AKU TAHU KAMU HANTU


“Aku Noe,” katanya kepadaku, giginya yang putih kubayangkan terkena cahaya lampu portabel, di tengah-tengah kegelapan. Aku sendiri yang menciptakan nama itu. Aku yang berbicara sendiri, memandang kosong ke samping kanan. Tak ada siapa pun, hanya ayunan yang bergerak-gerak.

Aku bercerita kepadanya. Kuceritakan tentang hari-hari di sekolah. Tentang Vera dan teman-teman setianya. Tentang rumah yang selalu sepi, tentang Mama yang pulang larut malam.

Ayunan di sampingku terus bergerak, tak ada siapa pun di atasnya.

Hari pertama aku bercerita padanya, setelah pertemuan kami, aku baru pulang setelah pukul sembilan. Aku puas berkelakar dengan Noe. Dia ternyata banyak menyimpan cerita lucu. Dia memiliki banyak file humor di otaknya, membuatku tertawa puas. Angin semilir membelai rambutnya, lampu portabel membuat mukanya tampak putih bersih. Hidungnya mancung yang mengerucut, mengecil dan ramping.

Dia memakai baju putih panjang.

Jam sembilan aku pamit pada Noe. Ayunan masih berayun-ayun pelan. Noe masih di sana. Kakinya melayang di udara, sementara dia membelakangiku. Aku berjalan menjauh, tersenyum kecil. Lalu aku berbalik, memastikan dia masih ada. Tapi dia pergi. Entahlah, aku hanya membayangkan dia telah pergi.  
# # #

AKU.
Pagi hari, pukul enam. Aku terhuyung menuruni tangga, kepalaku pusing karena aku baru tidur pukul empat dan bangun tiga puluh menit kemudian. Aku menemukan Ibu sedang duduk di ruang makan. Beliau memandangku sekilas, lalu kembali menikmati potongan roti sembari sesekali melihat ke arah TV yang menampilkan berita kerusuhan di Balai Kota. Aku duduk di depannya tanpa bicara. Mengambil roti, mengolesinya dengan selai kacang. Tidak rata. Aku menelannya dalam tiga langkah, lalu kuteguk susu yang telah dibuatkan oleh Mbok Minah.

Kudengar Ibu menarik sesuatu dari tasnya, lalu menyorongkannya ke depan, bunyinya keras—gesekan antara kertas dan kayu mahoni. Beliau tak berkata apa-apa, sampai aku melihat tulisan yang terlihat jelas di atas kertas itu. SURAT PERINGATAN DARI SEKOLAH.

“Ini surat kedua bulan ini. Bu Ratna bilang di telepon kalau kamu memecahkan kaca toilet, lalu membiarkan pecahannya berhamburan di lantai. Kamu mengunci diri di toilet dan Bu Ratna menemukanmu.” Ibu memandangku. Garis wajahnya yang tegas, tampak menekan, matanya seperti mata kucing di malam hari. Aku meneguk susu terakhir. “Ibu hanya minta kamu...”

“Aku minta maaf, tak akan kuulangi,” ucapku pelan, hampir tak terdengar.

Lalu kudengar Ibu menarik kursi, memakai blezzernya, lalu mengalunkan tas di bahu.  “Ayahmu harus bertanggung jawab atas kelakuanmu, Alena.” Ibu keluar dari ruang makan menuju garasi. Aku menghela nafas, lalu menyusulnya.

Sepanjang perjalanan, kami membisu. Aku memandang ke luar melalui kaca samping. Jalanan di komplek mulai ramai. Di belokan terakhir sebelum keluar ke jalan raya yang lebih besar, aku memandang apartemen mangkrak yang semalam kudatangi. Apakah kamu masih di sana, Noe?

Gerbang sekolah sudah terlihat setelah lima belas menit perjalanan. Aku turun setelah mengucapkan salam pada ibu. Ibu bilang tidak bisa menjemput, aku mengangguk. Itu sudah biasa, kan?

Beberapa jam ke depan aku harus menahan diri. Tak akan kuulangi, aku tertawa kecil. Kamu memecahkan cermin. Aku kembali tertawa. Seharusnya memang kupecahkan cerminnya dengan tanganku, aku lebih baik jadi tersangka dari pada dituduh, lalu pecahannya kutancapkan pada garis wajah mereka sampai terluka.

Andai saja aku berani melakukannya.
# # #

Malam hari. Aku keluar begitu saja ke teras depan. Duduk di teras, kemudian aku bosan. Tanpa sepengetahuan siapa pun, aku melangkah ke luar pagar. Kubawa lampu portabel sebagai penerang. Berjalan jauh, tanpa alas. Ke gedung di ujung komplek, seperti malam-malam sebelumnya. Rutinistas yang kujalani beberapa hari ini.

Apartemen itu sepi, tentu saja. Ah, Ibu kota sekarang sudah penuh apartemen. Apartemen itu tidak jadi, kabarnya ada sengketa tanah yang membuatnya terbengkelai seperti sekarang. Rumput-rumput ilalang mulai memanjang, memenuhi halamannya yang berpagar tinggi. Aku berdiri di dalam pagar. Menatap lama ke barisan semen yang menjulang ke atas, ditutup lumut-lumut.

Tak ada siapa-siapa. Aku mulai mendekat, menapaki tangga yang tak sempurna dibuat. Satu-satu anak tangga kulewati hingga aku mencapai puncak. Jalanan ibu kota terlihat seperti bertaburan bintang. Cahaya yang muncul dari lampu-lampu mobil yang parkir rapi di jalanan.
Kulangkahkan kaki hati-hati, menyusuri lantai semen yang kasar. Di atas apartemen, ada dua ayunan dengan besi yang sudah karatan. Siapa yang menaruhnya di sana?

Aku duduk berselonjor di ayunan menikmati langit Jakarta yang menghitam. Ayunan itu ada dua. Aku berayun-ayun pelan.

Saat hari pertama ke sini kemarin, aku bercerita sendiri, tak berharap ada yang mendengar. Aku seolah-olah bercerita pada sekumpulan orang yang duduk di depanku, seperti seorang guru di depan murid taman kanak-kanaknya. Ayunan berayun pelan, kakiku mengambang di udara, lurus ke depan. Aku menghela nafas, kulanjutkan dengan isak tangis lirih. Tak ada yang mendengar, aku tak peduli.

Aku kembali menangis. Namun, ayunan di atas gedung apartemen itu seolah menghipnotisku. Aku merasa damai. Dadanya lega setelah aku bercerita tanpa henti, meski tak ada yang mendengarkan. Jadi, aku pun mulai datang malam-malam berikutnya ke sini.

