#JADIBISA CERITA TENTANG MIMPI-MIMPIKU DI IBU KOTA DENGAN IBU


Inilah jatuh cinta pertamaku. Dialah wanita hebat yang telah mencuri hatiku, sejak kali pertama aku mengenal hari. Wanita itu, ibu. Saat aku dewasa, dan seorang kawan bilang pergilah mencari uang ke negeri orang, lalu kulakukan, satu hal yang kuingat adalah di manapun kakiku berada, maka langitku adalah ibu.

Kawan, bercerita tentang Ibu memang tak pernah ada habisnya. Buatku yang sedang merantau di ibu kota, menceritakan Ibu sama halnya melepaskan rindu-rindu. Orang yang selalu kusebut dalam doa, yang pertama kupikirkan setelah gajian tiba.


Jika harus memilih, kok rasa-rasanya pengen saja mengulang kejadian di pagi hari, saat aku masih tidur, dan ibu memasak sambil berteriak-teriak membangunkanku. Jika harus kembali memilih, ya lebih baik diomelin ibu karena lupa menaruh kaos kaki sebelah, aku sibuk mencarinya ke sana kemari, sementara ibu seperti seorang pesulap langsung saja menemukannya.

Sungguh senang mengingat semua hal yang dulu ibu lakukan padaku. Beliau selalu punya cara untuk membuatku berprestasi di sekolah. Selalu bilang bahwa kami tidak punya uang untuk sekolah, jadi berprestasilah. Pagi-pagi sebelum aku berangkat ujian, ibu datang ke meja makan menyodorkan gelas kecil berisi kuning telor mentah untukku. “Biar bisa ujiannya,” kata beliau. Aku tak tahu apa manfaatnya saat itu, tapi kini aku menyadarinya. Bukan masalah telur banyak proteinnya, toh putih telur harusnya lebih banyak, tapi karena dari segelas telur itu ada do’a ibu untuk kesuksesanku.


Doa-doa Ibulah yang membawaku bekerja di salah satu perusahaan otomotif bonafit di negeri ini, bahkan aku diterima sebelum wisuda. Berkat doa beliaulah, aku selama delapan semester kuliah di Teknik Industri UGM tanpa biaya. Berkat doa-doa Ibulah, dulu aku tak pernah membayar SPP saat sekolah. Berkat beliau, aku punya kesempatan untuk pergi jalan-jalan, diving, hingga menjejakkan kaki ke negeri orang.

Sampai di satu titik, aku menyadari bahwa semua impian yang kugapai sekarang, salah satunya karena doa ibu. Jadi aku tak lupa untuk mengabari Ibu selama di perantauan, menceritakan tentang apa yang sedang kukerjakan, menceritakan tentang keinginanku untuk menjadi seorang penulis bestseller, cerita tentang Jakarta dan keriwehannya. Kepada Ibu, aku bercerita semua impian-impian di ibu kota.


Kucintai ibuku sepenuh hati, sepenuh hati saat beliau menyediakan kuning telur mentah untukku setiap dulu mau ujian. Kucintai beliau, meskipun ibu adalah orang yang sangat tradisional dan unik.
# # #

Ibuku adalah orang yang unik dan tradisional, Kawan-kawan. Mari kuceritakan tentang hal itu perlahan-lahan.


IBUKU ITU TAK INGAT TANGGAL LAHIRNYA
Suatu kali, aku membuatkan kejutan ulang tahun untuk atasan. Menghias ruangannya sampai tengah malam. Mencari kado dengan berjibaku dengan kemacetan Jakarta, pergi dari satu mall ke mall lain mencari hadiah yang disetujui oleh semua karyawan di bagianku. Esoknya, selesai membuat kejutan, aku duduk menikmati kue ulang tahun yang dibagikan. Seorang kawan datang dan tanpa basa-basi bilang, “Kamu bikin kejutan untuk atasan segitunya, buat orang tua udah pernah kayak gini belum?”


Aku tersentak, menyadari sesuatu. Hingga usia sedewasa ini, aku belum pernah sekalipun membuat kejutan ulang tahun Ibu. Aku pernah membuatkan video berisi foto-foto untuk seorang sahabat saat ulang tahun, tapi aku belum pernah membuatkan untuk Ibu. Aku pernah mencarikan kaset kesukaan wanita pujaan hati, jauh-jauh ke kota dari rumahku di Jogja selatan, mengantarkannya langsung ke rumahnya saat hujan lebat, tapi aku tak pernah memberikan hadiah apapun untuk ibu.

