL Reviewed by Wignya Wirasana on 2/13/2017 Rating: 5

10 comments:

  1. Terima kasih mba tulisannya membuat saya tertantang untuk membuat story telling yang sesuai dengan segmentasi produk saya bekerja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kekuatan cerita memang luar biasa.

      Tapi btw, saya pria lho hehe

      Delete
  2. It's a great information..
    Saya sebenarnya ngeblog biar bisa belajar bercerita. Yah emang tulisan saya masih acakadul, tapi saya menikmati proses ini. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo terus menulis (dan ngeblog). Ngeblog adalah salah satu cara untuk mengeluarkan semua ide di pikiran tanpa ada batasan dan hambatan hehe...

      Semangat.

      Delete
  3. Kalau saya paling lewat socmed seperti facebook dengan fanspagenya, kemudian lewat artikel di blog juga saya bisa karena itu paling mudah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari kita manfaatkan fanpage dan blog untuk membangun cerita :)

      Delete
  4. hal ini juga dibicarakan dosen saya minggu lalu tentang bagaimana story telling sangat bermanfaat dalam marketing/ advertisement

    ReplyDelete
  5. so inspiring,,, Brodo salah satu yang membuat saya menjatuhkan pilihan pada sepatu sepatu koleksinya berdasarkan cerita dari orang yang sudah menggunakannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, Brodo memang keren untuk contoh. Apalagi bagi pelaku industri online...

      Delete

Powered by Blogger.