Aku mengulang-ulang ceritaku setiap malam. Seolah ada seseorang yang mendengarkanku. Kemudian di malam yang ketiga puluh satu aku bercerita seorang diri, ayunan di sampingku bergerak pelan.  Tak ada siapa pun, hanya ada aku yang bercerita pada diriku sendiri. Ayunan itu bergerak-gerak, suara besi yang karatan menghujat malam Jakarta yang ramai.

Malam berikutnya, aku duduk kembali di ayunan di atas apartemen. Kubawa lampu kecil portable sebagai penerang. Aku mulai bercerita. Namun aku bosan bercerita sendiri. Jadi aku membayangkan ada seorang lelaki di sampingku. Dia berkulit putih, bermata hitam pekat, alisnya lebat. Rambutnya berkali-kali di tiup angin, lalu kembali lagi rapi seperti semula. Aku melihat jari tangannya yang panjang dan putih, menjabat tanganku.

Aku semakin sering mengobrol bersama Noe. Awalnya aku hanya bisa membayangkan ada dia di dekatku. Dia tertawa, dia bercerita, dia mendengarkan. Astaga, dia menyenangkan. Menghibur hatiku yang tertahan oleh rasa sakit. Kemudian perlahan, aku benar-benar bisa melihatnya. Dia duduk di sebelahku, di atas ayunan yang besinya telah berkarat. Aku mencoba menyentuhnya, tapi tidak berhasil.

“Berceritalah, aku akan mendengarkan. Kamu tak perlu menyentuhku. Aku tetap di sini bersamamu.”

Aku menelan ludah, tapi kemudian dia tersenyum. Jadi aku pun tersenyum. Kami mulai bercerita lagi. Terus bercerita. Aku menikmati saat-saat bersama dia. Malam ke enam puluh dua, aku kembali datang. Duduk seperti biasa, kemudian dia mendekatiku. Menyentuh tanganku, kurasakan tangan itu lembut dan dingin. Dia benar-benar bisa menyentuhku. Bayangan yang biasanya samar-samar, kini aku bisa melihatnya sangat nyata.

“Noe...” panggilku lirih.

Dia menatapku, dalam. “Kamu cantik malam ini.” Tangannya menyentuh rambutku. “Jangan menangis, aku tak ingin kamu menangis hanya karena ulah teman-temanmu itu.”
# # #

Suara sorak sorak di sekitarku seperti gema lebah yang keluar dari sarang, menyerbuku yang terjungkal ke belakang, lalu mereka mengerubungiku. Tangan-tangan menudingku, ada kaki yang menendang, Tawa para gadis yang membuat telingaku meledak. Aku menutup telinga, melindungi kepalaku dari dorongan. Lalu aku mundur, terpentok dinding, lalu aku menarik kakiku paksa. Tapi kata-kata jalang, keparat, kamu setan, anak haram yang ditinggal ayahnya tak henti merasuki gendang telingaku.

Vera mengangkat tangannya, menunjuk seorang anak—yang kukenal sebagai teman sekelasku—memerintahnya untuk menarik bajuku. Anak itu menarik bajuku, kancing bajuku bagian atas lepas, aku menunduk. Vera mendekat, mendekatkan tubuhnya kepadaku, menekanku ke dinding. “Ini hanya peringatan yang kesekian kali untuk anak kelas sebelas yang kecentilan sepertimu.” Vera mengangkat tangannya, aku menutup mataku.

Tapi tak terjadi apa-apa. Lalu aku perlahan membuka mataku. Cahaya menyusup perlahan. Orang-orang tertawa di depanku, lalu Vera melempar seplastik es teh yang masih utuh ke badanku.
# # #

Aku menaiki tangga perlahan. Tak terdengar suara apa-apa. Lampu portable yang kubawa hanya menerangi langkahku dan satu meter pandangan ke depan. Aku berhenti di anak tangga terakhir saat kudengar ada suara, seperti kardus yang ditendang-tendang. Siapa itu? Suaraku menggema. Suara itu timbul lagi. Aku bertanya lagi lebih keras. Kudengar kucing mengeong, keluar dari kardus bekas basah di ujung ruangan. Aku menghela nafas lega. Aku tak mengerti, mengapa aku baru merasa bahwa suasana di tempat ini begitu sunyi, setelah hampir dua bulan setiap malam aku datang.

Apakah mungkin karena kemarin-kemarin, aku tak mempedulikan keadaan sekitar, hanya peduli ingin bertemu dengan Noe. Hanya ingin segera menemuinya, bercerita, karena hanya dia satu-satunya orang yang mau mendengarkan ceritaku. Ya, mungkin saja itu benar.

Noe dan aku seperti dua orang yang sudah lama kenal ketika bersama. Aku bisa bertawa lepas, tanpa takut dia akan memukulku, menendangku, menjambak rambutku seperti yang selalu aku terima di sekolah. Dia akan diam mendengarkan semua cerita-ceritaku, menasihatiku, layaknya seorang sahabat yang selalu aku dambakan, seperti seorang ibu yang mau menerima curhatan dari puteri semata wayangnya.

Kami tumbuh bersama, duduk berdua di atas ayunan berkarat, di puncak apartemen tak berpenghuni. Memandangi langit-langit tanpa bintang.

Malam ini, aku kembali, menyusuri tangga yang setiap malam aku tapaki. Udara dingin menyusup sweater tebal yang kukenakan. Aku berhenti sejenak, memandang ke belakang, ke lorong panjang anak tangga yang tak bercahaya. Kutarik nafas perlahan. Bagaimana bisa aku melewati lorong ini setiap malam, tak pernah merasakan ketakutan sedikit pun. Tapi mengapa hari ini, ada sedikit ketakutan yang terselip di pikiranku.  

Noe duduk di sana. Di ayunannya. Begitulah sekiranya yang terbayangkan olehku. Dia menoleh, seolah menyadari kehadiranku. Aku melangkah maju. Mendadak wangi lavender memenuhi udara, mengantarkanku pada Noe. Noe memakai pakaian putih panjang, celana warna khaki, rambut klimis, dan dia membawa seikat mawar merah. Menyerahkannya kepadaku. Dan lampu-lampu warna kuning keemasan menyala. Mengelilingi kami. Musik mengalun perlahan, membuat tangannya mengnyentuh wajahku. Dia memandangku, aku memandangnya. Kami menari bersama.

Aku tahu, aku tahu alasanku mengapa aku tak pernah merasa takut di tempat ini. Karena aku jatuh cinta. Pada Noe. Malam ini, aku tertawa lepas. Melepas kepenatan yang selama ini membebaniku.
# # #

Namanya Kak Mahesa. Siang ini, mendadak dia menghampiriku yang sedang duduk di kantin seorang diri. Suara cewek-cewek bergosip ada di seberang kami, kadang kulihat mereka melirikku. Aku terpaku melihat kehadiran Kak Mahesa, di depanku. Dia membawa bakso dan es teh.