Setelah kuingat-ingat, aku tak tahu tanggal lahir ibu. Ironinya, ibu juga begitu. Beliau tak ingat kapan beliau lahir. “Ijasah dan akte saja tidak punya. Dulu itu, bisa sekolah saja sudah syukur to Le,” kata beliau sambil tertawa. Di KTP tertulis tanggal lahir Ibu 31 Desember. Itu juga katanya ngarang.


Suatu hari aku bertekad untuk menghadiahi beliau. Ibu tak pernah meminta, apa pun. Jadi, kubulatkan tekadku untuk membenahi rumah di Jogja yang masih semi permanen karena pernah rubuh saat Gempa Jogja tahun 2006. Akhirnya kuhadiahkan Ibu rumah sederhana di kampung halaman. Tidak mewah, tapi cukup membuat Ibu bahagia. Tak apalah merogoh uang tabungan, toh semua yang kudapat sekarang ini semua berkat doa ibu juga.


IBUKU TAK MAU NAIK KERETA API
Ibu pernah naik kereta, sekali saja. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Kami dan beberapa saudara akan menghadiri pernikahan salah satu saudara yang tinggal di Jawa Barat. Kereta ekonomi jaman itu, sangat berbeda dengan kereta ekonomi zaman now. Aku ingat saat harus berlari-lari mengejar kereta yang datang, susah payah naik ke gerbong, lalu bingung duduk di mana. Jadinya, aku dan ibu duduk dan tiduran di gang antar kursi. Sampai sekarang, ibu jadi takut naik kereta. Beliau trauma dilompati waktu tidur. Ibu lebih memilih naik bus.

Suatu malam saat aku menelepon, kuceritakan tentang enaknya naik kereta zaman sekarang. Aku bilang bahwa naik kereta sekarang enak, duduk satu-satu, dan beli tiketnya juga lebih mudah. Ibu hanya tertawa, tetap tidak mau naik kereta. Kata beliau, sekarang di rumah saja, sudah tua. Setiap mengingat kalimat ini, aku jadi selalu pengen pulang ke rumah.

Ibu juga sering bertanya tentang hal-hal lucu, misalnya di pesawat itu ada kernetnya nggak? Ah, Ibu, sesederhana dan setradisional apapun pertanyaanmu, aku tetap mencintaimu. Kujawab sesederhana mungkin pertanyaan Ibu, toh tetap saja beliau akan geleng-geleng kepala sambil tertawa.



IBUKU TAKUT AMBIL UANG DI ATM
Suatu hari aku minta ijin ke atasan untuk ke kantor POS. “Mau kirim wesel instan, Pak,” kataku. Sejak pertama kali gajian sampai detik ini, Ibu tak pernah mau dibikinin buku tabungan, apalagi ATM. Beliau takut kalau ambil duit di ATM. Jadi setiap bulan, aku harus pergi ke kantor POS.

Jarak kantor Pos dari rumah di kampung cukup jauh. Ibu harus naik sepeda sekitar dua dua puluh menit. Aku sering kasihan pada Ibu, jadi aku tetap membujuknya untuk bikin ATM. Meskipun beliau selalu menolak. Aku hanya bisa menurut.




VIDEO CALL? APA ITU?
Di Jogja, ibu sekarang ditemani ponakkanku yang masih SD. Rumah jadi ramai. Layaknya Kids Zaman Now, ponakanku itu juga sudah bisa menelepon, streaming youtube, dan melakukan video call kepadaku. “Video Call itu apa, Bran?” tanya Ibu pada Gibran, ponakkanku. “Ini lho, bisa nelpon si Om ada videonya,” kata Gibran sambil video call kepadaku. Aku pun jadi lebih sering video call dari pada menelepon. Melihat wajah-wajah Ibu dan Bapak saat kangen.




KATA IBU MENGISI PULSA HARUS DI KONTER PULSA
Ibu suka tiba-tiba menelepon, katanya habis beli pulsa di konter, jadi sayang kalau tidak dihabiskan. Beliau cerita apa saja. Aku juga bercerita tentang hari-hariku di ibukota, atau cerita tentang aku yang ambil sertifikasi diving.