“Tidak keberatan, kan, jika kutemani? Atau kamu malu duduk denganku?” tanyanya. Aku memandangnya ragu, lalu melirik ke arah cewek-cewek yang kini memandangku. Kak Mahesa menoleh, lalu kembali memandangku. “Tidak perlu memikirkan mereka.”

Kak Mahesa diam cukup lama, menikmati baksonya. Suasana kantin sudah lengang, hanya tinggal beberapa anak kelas sepuluh yang akan Les Bahasa Inggris selepas sekolah nanti.

“Kamu belum balik?” tanya Kak Mahesa kemudian. Aku menggeleng, karena memang itu jawaban yang sesungguhnya. Buat apa balik ke rumah secepat mungkin. Rumah sebesar itu, tak pernah berpenghuni, kecuali Mbok Minah dan Pak Nto. Aku bosan berdiam di kamar, dan Noe tak pernah ada sebelum malam datang. “Aku harus memberanikan diri untuk berbicara denganmu seperti sekarang. Sebelumnya, aku takut,” kata Kak Mahesa sambil tersenyum kecil. “Tapi kalau kamu kurang nyaman, aku bisa pergi.”

Entah mengapa, aku hanya menggeleng lemah. Kak Mahesa tersenyum, lalu dia bercerita bahwa dia sedang tak ingin balik ke rumah cepat. Di sekolah dia memilih ikut kegiatan fotografi karena dia memang menyukainya.

Dia kemudian diam lagi. Aku pun begitu. Aku tak pernah mengenal lebih dekat Kak Mahesa sebelumnya. Yang kutahu, dia Kakak Kelasku, bukan sepopuler dan sekeeren Kak Andre pacar Vera, atau Mahendra ketua OSIS yang sekelas denganku yang membuat semua cewek ingin berpacaran dengannya.

“Aku mau ke toko buku membeli buku fotografi,” ucap Kak Mahaesa setelah keheningan cukup lama. “Tidak, aku tidak bermaksud untuk mengajakmu. Tapi....” Dia diam, memandangku,”Ini hanya tawaran kecil.” Dia memandang mangkok baksonya yang kosong, lalu kembali memandangku. “Jika kamu tidak keberatan dan tidak ada acara.”

Aku tersenyum kecil yang membuat bahuku sedikit naik. “Mukamu merah,” kataku. Dan Kak Mahesa terlihat terkejut, lalu buru-buru melihat ponselnya.
# # #

Malam. Ibu belum datang juga. Rumah masih seperti biasa sepi. Hampir pukul delapan. Aku pergi ke kamar, kutaruh novel misteri yang kubeli di toko buku, lalu aku membersihkan badan. Ketika sudah selesai, hampir pukul sembilan. Aku mengambil sweater-ku dan berniat untuk pergi menemui Noe, rutinitas yang sering aku lakukan. Mungkin dia sudah menunggu, tapi di pikiranku, Noe sedang tidak datang ke apartemen. Jadi aku kembali duduk, memandang ponselku, tidak ada pesan yang masuk. Noe tentu tidak mengabariku karena dia tidak memiliki ponsel. Aku membuka laptopku, mengunjungi situs jejaring pertemanan Facebook, berselancar sebentar, kemudian ada notifikasi yang masuk.

Friend Request : Mahesa Kaisar. 0 mutual friends. Ya, tentu saja, karena aku memang membatasi berteman dengan orang-orang di sekolah. Atau memang karena mereka juga tidak menginginkannya. Ragu aku mengeklik tombol confirm. Setelah dia berhasil menjadi temanku, aku membuka profilnya. Dindingnya dipenuhi oleh foto-foto hasil jepretannya. Tidak ada foto dirinya, kecuali profile picture-nya, itu pun satu.

“Belum tidur?” dia menyapa di kolom pesan.

“Baru selesai bersih-bersih diri,” balasku.

“Dinding facebook kamu sepi ya, seperti orangnya?”

“Lebih baik sepi yang terlihat, daripada pura-pura ramai padahal kesepian,” balasku lagi.

Agree.” Dia hanya membalas itu. Lama dia tak menulis apa-apa, aku juga tak berniat membalas apa-apa. “Aku kembali, dari toilet.”

Aku tersenyum kecil. “Yeah.”

“Tidak banyak foto di facebookmu?”

“Kamu juga, kan?”

“Aku jelek, jadi lebih baik tidak kupasang.”

“Aku juga.”

Heh, kata siapa? Bukan aku yang mengatakannya. Kamu berbeda.”

“Iya, seperti itu.”

“Jangan tersinggung. Kamu berbeda, karena kamu spesial.”

“Kamu banyak bicara ya kalo di chat, sepertinya kalau bertemu tidak.”

“Kamu juga.”

Kami pun mengobrol hingga pukul tiga pagi.
# # #

“Sudah tiga hari kamu tidak ke sini, apakah kamu tidak merindukanku?” tanya Noe malam ini saat aku datang kepadanya. Aku bilang bahwa sedang banyak tugas dan tes, aku tidak berbohong untuk itu. Dia menyentuh tanganku, bilang bahwa merindukanku. Aku hanya mengangguk, lalu seperti biasa dia bercerita banyak. Tapi aku tidak. Kami berayun-ayun hingga larut. Memandang langit Jakarta tanpa bintang.

Hari berikutnya aku datang lagi, melakukan hal yang sama. Tidak ada perbedaan apa-apa. Yang berbeda hanyalah ketika aku mulai menjejakkan kaki di halaman aparteman yang penuh dengan rumput ilalang tinggi-tinggi. Aku mulai melihat ada kaleng cat yang tersungkur, berair. Aku tak melihat warna air itu, tapi aku yakin pasti hitam pekat. Kudengar suara-suara binatang di sekeliling. Saat memasuki lobi apartemen yang masih bersemen kasar, aku merasakan kekosongan. Aku bergerak maju. Seperti banyak mata yang melihatku. Lampu portabel yang kubawa menerangi langkah. Kulihat seekor kucing di ujung ruangan, sebelum aku naik tangga, memandangku. Matanya yang tajam semakin bersinar karena cahaya lampu. Aku naik tangga, beberapa lantai, banyak lantai, aku baru merasakan kelelahan setelah naik hampir delapan belas lantai.

Tapi tidak ada Noe di sana. Aku maju, memeriksa ayunan itu. Tidak ada dia. Kulihat sekeliling. Puncak apartemen yang luas, kosong, dan sepi.

“Kamu datang,” kata suara berat di belakangku. Aku menoleh, melihat Noe. “Kukira kamu tidak akan datang lagi.” Dia mendekat, semakin mendekatiku. Aku tak bersuara. “Kukira hanya aku saja yang beranggapan yang tidak-tidak. Mengapa kamu sedikit berbeda, pendiam, tidak pernah datang lagi kepadaku?” Dia tersenyum, lebar, bukan senyum yang biasa aku lihat. Lalu dia menyentuh tanganku, menyentuh wajahku, membelainya. “Kamu tahu kan, aku mencintaimu?”
Aku tak menjawab. Aku mundur perlahan, sedikit. Dia mengikutiku.

“Kamu tahu itu, kan. Kamu tahu itu, kan?” dia berteriak di depanku, aku menutup mata. Dia memegang rambutku lembut, lalu dia menekannya, dan memegang kepalaku.

“Noe, lepaskan,” kataku.

Tapi dia tak mendengarkan. Dia semakin mencengkeram kepalaku. Aku sedikit berontak, menolak. Lalu aku melihat matanya yang memerah, menatapku. “Aku melihatmu sore ini,” katanya. “Bersama laki-laki itu. Teman?” Dia menyeringai kecil. Dia melepaskan genggamannya, aku mundur. Dia berbalik arah.

“Dia kakak kelas, namanya Mahesa. Hanya teman. Seperti yang lain.”

“Kamu tidak pernah menceritakannya padaku. Padahal semuanya telah kamu ceritakan. Kamu menceritakan semua. Menceritakan tentang teman-teman kelasmu yang tak pernah mau mendekatimu, tidak pernah mau sekelompok denganmu, tentang Vera yang sangat membencimu karena pacarnya pernah menyukaimu saat kelas sebelas, dan dia akan menakuti setiap orang yang akan mendekatimu. Menceritakan tentang ayahmu yang telah pergi dengan perempuan lain...”

“Noe cukup, aku tidak suka dengan ini.”

“....dan ibumu yang selalu pulang dengan keadaan mabuk dan diantar oleh pemuda di bawah umur, berciuman lama di mobil, atau bercinta di ruang tamu.”

“Noe cukup,” kataku sedikit meninggi.

“Dan semua orang yang menganggapmu anak haram.”

“NOE CUKUP,” aku membentak, dan menangis. Aku memandang matanya, dia memandang mataku. Aku sesegukan menahan tangis yang keluar.

Noe maju ke depan, matanya tampak kembali bersinar. Mendekatiku, meraih tanganku, aku mengibaskannya, lalu dia meraihnya lagi, meraih tubuhku, lalu memelukku. “Maafkan aku, maafkan aku. Aku hanya takut kehilang kamu, Sayang. Jangan tinggalkan aku. Hanya aku yang peduli denganmu, kan? Hanya aku yang peduli denganmu.”

Aku menangis, sambil terus memeluknya.
# # #

Minggu siang itu, Kak Mahesa membawaku ke tempat yang belum pernah aku datangi. Sebuah bangunan tua di luar kota, tak berpenghuni, eksotis karena batu-batu warna merah yang menyusunnya. Bangunan itu tidak terlalu tinggi, berada di atas bukit kecil, cukup untuk melihat hijaunya pohon-pohon dari kejauhan, jernihnya air sungai yang mengular dan bersembunyi di antara rerumputan lebat, awan putih berarak berlatar langit biru.

Aku tak tahu mengapa aku menyetujuinya, tapi malam itu setelah aku bertengkar dengan Noe, aku menangis semalaman, dan dini hari Kak Mahesa membuat pesan di Facebook. Dia mengirimiku sebuah foto pemandangan langit biru yang indah dengan hamparan pohon-pohon hijau. Dia tak meminta apa-apa, aku tak membalas pesannya hingga dua hari. Kami tak mengobrol di sekolah, tapi begitulah memang yang sebenarnya. Dia hanya sesekali datang waktu di perpustakaan atau di kantin, tapi itu sebenarnya cukup. Tapi hari setelah ia mengirimiku pesan, aku tak menemuinya. Hingga malam hari, dia mengirimiku pesan lagi. Kamu baik-baik saja? Aku hanya menjawab Iya, jangan khawatir. Dan dia menjawab Aku akan selalu ada kalau kamu membutuhkanku. Aku mengiriminya foto yang kemarin Mahesa kirimkan untukku. Di mana ini? Bagus. Damai. Dia menjawab. Mau ke sana akhir pekan ini? Dan tanpa berpikir apa-apa, aku menjawab boleh deh.

Hamparan pemandangan di depan kami terlihat menenangkan. Kak Mahesa sibuk dengan lensanya, sementara aku sibuk melihat-lihat saja. Kami hampir tak mengobrol. Aku memang sedang tak ingin mengobrol dengan siapapun. Kami memakan snack yang kami bawa dan dua botol minuman bersoda.

Di tengah keheningan kami, hampir tiga puluh menit, dia meminum soda. Lalu dia bersendawa cukup keras, membuatku menoleh. Dia menatapku, terkejut, lalu aku tertawa. Begitulah kemudian dia ikutan tertawa lepas sore itu.

Langit mulai menjingga, udara mulai dingin. Kami memandang ke depan, kadang memejamkan mata, tanpa suara. Dia memegang tangan kiriku, meremasnya lembut, dan aku membalasnya. Dia memandangku, dia memandang diriku sendu.

“Aku jatuh cinta,” katanya, perlahan, menyusupi angin-angin dan gemerisik daun-daun. Aku menelan ludah. Kak Mahesa merapatkan tubuhnya, lalu bibirnya menciumku pelan. Aku membiarkannya, memejamkan mata, merasakan aliran listrik di sekujur tubuhku. Lalu aku melonggarkan genggamanku, karena menyadari sesuatu. Dia terlihat sedikit terkejut, lalu dia tersenyum kecil. “Maaf. Aku hanya...aku hanya nyaman bersamamu.” Lalu dia tanpa meminta apa-apa, memalingkan wajahnya, memandang hamparan pemandangan.

Aku tak berkata apa-apa. Tapi aku tidak marah kepadanya, aku tak tahu mengapa. Sisa sore itu, kami membahas hal lain, seolah melupakan apa yang sudah terjadi.  

“Apakah kamu punya rahasia yang tak ingin orang lain tahu?” tanya Kak Mahesa kepadaku. “Aku punya, apakah kamu ingin tahu rahasia terbesarku?” tanya Kak Mahesa.

Aku mengangkat bahu.

“Ayolah, nanti aku akan menceritakannya juga kepadamu.”

Aku memandang ke atas, mencari-cari. Aku tak pernah punya rahasia, tak pernah. Hidupku kubiarkan mengalir seperti air, begitu saja pergi, begitu saja hilang. Lalu aku ingat rahasia kecil yang kusimpan sendiri sejak kecil. Rahasia yang kusimpan setelah ayah pergi.

Sore ini, aku menceritakan pada Kak Mahesa.