“Kamu nyelam di laut? Hati-hati, lho.” Ya, namanya juga seorang ibu, pasti khawatir dengan anaknya, apalagi anak bungsu sepertiku. Aku bilang bahwa ibu tak perlu khawatir, aku akan selalu jaga diri. Kuceritakan saja keindahan Indonesia kepadanya. Tentang bagusnya alam bawah laut di Nias, Derawan, Wakatobi. Tentang asyiknya naik kano di Ujung Kulon. Hingga trip gratis ke Hongkong dari Kantor dan melihat Manchaster City latihan bola di sana.

Suatu malam, aku pernah ingin menelpon ibu, tapi kehabisan pulsa. Sudah jam delapan. Terpaksa harus beli pulsa di konter, jalan kaki ke luar kontrakan malam-malam. Malesnya, konter-konter sudah pada tutup.

Untungnya sekarang aku bisa isi pulsa via Traveloka. Tadinya aku tidak tahu. Tapi waktu itu, aku sedang ingin mencari hotel untuk liburan via Traveloka. Aku melihat ada menu isi pulsa di aplikasi Traveloka. Wah, sangat membantu sekali. Aku bisa isi pulsa kapan saja yang aku mau, terutama pas malam-malam kehabisan pulsa dan pengen menelepon Ibu di Jogja.

# # #


#JADIBISA BELI PULSA KAPAN SAJA DAN DI MANA SAJA
Awalnya aku hanya tahu bahwa Traveloka itu adalah agen pemesanan tiket pesawat dan hotel online. Aku jarang sekali sih memperhatikan beberapa fasilitas di sebuah aplikasi, aku hanya mencari apa yang kubutuhkan. Aku baru tahu, ternyata sekarang Traveloka memiliki beberapa layanan pembelian online, salah satunya pembelian pulsa dan paket data internet.


Membeli pulsa dan paket internet di Traveloka pun tidak ribet. Aku sangat terbantu sekali. Aku bisa melakukan transaksi di manapun dan kapan pun yang kumau. Mau di tempat tidur, di kantor, lagi nongkrong, atau bahkan saat liburan di luar kota sekalipun.

Jika harus membeli pulsa atau paket internet malam-malam, aku tidak perlu lagi keluar dari kontrakan dan mencari konter yang masih buka. Ibu juga jadi senang pas aku kirim pulsa tanpa bilang-bilang sebagai kejutan.

“Malam-malam kok kirim pulsa. Konternya masih buka?” tanya Ibu.
“Sekarang beli pulsa bisa di mana saja kok, Bu,” jawabku.


Intinya, aku sangat terbantu karena Traveloka. Termasuk dalam hal kerjaan. Sebagai seorang Marcomm yang harus update informasi setiap waktu dan sekaligus blogger yang harus tetap posting tulisan bahkan saat liburan, beli pulsa dan paket data internet di Traveloka sangat membantu. Saat liburan pun aku tetap bisa Video Call dengan Ibu di rumah. Aku jadi tidak khawatir lagi jika kehabisan pulsa atau paket data internet.


Cara membelinya pun cukup mudah. Aku bisa melakukannya di manapun dan kapanpun yang kuinginkan. Sistem pembayarannya juga beragam, jadi sangat praktis dan tidak ribet. Aku sih terbiasa pakai aplikasi Traveloka. Tapi versi web-nya juga ringan dan mudah kok.


Kamu yang masih bingung dan pengen tahu lebih banyak tentang Traveloka, coba saja cek infonya melalui beberapa chanel berikut.


Aku sendiri sudah menikmati keunggulan beli pulsa dan paket internet di Traveloka. Aku #Jadibisa lebih sering menelepon/video call dengan Ibu di Jogja. Sekarang giliranmu. 


- WIRRA -


#JADIBISA CERITA TENTANG MIMPI-MIMPIKU DI IBU KOTA DENGAN IBU #JADIBISA CERITA TENTANG MIMPI-MIMPIKU DI IBU KOTA DENGAN IBU Reviewed by Wignya Wirasana on 11/05/2017 Rating: 5

2 comments:

  1. Ibu...sosok berharga yg ingin selalu kita bahagiakan yah. Maaf, lucu yaa ibu kamu. Sampai2 gak tahu tanggal lahirnya. Ah...sama seperti Mbah kalau cerita kapan Mama lahir, "pokoke mari PKI ditangkapi tentara" hihi. Untung ada Traveloka...bisa selalu merasa dekat dg Ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali. Surga pun di bawah telapak kaki ibu.

      Lucu memang, tapi ya begitulah. Saya tetap bangga sama beliau.

      Delete

Powered by Blogger.