Umurku belum genap lima tahun saat aku setiap hari harus melihat ayah dan ibu bertengkar. Piring terbang, kursi patah, dan gelas pecah adalah pemandanganku sehari-hari. Suasana makan pagi yang menyenangkan, karena tentu saja aku akan bertemu dengan teman-temanku di TK, berubah menjadi perang besar. Adu mulut, kadang berakhir dengan ibu menangis. Mukanya penuh warna hitam karena make up yang luntur, ayah membanting kursi, suatu hari TV, lalu pergi. Malam-malam setelah berbulan-bulan hal itu terjadi, ayah jarang pulang. Lalu tak pernah pulang lagi. Ibu pun begitu, pergi, kembali saat larut, pulang dalam keadaan tak sadarkan diri diantarkan oleh seorang kawan, atau kadang lelaki muda. Aku pernah melihat ibu berciuman lama di mobil, di garasi. Saa itu aku berumur lima tahun. Lalu suatu malam, aku terbangun saat ada suara-suara aneh di kamar tamu. Aku menuruni keluar kamar, berdiri di ujung tangga, dan melihat ibu sedang bersama laki-laki muda, tanpa busana.

Aku meringkuk seorang diri di kamar, kadang hanya ditemani oleh Mbok Minah. Ibu menjadi tak terkontrol, aku sering menjadi sasaran kemarahannya. Aku kadang dijambak, dibentak, didorong. Dia tak pernah mempedulikan saat aku menangis.

Setelah berbulan-bulan aku terbiasa sendiri, aku mulai membayangkan ayah hadir kembali. Beliau datang, membawa boneka, tersenyum lebar, mendongeng sebelum tidur, menanyakan kegiatanku di sekolah, dan mencium keningku. Aku membayangkannya setiap malam.

“Sampai di satu titik, aku seperti menyadari bahwa dia seperti benar-benar ada,” kataku.

Kak Mahesa tak berkata apa-apa. Aku pun tak mengharapkan dia mengatakan apa-apa. Tapi ada rasa lega di dadaku setelah menceritakan rahasia itu, setelah hampir dua belas tahun kusimpan sendirian.

“Jadi, sekarang giliranmu, Kak Mahesa,”

“Aku bisa melihat hantu,” katanya kemudian. Hening. Lalu aku tertawa mendengar jawaban konyolnya.

“Kamu konyol. Aku menceritakan hal yang serius, dan kamu menceritakan bahwa kamu bisa melihat hantu.”

“Kamu mungkin tak percaya itu, tapi aku benar-benar bisa melihatnya.” Lalu dia menceritakan pengalaman-pengalamannya waktu kecil ketika melihat hal-hal yang misterius. Dia pernah melihat seorang anak kecil menangis dengan muka penuh belepotan darah, di tengah jalan, menangisi tubuh ayahnya yang terkabar, dan melihat tubuhnya sendiri yang terbelah menjadi dua di depannya. “Dia sudah menjadi hantu,” kata Kak Mahesa.

“Ini bukan percakapan yang baik menjelang maghrib, Kak Esa,” kataku, mengingatkan. “Dan hari ini kamu banyak bicara.”

Dia memandangku. “Aku banyak bicara saat aku jatuh cinta,” katanya tersenyum.

Hari ini, jantungku berdetak dua kali lebih cepat.
# # #

MAHESA
Mahesa tiba di rumah pukul sebelas. Rumah masih sepi seperti biasa, dia mengendap memasuki kamar tamu, berharap Bi Minah tak mendengarnya, lalu dia naik ke lantai dua menuju kamarnya. Mahesa menaruh tas kamera dan jaketnya di meja. Perjalanan dua jam dari luar kota membuat tubuhnya lelah. Dia ingin segera mandi, berganti pakaian, dan tidur. Besok dia harus berangkat pagi-pagi ke sekolah, karena dia tadi sudah berjanji akan menjemput Alena.

Dia melepas semua pakaiannya, hingga tersiksa boxer. Dia menyambar handuk, lalu pergi ke kamar mandi. Dia melepas boxernya, berdiri di bawah shower, dia merasakan air hangat merasuki tulang-tulangnya, merembes dari ubun-ubun hingga ujung jari kakinya. Dia menggosok tubuhnya perlahan, sambil merasakan kesegaran yang menyusupinya. Sesekali dia meringis saat air hangat mengenai biru-biru lebam di tubuhnya. Anak lelaki memang harus terbiasa merasakan sakit, begitu ia berkata dengan dirinya sendiri. Dia menekan lebam itu, sambil membayangkan Papanya berdiri di depannya dengan muka garang, membawa ikat pinggang yang sempat mendarat beberapa kali di punggung Mahesa. 

Sore ini, indah. Dia tersenyum. Membayangkan tubuhnya yang menegang, kaku, jantungnya yang mendadak berlari cepat, merasakan kecanggungan yang ia tutupi dengan cerita-ceritanya.
Mahesa mengambil shampo, menuangkannya di kepala, lalu menggosoknya perlahan, matanya masih menutup, dan dia bersiul kecil.

Gemericik air membuatnya tak mendengar, ada langkah kaki tanpa alas yang mendekati Mahesa, pintu kamar mandi terbuka perlahan, kaki putih bersih dengan kuku-kuku yang dipotong rapi mendekat perlahan. Melihat dengan mata merah, dia semakin dekat dengan Mahesa yang sedang berada di bawah shower. Tangan putih menempel di kaca pembatas, menghapus kabut yang tercipta karena air panas. Tangan yang lain meraih saklar lampu, lalu memadamkannya.

“Hei, siapa yang memadamkan lampu? Apakah mati lampu, astaga PLN mengapa harus mematikan lampu saat aku sedang kramas?” Mahesa berjalan perlahan, meraba-raba dinding kaca, matanya perih, dia meraba saklar di dinding, matanya yang perih terbuka berbarengan dengan lampu yang menyala. Dia melihat sosok pria berwajah pucat di kaca kamar mandi. Tepat di belakangnya.

Mahesa buru-buru mengucek matanya, dan memastikan apa yang ia lihat. Tidak ada siapa-siapa, lalu dia menoleh ke belakang dan memang tidak ada siapa-siapa. Dia menghela nafas lega, lalu melanjutkan mandinya yang tertunda. Mahesa mempercepat mandinya, dia keluar dari kamar mandi, lalu menyambar kaos warna putih di kursi. Dia mematikan lampu kamar hingga menyisakan lampu tidur, naik ke atas tempat tidur, melupakan apa yang telah terjadi. Di luar hujan lebat.

Mahesa menarik selimut hingga ke dadanya. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Kameranya menyala, dia melihat-lihat beberapa foto yang ia ambil siang hingga sore tadi. Dia tersenyum kecil saat menyadari bahwa hasil fotonya didominasi oleh wajah Alena.
Alena. Alena. Seharusnya ia bisa membawa Alena ke rumah, mengenalkan pada papanya. Dia meringis kecil. Mungkin itu terjadi di kehidupan anak remaja lain, tidak dengan dirinya. Dia menggeleng kecil, lalu menaruh kameranya di meja. Selimut kini membungkus tubuhnya hingga menyisakan kepalanya.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan singkat. Besok aku ingin mendengar berita langsung darimu. Mahesa menarik nafas dalam-dalam, ia tak ingin malam cepat berganti pagi. Ia tak ingin bertemu dengan siapapun besok. Bahkan dengan Alena sekalipun. Dia membanting ponselnya di atas kasur, lalu dia membenamkan kepalanya di bawah bantal.

Cekrek.

Mahesa mengangkat bantalnya karena mendengar suara itu, menyembulkan kepala keluar, melihat kamarnya yang temaram. Tidak ada apa-apa. Dia kembali membenamkan kepalanya, memejamkan mata, merasakan tubuhnya yang mulai lelah tapi tidak bisa diajak kompromi karena kantuk yang tak kunjung datang. Hujan masih deras, kadang diselingi dengan petir yang menyambar.

Cekrek. Suara itu lagi. Mahesa sangat yakin bahwa itu adalah suara dari kameranya. Mahesa bangkit berdiri, lalu mengambil kameranya memeriksanya. Aman. Tidak ada apa-apa, dan dia kembali ke tempat tidur. Dia terpaksa tidak menutupi kepalanya, melihat ke sekeliling. Dia tidak pernah takut dengan hal-hal mistis, karena sejak kecil dia sudah mengakrapinya.

Cekrek. Cekrek. Cekrek. Mahesa menoleh ke arah kameranya. Layarnya menghadap ke arahnya. Kini layar itu sudah menyala, menampikan slideshow foto-foto yang ia ambil tadi. Mahesa mengambil kamera itu, memeriksanya, layar masih menyala. Slideshow masih terjadi, lebih cepat. Lebih cepat. Mahesa menggoyang-goyangkan kameranya. Slideshow berhenti. Menampilkan foto Alena seluruh tubuh yang menatapnya. Foto terakhir yang ia ambil, saat Alena mengelak dan mengejarnya.

Mahesa memandang foto itu. Kameranya tampak baik-baik saja. Lalu foto itu mendadak membesar sendiri, perlahan, sangat perlahan. Tubuh Alena yang tersenyum mendekat, semakin dekat.

Mahesa tercengang saat melihat ada tubuh lain di belakang Alena yang terlihat. Seorang pria dengan wajah pucat, mata merah, dan senyum menakutkan. Pria berbaju putih panjang.
# # #
                  
AKU.
Aku kembali dari kantin seorang diri, jam istirahat hampir selesai, dan tadi aku sangat lapar. Tadinya aku tak berniat ke kantin, tapi aku putuskan untuk membeli beberapa roti dan air mineral. Aku kembali ke kelas, melewati ruang laboratorium fisika yang sepi. Di gang sebelah laboratorium, aku melihat segerombolan anak kelas dua belas yang sedang duduk-duduk. Aku pura-pura tidak melihat mereka. Mereka tertawa lepas, aku mempercepat langkahku dan berharap tak ada yang melihatku.

Salah satu dari mereka memanggilku. Aku berhenti, menoleh, melihat gerombolan itu. Ada Vera, Kak Andre, semua orang yang selalu bersama mereka, dan aku melihat Kak Mahesa di antara mereka yang juga tertawa.

Aku berniat pergi, sampai ada seorang lelaki yang mencegat langkahku, dia berdiri tepat di belakangku, lalu menyentuh daguku kasar. Orang-orang tertawa saat melihatku mengelak.

Kak Andre mendorong tubuh Kak Mahesa ke arahku. “Jadi, kamu belum tidur dengannya juga? Lama sekali. Kalo aku itu kamu, sudah dari minggu lalu kulakukan, Sa,” Kak Andre tertawa, disusul yang lain. Kak Mahesa berdiri di depanku. Kak Andre merangkul Mahesa, “Tapi kamu sudah meremasnya, kan?” Tangan Kak Andre mencubit dada Kak Mahesa. Kak Mahesa hanya membalas dengan senyuman kecil, lalu mengangguk.

Vera menjejeriku. “Dan gadis kecil ini pasti berpikir bahwa Mahesa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Kamu jangan terlalu berharap ya, Sayang,” Vera merangkulku. Tubuhku menegang, tak mengerti dengan apa yang telah ia ucapkan.  

“Tapi sayang, hari ini adalah hari terakhir perjanjiannya, Esaku Sayang. Jadi kamu harus mentraktir kami hari ini,” Kak Andre mendorong tubuh Kak Mahesa menjauh dariku. Semua orang tertawa, menatapku, berkata tentang tubuhku. Seorang wanita menyenggol diriku, yang lain meremas pantatku sambil berbisik-bisik. Dia benar-benar seperti ibunya, dia pasti suka menggoda wanita. Cowok-cowok kalian harus hati-hati dengannya.

Aku mundur, mataku panas. Aku menatap Mahesa menjauh, sekilas dia menoleh ke arahku, tertawa lebar, lalu Kak Andre memalingkan kepala Kak Mahesa. Mahesa menurut saja. Aku mengepalkan tanganku kencang, menahan mataku yang memanas. Noe, kamu di mana?
# # #

ANDRE
Motor sportnya melaju kencang di atas jalanan mulus, melewati bus-bus dan mobil-mobil. Di belakangnya, Vera memeluknya erat, kadang menciumi telinganya. Andre berteriak kencang, merasakan kegelian. Vera mencubit pinggang Andre. Hari sudah larut. Gerimis menemani mereka.

“Kamu kedinginan, Sayang?” tanya Andre, berteriak. Vera membalas dengan pelukan. “Apakah kamu mau tidur di tempatku saja?” tanya Andre. Vera mencubit pinggangnya. Andre berteriak kegelian.

Mereka tidak tahu, ada seseorang yang akan menghadang mereka di depan. Mereka berdua tidak tahu 300 meter di depan mereka, ada seorang lelaki dengan baju putih lengan panjang, mata merah, dan senyum menakutkan.

Dua ratus meter lagi.

Motor sport Andre melaju kencang, di atasnya sepasang kekasih tertawa bahagia. Seratus meter, lima puluh meter. Mereka tertawa.

Sepuluh meter. Lamput motor menyorot ke depan, seorang lelaki maju, Andre mendadak mengerem motornya, jalanan yang licin membuat motor itu sedikit goyah, lalu miring ke samping, dan terseret jauh beberapa meter.

Lelaki berbaju putih semakin dekat, tertawa kecil.

Lampu sorot mobil dari sebuah bus yang berlawanan arah menyambar tubuh Andre dan Vera, membelahnya menjadi keping-keping kecil.
# # #

AKU.
Malam hari. Di atas apartemen. Aku berjalan terseok, menahan tangis yang sudah sejak sore kutahan. Sesampainya di sana, aku tak melihat Noe. Aku duduk di ayunan, merasakan kegetiran, kemarahan, yang bercampur menjadi satu.

“Kamu datang, Alena,” suara Noe menyadarkanku, lalu memeluknya. Memeluknya erat sambil menangis. Kutumpahkan kemarahanku hari ini kepadanya.

“Bukankah sudah kukatakan padamu, hanya aku yang peduli denganmu, Alena. Hanya aku. Tidak ada orang lain.” Noe membelai rambutku dan aku semakin menangis. Malam itu, kami berdua saja, Noe bercerita lagi. Menenangkan hatiku, dan mungkin itulah yang saat ini kubutuhkan.

“Kamu kenapa?” tanyaku, setelah semuanya menjadi sedikit lebih baik. Kulihat baju Noe kotor, ada bercak merah di bawah. Dia menggeleng, lalu mengulurkan tangannya yang berdarah.

“Jariku terluka,” katanya. “Tidak masalah. Sekarang, hanya kamu yang kupikirkan. Aku senang melihatmu sudah tersenyum lagi, Alena.” Dia membenamkan kepalanya di dadanya.

Aku pulang tengah malam. Rumah masih sepi, tapi lampu ruang tamu menyala. Aku melihat Mbok Minah tertidur di sofa. Aku membangunkannya perlahan. Beliau menyerahkan kardus kecil saat sudah terjaga. Kata Mbok Minah tadi ada seorang cowok yang datang, menitipkan kardus itu, Sebuah kamera. Aku tahu kamera itu adalah kamera Mahesa.

Aku memeriksa ponselku di kamar. Ada 33 missed call dari Kak Mahesa. Dan pesan. Telepon aku jika kamu membacanya. Aku minta maaf.

Aku membacanya perlahan.

Aku menitipkan kamera ke Mbok Minah. Semua foto di sana adalah tentang kamu. Aku harus jujur, aku sudah jatuh cinta. Tapi ini semua karena Andre, aku tahu aku salah. Aku telah menyetujuinya, karena aku takut.

Pesan lain. Aku tahu kamu tak akan percaya itu. Kabari aku secepatnya, Alena.

Aku membaca pesan lain dari Kak Mahesa.

Aku menemukan hal aneh di fotomu. Perbesar saat kamu melihat. Kabari aku jika kamu sudah melihatnya. Ada di foto terakhir.

Aku memandang kamera Kak Mahesa.

Aku meraih kamera Kak Mahesa, memeriksanya semua foto yang ada di sana. Semua adalah foto tentang aku. Aku yang tertawa. Aku yang tersenyum, aku terlihat manis. Mengapa aku baru menyadari bahwa aku memang manis? Ada garis ibu dan ayah.

Foto terakhir. Aku melihat diriku sedang tertawa, bukan foto candid, tapi aku seperti berpose aneh. Aku tertawa kecil melihat itu. Sore yang indah, menyenangkan. Dan aku tak menemukan keanehan dalam foto itu.

Aku menemukan hal aneh. Perbesar saat kamu melihat. Aku memencet tombol perbesar di body kamera. Satu kali, belum terlihat. Dua kali, belum terlihat. Tiga, empat, dan semakin terlihat jelas ada Noe di belakangku.

Aku pernah mengatakan padamu kan, aku pernah melihat hantu. Pesan Kak Mahesa yang terakhir di ponselku.

Angin semilir masuk ke dalam kamar, menerbangkan tirai-tirai putih. Aku tersentak saat menyadari ada seseorang yang sudah berdiri di dekat jendela, menatapku. Noe, ucapku lirih. Apa yang kamu lakukan di sini? Aku menutup kamera Kak Mahesa.

“Aku merindukanmu, Alena. Aku masih ingin bersamamu, mendengarkan semua masalahmu. Aku ingin memelukmu.”

“Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?”

Noe tersenyum lebar, matanya tampak merah, dan wajahnya sedikit pucat. Kudengar ponselku bergetar di atas kasur. Aku meliriknya. Group di kelas yang mendadak ramai.

“Noe, apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku ingin menolongmu, Alena.”

Aku teringat foto di kamera Kak Mahesa. Teringat wajah Noe yang pucat, merah, dengan mata merah menakutkan. Aku menarik tubuhku. Noe maju selangkah, baju putihnya kotor.

“Kamu pergi Noe,” kataku perlahan. Noe berhenti. “Apa yang kamu lakukan sebenarnya?”

Noe tertawa kecil, tapi suaranya menggema memenuhi kamarku. “Bukankah kamu yang menginginkan aku ada?” Dia mendekat, aku menarik kakiku tapi terlambat, dia memegangnya erat-erat. Aku memohon untuk dilepaskan, tapi  Noe justru menariknya, dan dia sekarang tepat di atas tubuhku, mengunci tanganku. Aku memberontak, berteriak meminta tolong, lalu dia menekan tubuhnya, membungkam mulutku. Kakiku menendang-nendang, mencari cara untuk lepas darinya.

Noe mengangkat tangannya. Ada sebuah benda keras yang menghantam kepalaku,  
# # #

Yang terlihat di depan mataku adalah hamparan langit biru, pohon-pohon hijau, dan suara cicit burung. Angin semilir menerpa rambutku yang dikepang dua, menerbangkannya. Aku berlari di atas rerumputan, berkejaran dengan balon warna-warni. Di depanku, di atas ayunan taman, ibu dan ayah tertawa lepas memanggil-manggil namaku.

“Kemari Alena...”

“Kemari Alena Kecil, Sayangku...”

Aku berlari, menangkap balon satu persatu, tertawa lepas. Aku seperti sudah berlari cepat, tapi langkahku ternyata kecil-kecil. Jarak ke tempat ayah dan ibu begitu jauh. Saat aku sampai, ayah turun dari ayunan, lalu menangkap tubuh kecilku, mengangkatku. Aku terbang di udara. Aku tertawa lepas. Ibu tertawa lepas.

Alena, bangunlah, jangan pernah hidup dalam mimpi.

Tubuhku terbang ke atas, semakin ke atas, ringan, sangat ringan. Lalu mataku terbuka, dan aku seperti terjatuh sangat cepat ke bumi.

Nafasku tersengal-sengal.

Aku tak bisa bergerak, tubuhku terikat. Aku duduk di atas ayunan di atas apartemen tak bertuan. Di sampingku, ada Noe yang duduk dengan tenang, mengayunkan ayunannya.

“Hai, Alena Sayang.” Noe tersenyum ringkih. Dia memandangku. Aku menangis, apa yang ia lakukan. “Kini kita akan hidup bersama, abadi bersama. Hanya ada aku dan kamu. Hanya ada kita. Hanya aku yang peduli denganmu. Bukan teman-teman SMA-mu yang jalang, bukan ayah ibumu yang meninggalkanmu, bahkan pacar rahasiamu  yang telah merebutmu dariku.” Dia menatapku marah, matanya merah. “Hanya aku, dan kamu.”

Noe berdiri, lalu menuju ke arahku, membelai wajahku yang memanas. Aku sudah tak bisa mengeluarkan air mata. Aku hanya menahan sakit. Dia mengelus pipiku, lalu membelai rambutku. “Hanya ada aku, dan kita. Ucapkan itu,” katanya pelan.

Aku tergugu, tangisku pecah.

“Hanya aku yang peduli. Ayo ucapkan itu, Sayang. Kita akan hidup abadi, kan?”

“Pergilah,” kataku.

“Ucapkan, kita akan hidup bersama.”

“Pergilah,” aku berteriak. Aku meludah ke depan. Mengenai mukanya. Noe berdiri menegang, menatapku. Kurasakan tubuhku mengeras.

Noe berdiri mematung, lalu mengelap ludah di mukanya. Dia mundur, beberapa langkah, menuju kursi yang sedang diduduki oleh Kak Mahesa yang terikat. Mulutnya diperban. Noe melepas perban itu dengan paksa. “Kamu berubah sejak ada laki-laki jahanam ini. Jadi hari ini aku pun akan menyingkirkannya dan nantinya hanya ada kita.”

“Kamu gila,” Kak Mahesa berteriak.

Aku tercengang melihat muka Mahesa yang biru-biru. Matanya bengkak sebelah, dan ada darah mengucur merah di sudut bibirnya.

“Noe, Noe, hentikan ini. Aku mohon, lepaskan dia, lepaskan dia. Aku akan bersamamu, tapi lepaskan dia,” aku memohon, berteriak lirih.

Noe tertawa kecil, tertawa memenuhi udara malam itu. Dia mengambil pisau dari jaketnya. Pisau kecil yang mengkilat. Lalu dia mendekat ke arah Kak Mahesa. Aku berteriak-teriak saat dia menggores wajah Kak Mahesa dengan pisau itu. Kak Mahesa mengerang. Darah muncrat dari pipinya, mengotori baju Noe yang putih.  Noe mengarahkan pisau itu ke jidat Mahesa, ujungnya menekan pelan ke pelipis, lalu dia membuat garis ke bawah melewati hidung bibir, dagu, leher. Noe merobek baju sekolah Kak Mahesa, lalu menekan pisau kecilnya di dadanya, kembali membuat garis hingga ke pusar. Kak Mahesa berteriak-teriak, aku menjerit memohon agar Noe menghentikan itu.

“Aku yang selalu peduli padamu, Alena. Bukan lelaki ini. Aku yang selalu ada untukmu Alena.” Noe menampar pipi Kak Mahesa beberapa kali. Mahesa terengah, mukanya terkulai lemas ke samping, keringat membanjiri tubuh dan wajahnya.  

Sesuatu yang kamu bayangkan terus menerus, lama kelamaan akan menjadi nyata, Alena. Apakah kamu pernah membaca The Secret? Ucap Kak Mahesa sore itu, sebelum kami pulang dari perjalanan ke luar kota. Semburat jingga telah berubah menghitam. Suara adzan berrsahutan dari kejauhan.

“Kamu tidak nyata Noe, kamu hanya bayang-bayang yang kuciptakan sendiri,” ucapku di tengah keputusasaanku. “Aku mohon.”

Noe menyeret kursi yang diduduki Kak Mahesa, membawanya ke tepian gedung. Mahesa tak melawan, tubuhnya terlihat lemah.

“Noe, kamu tak pernah ada.” Aku berteriak.

Noe berhenti melangkah, melepaskan genggamannya. Dia memandangku dari kejauhan. Lalu berjalan ke arahku. Dia menangis. “Jika aku tidak ada, kamu pun akan mengalami hal yang sama, Alena. Dia mengepalkan tangannya, mengacungkan pisaunya tinggi-tinggi. Pisau itu tampak mengkilap. “Kamu akan binasa bersamaku. Gadis yang malang, gadis yang selalu menderita sejak kecil, kamu akan lebih baik bersamaku, bersama orang yang hanya menjadi bayang-bayang. Kamu tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang nyata, Alena. Kamu hanya akan hidup dalam hal-hal yang kamu bayangkan.” Noe tertawa keras.

Dia maju. Semakin mendekat ke arahku. Aku menangis. Memejamkan mata. Bayangan ayah dan ibu berkelebat dalam kehitaman. Mereka menjauh, melambaikan tangan ke arahku.  

“Kamu tak pernah ada,” kataku pelan. Kamu tidak ada.
# # #

KORAN HARI INI
Seorang wanita (43) ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Tercium bau alkohol dari sekujur tubuhnya. Diperkirakan wanita itu tewas pada pukul 23.00. Ditemukan sejumlah luka di tangan kanannya dan tercium bau gas di dalam mobil. Saat ini Polisi sedang menyelidiki kasus ini. Menurut kesaksian Asisten Rumah Tangganya, korban sebelumnya tampak bersama seorang pemuda berbaju putih sedang berbincang di mobil pada pukul 22.00.

BERITA DI HALAMAN LAIN
6 (enam) siswa ditemukan tewas, dan dua diantaranya mengalami kondisi kritis, di toilet sebuah Sekolah Swasta Elite di Jakarta. Diduga penyebabnya adalah keracunan gas beracun. Tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam kasus ini. Polisi tengah menunggu perkembangan dari dua korban yang saat ini dirawat intensif di Rumah Sakit.

EPILOG
Ayunan itu tampak bergerak-gerak, ditiup angin malam. Apartemen tak berpenghuni. Malam tak berbintang di ibu kota. Pintu berderit terbuka, menampakkan seorang laki-laki yang berjalan gontai, keluar ke puncak aparteman.

Laki-laki itu berjalan perlahan ke tepi gedung, berdiri menantang bumi, selangkah lagi dia akan terbang bebas, lalu mendarat ke atas tanah. Tangannya merentang ke samping. Dia merasakan kedamaian, setelah sehari sebelumnya, kekasihnya yang akan dinikahinya minggu depan, terlihat sedang bermesraan dengan sahabatnya sendiri.

Aku pamit, aku akan pergi. Dia memejamkan mata.

“Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah,” kata seseorang. Laki-laki itu menoleh, melihat seorang wanita bergaun putih bersih, rambut panjang tergerai, sedang duduk di atas ayunan.
Wanita yang selalu ia impikan.

# # #

[ SELESAI ]

- W -
AKU TAHU KAMU HANTU AKU TAHU KAMU HANTU Reviewed by Wignya Wirasana on 10/29/2017 Rating: 5

2 comments:

Powered by Blogger.